selasar-loader

Teman Saya Aslinya Pendiam, tapi Banyak Curhat di Media Sosialnya

LINE it!
Hana Fitriani
Hana Fitriani
Product manager & kontributor Selasar.com.
Journal Feb 27, 2016

_SxVqRfUj9vWctqB_WdQiFuXz24IPr7M.jpg

Pemilihan judul ini saya ambil dari pengalaman pribadi. Saya punya teman seorang perempuan yang relatively pendiam dalam forum diskusi. Jarang sekali dia berbicara dan kumpul bareng teman-teman di kantin. Namun ketika saya melihat status facebook-nya, ternyata dia adalah orang yang sangat terbuka. Bahkan, dia ceritakan kegalauan dan curhatannya tentang seorang laki-laki. Kadang dia juga memberikan komentar yang sangat ceria dengan banyak emotikon.

Saya tidak akan menyalahkan perilakunya yang berbeda. Saya hanya penasaran dan merasa aneh, bagaimana orang bisa memperlihatkan dua kepribadian yang berbeda? Di satu sisi, dia sangat pendiam dan jarang mengekspresikan emosinya. Di sisi lain, dia sangat terbuka pada khayalak ramai mengenai status perasaannya.

Beberapa waktu lalu, saya menonton siaran televisi tentang akun Instagram @jualbayimurah dan @jualbayicantik. Isi Instagramnya adalah foto-foto anak bayi yang lucu dan cantik (yang mungkin didapatkan dari Google) dengan caption seakan-akan menjual bayi-bayi tersebut. Dalam salah satu postingannya, dia menyatakan bahwa bayi ini ditinggal oleh kedua orang tuanya dan bagi yang berminat memiliki bayi ini silahkan kontak admin. Ternyata, ibu dari si bayi mendapatkan info itu dan meng-counterback. Katanya, apa yang diberitakan oleh si admin adalah salah dan dia tidak tahu bagaimana foto anaknya bisa muncul di akun Instagram tersebut.

sumber; liputan6

Akun Instagram ini sampai mencuat ke televisi karena menyeret nama artis, Ruben Onsu, yang anaknya menjadi korban. Ada sebuah akun instagram @jualbayicantik yang memajang foto-foto anak Ruben Onsu. Setelah diselidiki, ternyata pemilik akun ini adalah seorang perempuan 19 tahun yang masih SMA. Dilihat dari perawakannya, tampangnya polos dan lugu, memakai kerudung putih SMA, berkulit sawo matang, berkacamata, dan sama sekali bukan tipikal wajah kriminal. Saya tidak tahu persis bagaimana kehidupan pribadi si admin. Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana ide dan eksekusi @jualbayicantik ini dilakukan oleh seorang anak SMA?

Tidak hanya kasus @jualbayimurah, banyak fenomena aneh-aneh di jagad internet yang hampir tidak kita temukan di dunia real. Saya pribadi seringkali menemukan teman yang aslinya pendiam dan kalem, namun kalau bikin status di facebook bisa jadi orang super extrovert yang menceritakan segala kegalauannya. Entah kenapa, saya melihat adanya keterbukaan yang lebih ketika memperhatikan kepribadian dan identitas online.

Hal ini juga bisa dilihat dari studi dan riset di Amerika yang membandingkan jawaban survei dari orang-orang yang ditanya melalui platform digital dengan mereka yang ditanya secara langsung. Dalam studi The National Household Survey on Drug Abuse di Amerika, ditemukan bahwa orang-orang melaporkan lebih banyak penggunaan obat-obatan terlarang ketika kuesioner diberikan melalui komputer, bukan melalui orang langsung. Begitu pula hasil penelitian dari National Open Research Center tentang Asking Sensitive Question yang menyatakan bahwa orang lebih bisa membuka informasi personal ketika berbicara melalui platform digital dibanding bicara langsung.

Untuk mengonfirmasi fenomena ini, saya mencoba mengambil penelitian dari Suler, seorang profesor psikologi yang meneliti tentang perilaku digital. Dalam jurnalnya, Suler menyatakan bahwa in everyday life, banyak orang yang melakukan atau mengatakan sesuatu di cyberspace yang tidak biasa dia lakukan di kehidupan real-nya. Mereka ada yang lebih terbuka dan peduli dalam mengungkapkan empatinya atau menjadi lebih ‘jahat’ dengan mem-bully orang lain. Dalam kata lain, ada gap perilaku antara dunia maya dan dunia nyata. Hal ini yang dinamakan dengan disinhibition effect.

"Dalam jurnalnya, Suler menyatakan bahwa in everyday life, banyak orang yang melakukan atau mengatakan sesuatu di cyberspace yang tidak biasa dia lakukan di kehidupan real-nya."

Online disinhibition effect bekerja dalam dua arah; ke arah yang baik/jinak (benign) atau yang jahat (toxic). Sebagai contoh, ada orang yang menjadi lebih terbuka, mampu menyuarakan siapa dirinya dan bagaimana perasaannya, atau mengungkapkan kepeduliannya pada orang lain yang dia jarang lakukan di dunia nyata (seperti yang dilakukan teman perempuan saya). Di sisi lain, ada yang menjadi lebih berani bicara dengan kata-kata kasar, bullying, atau mengeksplor hal-hal berbau pornografi atau kekerasan yang tidak pernah ia lakukan di dunia nyata.

Menurut Suler, setidaknya ada enam faktor yang bisa membentuk efek disinhibisi, yaitu: anonimity, invisibility, asynchronity, introjection, imagination, dan otoritas yang minim. Saya tidak akan membahas semua satu per satu. Jika Anda mau membaca yang lengkap, silahkan baca di sini. Intinya, Suler menjelaskan bahwa sifat dan karakter online seperti anonimitas atau invisibility dapat membuat orang melakukan atau mengatakan sesuatu yang beyond reality-nya.

