selasar-loader

LGBT dan Kegagalan Sebuah Bangsa, Benarkah Klaim Ini?

LINE it!
Fithra Faisal
Fithra Faisal
Researcher and Lecturer, Faculty of Economics and Business, UI
Journal Feb 15, 2016

ew_VlI4O4QdtYJIJu4cJPkSAQIAkPLDv.jpg

Artikel ini dibuat sebagai sahutan atas artikel "nakal" dari Pram (Lihat di sini). Saya dan Pram memang tidak pernah bertemu muka, namun diskusi aktif sudah lama kita jalin melalui WA group Selasar sejak kurang lebih setahun yang lalu. Beberapa dari orang melihat artikel Pram terlalu menyerang individu. Bahkan seorang Indra Jaya Piliang, juga dalam WA grup, menganggap Pram telah memperkosa teks saya secara brutal. Mungkin banyak orang belum mengenal Pram, karena kalau dia mau lebih serius tentu bisa lebih brutal dari itu. Lagi pula, itulah adalah gaya khas Pram, sarkastik.

Sebelum lebih lanjut mengulas isi artikel Pram, saya akan mendedikasikan beberapa paragraf awal untuk tinjauan singkat atas beberapa artikel ilmiah yang telah membahas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).  Badget et al. (2014) menyampaikan bahwa pengakuan akan hak-hak LGBT memberikan pengaruh yang positif bagi ekonomi dengan bangkitnya industri kreatif dan terpenuhinya aspek well-being masyarakat secara umum.

Hal ini juga di-amini oleh Florida dalam artikel semi ilmiahnya di Washington Monthly pada bulan Mei 2002 berjudul “The Rise of The Creative Class”. Dalam artikel tersebut, Florida membeberkan temuannya dimana kota-kota di Amerika yang memiliki indeks kreativitas tertinggi adalah tempat-tempat yang memiliki populasi bohemian terbanyak. Sehingga mematikan mereka berarti mematikan potensi industri kreatif hence kinerja ekonomi secara umum.

Namun, sebagaimana argumen dari Ricardian equivalence, artikel ini memiliki kelemahan mendasar dimana permasalahan kependudukan belum diperhitungkan. Ada ekspektasi kependudukan yang memburuk sehingga kesinambungan ekonomi di jangka panjang akan terkendala. Ada beragam studi lain yang mengemuka (Glaeser et al. (1995), Glaeser dan Saiz (2004), Glaeser (2005) dan Shapiro (2006)) memberikan hasil yang berbeda dari Florida (2002), dimana tingkat edukasi dan tingkat produktivitas sebagai faktor utama dari peningkatan industri kreatif tersebut, dan toleransi terhadap kaum bohemian ini tidak terlalu kentara dampaknya.

Berggren dan Elinder (2012) menggunakan pendekatan Florida (2002) dalam mengelaborasi toleransi terhadap LGBT dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Disini mereka menemukan bahwa toleransi yang berlebihan terhadap LGBT memberikan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.  Setidaknya ada dua alasan: i) kaum yang konservatif akan merasa terganggu dengan kebijakan pemerintah yang terlalu toleran terhadap LGBT, sehingga mereka melakukan migrasi keluar dari negara tersebut.

Pun demikian dengan penduduk yang beraliran konservatif yang tinggal tingkat produktivitasnya akan berkurang karena merasa tidak terlalu nyaman dalam bekerja. Jika Florida memandang bahwa LGBT memiliki tingkat kreativitas yang tinggi, Berrgren dan Elinder juga menekankan jumlah orang kreatif yang juga cukup besar berada dalam lingkup penduduk yang beraliran konservatif.  ii) Sementara itu, kebijakan toleransi tinggi terhadap LGBT juga akan mengundang kaum LGBT lintas negara untuk masuk, sementara ada sebagian (besar) dari LGBT lintas negara tersebut yang memiliki tingkat kreativitas yang tidak terlalu tinggi. Pada gilirannya, hal ini tidaklah cukup dalam meningkatkan produktivitas kaum konservatif yang turun. 

Dalam mengkonstruksi model, saya lebih banyak mengadopsi Berggren dan Elinder dan juga bermaksud untuk menyempurnakan model Badget (masih dalam proses) yang dalam artikel nya juga menyarankan untuk melihat pengaruh toleransi terhadap pertumbuhan ekonomi. Baik dalam model meraka maupun model saya masih memiliki masalah sample selection bias.

