selasar-loader

Seberapa Efektif Tes Urine Narkoba pada Calon Kepala Daerah?

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal Mar 17, 2016

Publik kembali dikejutkan dengan berita penangkapan salah satu kepala daerah di wilayah Sumatera Selatan. Bupati berusia muda tersebut ditangkap karena masalah narkoba. Hal ini tentu saja menambah panjang daftar para pejabat yang tersangkut masalah narkoba setelah sebelumnya diberitakan salah satu anggota DPR disebut terkait penyalahgunaan narkoba. Akibat kejadian ini, proses seleksi calon kepala daerah dipertanyakan. Rumah sakit yang melaksanakan tes urine kepada para calon kepala daerah pun menjadi bulan-bulanan sehingga kredibilitas dan kompetensinya menjadi pertaruhan.

Kita semua mengetahui bahwa permasalahan narkoba telah menginfiltrasi sendi-sendi kehidupan di masyarakat. Tidak ada satu pun profesi yang selamat dari penyalahgunaan narkoba, termasuk di kalangan para pejabat publik negeri ini. Sebagai pejabat publik, seorang kepala daerah tentu memegang peranan strategis dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap kebijakan yang diambil akan berefek pada masyarakat. Proses penentuan kebijakan ini tentu saja membutuhkan daya pikir yang baik sehingga para kepala daerah diharuskan mempunyai kesehatan fisik dan mental yang baik. Hal ini pula yang kemudian menjadi sebab para calon kepala daerah menjalani serangkaian tes kesehatan baik fisik maupun psikis, termasuk tes narkoba di dalamnya, demi mewujudkan lingkungan kerja –utamanya di pemerintahan– yang bebas dari penyalahgunaan narkoba. Kebijakan Drug Free Work Place memang menjadi perhatian banyak pihak, baik instansi pemerintah maupun swasta, di dalam maupun di luar negeri. Kebijakan ini mempunyai semangat untuk mewujudkan lingkungan kerja yang aman untuk para pegawainya, dengan cara meminimalkan resiko kecelakaan kerja berkait dengan hazard di masing-masing lingkungan kerja.

 

Efektivitas Tes Urine untuk Seleksi Calon Kepala Daerah

Terdapat beberapa metode untuk melakukan pemeriksaan narkoba, yaitu tes melalui urine, darah, rambut, saliva (ludah). Masing–masing tes tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan. Metode yang paling sering dilakukan adalah tes urine. Tes urine menjadi primadona pemeriksaan narkoba dikarenakan metodenya yang tidak invasif dan mudah dilakukan. Namun demikian, terjadi miskonsepsi di kalangan masyarakat yang beranggapan bahwa tes urine adalah hasil final; penentu seseorang memakai atau menyalahgunakan narkoba.

"Namun demikian, terjadi miskonsepsi di kalangan masyarakat yang beranggapan bahwa tes urine adalah hasil final; penentu seseorang memakai atau menyalahgunakan narkoba."

Michael Frone penulis buku Alcohol and Illicit Drug Use in the Workforce and Workplace memberikan kritik terhadap pelaksanaan tes urine narkoba untuk para pekerja dan calon pekerja. Frone menyatakan bahwa tes urine narkoba tidak membuktikan penurunan penggunaan narkoba di kalangan pekerja. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Yang pertama adalah calon pekerja yang menyalahgunakan narkoba tidak jadi mendaftar ketika tahu tempat bekerjanya melaksanakan tes urine narkoba. Yang kedua adalah para pekerja dan calon pekerja yang menggunakan narkoba tidak akan memakai narkoba selama beberapa waktu sehingga hasil tes narkobanya akan negatif. Yang ketiga adalah para pekerja dan calon pekerja akan berusaha memanipulasi sampel urine agar hasil tesnya negatif.

Hal ini pula yang dapat terjadi pada seleksi calon pejabat publik. Ketika tes narkoba menjadi salah satu syarat untuk mendaftar, para calon yang merupakan penyalahguna atau pecandu narkoba tidak akan mau mendaftar jika mereka masih memiliki moral yang baik atau setidaknya akan berusaha untuk tidak memakai narkoba selama beberapa waktu sehingga dapat lolos dari tes tersebut.