Dalam sebuah esai, Sandra Newman, penulis, menghubungkan efek disinhibasi ini dengan topeng di berbagai budaya. Hampir setiap negara dan budaya mempunyai topengnya masing-masing. Ketika orang menggunakan topeng, dia juga akan berganti identitas. Di sana, Newman menuliskan “In short, as soon as people put on masks, they begin to violate social norms.” Artinya, ketika sudah memakai topeng, orang akan mulai mencopot atau melanggar norma sosial yang ada. Misal, ketika abad ke-16 dan 17 di Eropa, penggunaan topeng di kalangan perempuan menjadi sebuah tren. Topeng ini selain digunakan untuk menutupi kebosanan dalam ballroom, juga untuk membiarkan perempuan melakukan flirting secara lebih agresif kepada laki-laki tanpa menurunkan status dan reputasinya.

Perilaku inilah yang mirip dengan apa yang terjadi di dunia online. Ketika sudah menggunakan identitas online dalam beraktivitas, kita cenderung berperilaku sesuai dengan profil online buatan itu. Apalagi dalam dunia online, kebebasan adalah hal yang mutlak ada. Kita bisa melakukan apapun di balik identitas tersebut. Misal, dalam kehidupan nyata, saya tidak mungkin membahas porn karena saya dibatasi oleh etika dan moral. Tetapi di dunia online, dengan identitas @theknightrider, saya bisa lebih leluasa untuk tergabung dalam forum diskusi umum yang membahas porn. Dengan topeng @theknightrider, saya bisa bersembunyi di balik identitas dan topeng digital itu, apalagi ditambah dengan akses tak terbatas ke semua hal.

Saya jadi teringat sekitar setahun lalu ketika aplikasi Secret menjadi tren di kalangan anak muda. Aplikasi ini memfasilitasi user untuk mengungkapkan apapun dalam anonimitas. Awalnya, banyak yang berbagi mengenai curahan hatinya, cinta yang terpendam, stres akibat kuliah, rasa tidak percaya diri, dan lain-lain. Namun, semakin lama, status-status yang dibuat makin melebar ke hal-hal negatif seperti pornografi dan kriminalitas. Bahkan, ada status yang isinya ungkapan birahi dan mengajak seks orang yang ada di sekitarnya.

Ketika masuk ke dunia online, apalagi dengan anonim, kita seakan melepas seluruh identitas nyatanya dan melakukan apa saja yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata karena terdapat batasan norma dan moral. Kita bisa membentuk profil menjadi apa saja yang kita mau dengan sangat mudah dan cepat tanpa ada batasan etika, norma sosial, serta pertanggungjawaban. Kita bisa menjadi wanita yang lebih agresif, ustadz yang gemar berdakwah, @theknightrider yang suka nimbrung di obrolan porn, dan sebagainya. Toh, jika ada orang lain yang protes karena perkataan porn kita di forum, kita cukup counterback dengan lebih keras. Kita merasa lebih secure dari pendapat orang karena ‘bersembunyi’ di balik identitas artificial itu. Pun kenapa-napa, kita cukup buang akun lama dan buat akun baru. Hidup pun dimulai dari nol. Risiko yang jauh lebih kecil dan batasan yang lebih minim ini yang bisa memotong secara signifikan proses berpikir dan risk assessment sebelum bertindak. Padahal, proses berpikir sebelum bertindak ini yang menjadikan manusia terus berada dalam tataran moral dan norma di masyarakat.

"Ketika masuk ke dunia online, apalagi dengan anonim, kita seakan melepas seluruh identitas nyatanya dan melakukan apa saja yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata..."

Saya rasa, sangat penting bagi kita untuk waspada dengan kehidupan online dan topeng/identitas yang kita buat. Akan berbahaya apabila perilaku dan cara berpikir kita sudah mengikuti gaya hidup online di mana identitas itu ‘murah’ dan bisa di-restart. Akibat dari toxic-disinhibition-online ini tidak hanya dialami oleh akun online saja, namun juga berpengaruh dalam kehidupan nyata kita dan orang lain. Contohnya adalah akun @jualbayimurah. Walaupun yang memajang foto bayi Ruben Onsu adalah sebuah akun Instagram, namun yang diproses dalam pengadilan adalah seorang perempuan SMA yang menjadi admin akun tersebut.

Dunia online memang menawarkan kemudahan super untuk membentuk identitas baru dan melakukan hal apapun tanpa batas. Saat ini, identitas online adalah hal yang tidak terbantahkan karena menjadi suatu sarana penilaian atas profil diri dan kredibilitas. Misal, pada zaman sekarang, jika suatu institusi tidak punya website atau media sosial, maka orang akan mempertanyakan kredibilitasnya. Namun, di balik kemudahan dan kekuasaannya, ada sebuah efek yang menjadikan kita melakukan hal yang tidak bisa dilakukan secara wajar di dunia nyata.

Walau bagaimanapun juga, identitas utama kita adalah diri sendiri beserta jiwa dan raga yang hidup bermasyarakat dengan orang lain dalam etika dan norma yang telah disepakati. Proses berpikir dan menimbang sebelum berbuat membuat kita menjadi manusia yang beradab. Karenanya, jangan sampai kemudahan akses dalam merealisasikan pikiran yang diberikan oleh internet menurunkan derajat kita sebagai manusia yang bermoral dan bermartabat. Kita perlu paham bagaimana status dan posisi identitas artificial ini dalam kehidupan serta efek yang dimiliki ketika kita sudah memakai topengnya.

 

Sumber gambar 1: wattpad.com
Sumber gambar 2: Penulis

1131 Views