Baik, sekarang saya akan membahas artikel Pram…

Dalam artikel balasannya, ia menulis:

“Faktanya kaum LGBT dapat memiliki keturunan. Di negara-negara maju, konsep surrogate parent adalah suatu hal yang mungkin terjadi untuk kemudian dipadukan dengan aturan hukum terkait adopsi atau pengurusan anak. Pasangan LGBT dapat meminta pihak lain untuk menjadi donor sperma atau donor telur atau meminjamkan rahimnya guna mendapatkan keturunan. Memangnya setiap pasangan LGBT pasti tak menginginkan keturunan? Bayangkan juga kalau teknologi kloning sudah berjalan”

Adopsi dan pengurusan anak dalam jangka pendek mungkin saja bisa mengkompensasi faktor keturunan, tetapi tidak ada konsep pertambahan populasi disana. Bagaimana dengan donor sperma dan donor telur? Saya belum meneliti lebih lanjut, terimakasih atas masukannya. Kloning? Sampai sekarang saya hanya bisa membayangkan, sama seperti Pram.

Kembali, Pram menulis tentang konsep biaya kesempatan (opportunity cost)

“Yang lebih penting lagi, ada semacam lompatan ide yang terlampau jauh, yaitu ide bahwa seakan-akan bertambahnya LGBT akan menimbulkan krisis kependudukan. Apakah memang benar demikian adanya? Bagaimana dengan pasangan heteroseksual yang memilih untuk tidak memiliki keturunan? Salah satu konsep mendasar dalam ilmu ekonomi adalah Biaya Kesempatan (Opportunity Costs). Memiliki keturunan bukannya tanpa biaya. Ini bukan dunia fantasi dimana semua anak terlahir langsung dewasa, sopan, pintar, dan bisa mengurus diri sendiri tanpa bantuan orang tuanya.”

Dengan pernyataan ini, anda terbukti banyak membaca Pram. Konsep ini juga yang saya kenal dari semenjak kuliah di Universitas Indonesia berbekal karya fenomenal Gary Becker. Terus terang faktor itu belum saya control. Terimakasih untuk sarannya.

“Saya bingung kenapa Fithra menjadikan variabel ini sebagai variabel yang relevan untuk pro atau kontra atas LGBT. Apakah sekarang kita hendak mulai mengatur isu apa yang sebaiknya dibahas dan didukung oleh figur publik? Kita sekarang lebih tahu soal mana yang seharusnya ditwit atau diunggah ke Facebook oleh para aktor dan aktris kita? Apa definisi figur publik? Yang follower-nya lebih dari sejuta per orang? Apakah hanya di sosial media atau meliputi semua jenis media? Cukup aktor dan aktris layar kaca atau sekalian aktor politik? Lebih penting lagi, memangnya sungguh-sungguh ada kausalitas antara trending topic dengan pertumbuhan ekonomi? Bagaimana caranya? Karena kalau demikian adanya, semua permasalahan ekonomi kita bisa diselesaikan dengan hashtag #hashtagsolusipertumbuhanekonomi #lifeisgood #LOL.”

Jawaban saya singkat, coba lihat EU LGBT survey.

Dia juga berkata dalam tulisannya:

“Ini klaim yang sangat berani (dan mungkin juga sangat jenius). Tanpa memberikan referensi data secara rinci, dasar perhitungan korelasi, bahkan tanpa kejelasan dengan apa yang dimaksud dengan kebijakan pro LGBT, Fithra menyimpulkan bahwa kebijakan pro LGBT (apapun itu) memperlambat pertumbuhan ekonomi. Bagaimana cara menghitungnya sementara variabelnya saja tidak jelas? Seyakin apa Fithra sehingga bahasa yang digunakan mengacu kepada kausalitas (dengan menggunakan kata "maka") dan bukan sekedar korelasi (ini dengan asumsi bahwa hitung-hitungannya benar menunjukkan ada korelasi)?”

Beda antara korelasi dan regresi Pram. Korelasi menunjukkan arah, sementara regresi menunjukkan hubungan fungsional antar variabel. Tapi berikutnya saya akan memperhatikan wording sebagaimana saran anda. Variabel saya apa saja? Masih dalam proses tapi sedikit banyak bisa dilihat dalam Berggren dan Elinder (2012). Kedepan, jika versi artikel ilmiahnya sudah terbit saya akan berikan ke anda.

Ada beberapa bagian lain dari artikel Pram yang mungkin tidak perlu saya tanggapi disini karena sifatnya sangat minor, mudah-mudahan balasan artikel ini dapat menjawab pertanyaan dari anda sebelumny.

Tenang saja Pram, anda tidak perlu jasa Liam Neeson, karena saya masih orang yang sama.

 

Tulisan ini telah ditanggapi di sini

1327 Views