Sisi penyedia layanan tes urine narkoba juga perlu dievaluasi. Evaluasi yang pertama adalah cara provider mengambil sampel urine. Sampel urine rentan untuk dimanipulasi, di antaranya dengan cara mengganti urine dengan urine orang lain atau dengan air toilet dan mencampur urine dengan zat-zat lain yang dianggap dapat merusak sampel. Oleh karena itu, pengambilan sampel urine haruslah diawasi dengan baik agar sampel yang didapat berkualitas dan bebas dari manipulasi.

"Sampel urine rentan untuk dimanipulasi, di antaranya dengan cara mengganti urine dengan urine orang lain atau dengan air toilet dan mencampur urine dengan zat-zat lain yang dianggap dapat merusak sampel."

Yang kedua adalah evaluasi mengenai hasil pemeriksaan tes urine. Intepretasi tes urine narkoba adalah hal yang penting. Hasil positif pada pemeriksaan tes narkoba belum tentu mengindikasikan seseorang adalah pemakai atau pecandu. Terdapat kemungkinan false positive akibat konsumsi obat-obat tertentu. Begitu juga dengan hasil tes yang negatif, tidak mutlak menunjukkan bahwa seseorang bebas dari penyalahgunaan narkoba, terutama jika sampel didapatkan dari subyek yang berusaha abstinen selama beberapa waktu tertentu.

 

Agar Tes Narkoba Efektif

Usaha-usaha yang dilakukan dalam mencegah penyalahgunaan narkoba pada calon pejabat publik patut diapresiasi. Agar usaha ini tidak sia-sia, diperlukan upaya-upaya perbaikan dalam pelaksanaan tes narkoba untuk calon pejabat publik. Sebagaimana direkomendasikan oleh Substance Abuse and Mental Health Service Admininstration (SAMHSA) dan United State Departement of Labor, berikut adalah upaya perbaikan yang perlu dilakukan:

1. Memilih metode tes yang tepat

Memilih metode tes yang tepat adalah hal krusial. Tes yang mudah dan murah adalah tes urine, namun demikian harus diperhatikan dari segi pengambilan sampel dan intepretasi hasil tes. Jika ingin melihat pemakaian narkoba yang kronis, dapat dilakukan tes rambut. Tes rambut dapat melihat pemakaian narkoba dalam jangka waktu 90 hari ke belakang. Kelemahannya adalah jumlah laboratorium yang mampu melaksanakan tes ini hanya sedikit.

2. Cara pengambilan sampel

Sampel harus diambil dengan cara yang benar dan dipastikan bebas dari manipulasi. Begitu juga dengan penyimpanan dan proses transportasi ke laboratorium harus benar-benar dilakukan dengan seksama.

3. Tes Pendahuluan (Initial Screen)

Analisis yang pertama pada sampel (misalnya dengan tes urine di tempat kerja) disebut initial screen. Hasil tes ini tidak selalu akurat atau reliable, terdapat kemungkinan terjadi false positive. Jika hasil tes pertama ini positif alangkah baiknya dilakukan tes konfirmasi.

4. Tes Konfirmasi

Tes konfirmasi diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan positif palsu. Tes konfirmasi dilakukan dengan menggunakan Gas Chromatography/Mass Spectrometry (GC-MS) yang mempunyai tingkat akurasi dan spesifikasi yang tinggi.

 

5. Screening dan Assesment oleh dokter yang tersertifikasi

Pada dasarnya, tes narkoba hanyalah merupakan salah satu pendukung untuk mengetahui adanya zat di dalam tubuh. Yang lebih penting dari itu adalah screening dan assessment yang dilakukan oleh dokter yang bersertifikat sehingga dapat diketahui apakah seseorang benar merupakan penyalahguna atau pecandu, sejauh mana tingkat ketergantungannya, dan masalah-masalah yang timbul akibat penyalahgunaan narkobanya.

Selain assessment dan tes narkoba, diperlukan upaya-upaya untuk mendidik masyarakat secara luas mengenai penyalahgunaan narkoba sehingga masyarakat secara luas memahami bahaya penyalahgunaan narkoba. Demikian juga bagi para calon kepala daerah. Mereka diharapkan mampu meningkatkan kesadaran diri serta integritas moralnya untuk menjauhi godaan penyalahgunaan narkoba sekaligus agar memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.

Stay drug free, keep clean and sober!

 

758 Views