LGBT dan Kegagalan Sebuah bangsa, Benarkah klaim ini?

Fithra Faisal
Researcher and Lecturer, Faculty of Economics and Business, UI
Written 1 year ago | 41 Views

Artikel ini dibuat sebagai sahutan atas artikel "nakal" dari Pram (Lihat di sini). Saya dan Pram memang tidak pernah bertemu muka, namun diskusi aktif sudah lama kita jalin melalui WA group Selasar sejak kurang lebih setahun yang lalu. Beberapa dari orang melihat artikel Pram terlalu menyerang individu. Bahkan seorang Indra Jaya Piliang, juga dalam WA grup, menganggap Pram telah memperkosa teks saya secara brutal. Mungkin banyak orang belum mengenal Pram, karena kalau dia mau lebih serius tentu bisa lebih brutal dari itu. Lagi pula, itulah adalah gaya khas Pram, sarkastik.

Sebelum lebih lanjut mengulas isi artikel Pram, saya akan mendedikasikan beberapa paragraf awal untuk tinjauan singkat atas beberapa artikel ilmiah yang telah membahas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).  Badget et al. (2014) menyampaikan bahwa pengakuan akan hak-hak LGBT memberikan pengaruh yang positif bagi ekonomi dengan bangkitnya industri kreatif dan terpenuhinya aspek well-being masyarakat secara umum.

Hal ini juga di-amini oleh Florida dalam artikel semi ilmiahnya di Washington Monthly pada bulan Mei 2002 berjudul “The Rise of The Creative Class”. Dalam artikel tersebut, Florida membeberkan temuannya dimana kota-kota di Amerika yang memiliki indeks kreativitas tertinggi adalah tempat-tempat yang memiliki populasi bohemian terbanyak. Sehingga mematikan mereka...

Read More using Facebook Account