selasar-loader

LGBT dan Kegagalan Sebuah Bangsa

LINE it!
Fithra Faisal
Fithra Faisal
Researcher and Lecturer, Faculty of Economics and Business, UI
Journal Jun 14, 2016

C5EtlnoLN-XmMO1RjLfQuM_aqeJX9Xxr.jpg

Dewasa ini, isu mengenai Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT) menjadi trending topic pada bermacam wadah ekspresi, baik media massa maupun social media. Pro dan kontra terus mengemuka dengan pelbagai argumennya yang tentu sama-sama diklaim valid. Namun sesempit pengetahuan saya, debat yang mengemuka cenderung menggunakan basis moral dan religi. Celakanya, definisi dan nilai artikulasi orang terhadap moral dan religi memiliki variasi yang cukup tinggi, sehingga perdebatan tersebut cenderung tidak ada ujung pangkalnya.

Merujuk pada penelitian PEW research center, negara-negara yang religius memang memiliki toleransi yang minimal terhadap perilaku LGBT. Semakin religius sebuah negara, semakin besar kecenderungan penolakannya atas LGBT. Indonesia, dalam riset tersebut, dikategorikan sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat religiusitas tinggi, sehingga wajar saja nuansa penolakannya jauh lebih besar dibanding negara-negara yang dikategorikan kurang religious semisal Kanada, Spanyol, Jerman dan UK.  Akan tetapi, dengan nuansa debat berbasis moral dan religi tanpa basis data yang ajeg, pihak yang berdebat pun pada gilirannya memiliki definisi kebenaran dan kepatutan yang berbeda yang hampir mustahil bertemu sapa.

Dalam artikel ini, saya tidak akan menjelajahi data kaum Sodom dan Gomorah serta melampirkan ayat betapa Tuhan membenci kaum ini sehingga memberikan azab yang ganas. Biarlah para ustadz yang bercerita. Di sini, saya akan memberikan sebuah analisa empiris sederhana berbasis data yang valid dan mudah diakses. Model estimasi saya terdiri dari 27 negara Uni Eropa dengan variabel yang diperoleh dari World Government Indicators (WGI) dan EU LGBT Survey. Mengapa Uni Eropa? Karena saya ingin menghilangkan faktor acak (random) negara dengan membuatnya lebih “at the same level of playing field”.

Yang ingin saya lihat adalah bagaimana pengaruh dari sikap pro LGBT sebuah negara terhadap pertumbuhan ekonominya. Dari beragam variabel dalam survey tersebut, saya mengkonstruksi tiga hal yang paling relevan, diantaranya adalah: i) dukungan figur publik (baik politikus maupun artis); ii) dukungan pemerintah dan; iii) dukungan pemuka agama. Model yang dibangun didasarkan pada teori pertumbuhan ekonomi klasik, di mana ekonomi dapat tumbuh dengan dengan bantuan modal dan tenaga kerja, di mana kecenderungan LGBT yang semakin besar di sebuah negara akan berdampak kepada kondisi kependudukan yang memburuk. Hal ini dapat dijelaskan dari fakta terang benderang bahwa pasangan LGBT tidak dapat menghasilkan keturunan (Bukankah gembok harus bertemu kunci dan sendok bertemu garpu? Coba bayangkan kalau anda membuka gembok dengan gembok, mana bisa terbuka?). Kondisi kependudukan yang memburuk tersebut pada gilirannya akan menghambat ekonomi untuk terus tumbuh.

Negara-negara besar di Eropa seperti Jerman dan Perancis, misalnya, memiliki kecenderungan pertumbuhan populasi yang negatif sehingga pada tahun 2060, negara-negara ini akan kehilangan hampir setengah penduduknya karena kondisi rapid aging society. Mau bukti? Lihat saja isi timnas Jerman dan Perancis yang mulai dari mulai penjaga gawang sampai strikernya didominasi oleh keturunan imigran. Lihatlah nama-nama mulai dari Zinedine Zidane, Marcel Desaily, Thierry Henry, Mehmet School hingga yang teranyar semisal Mamadou sakho, Eliqoium Mangala, Mesut Ozil, Ilkay Gundongan dan Lukas Podolski.

Pengaruh Dukungan terhadap LGBT terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Kembali ke laptop. Hasil bercerita bahwa persentase dukungan figur publik terhadap LGBT yang semakin besar ternyata tidak berdampak signifikan tehadap pertumbuhan ekonomi. Dari sini, tersirat bahwa meski figur publik berkoar-koar mendukung LGBT, hanya sedikit dari masyarakatnya yang betul-betul terpengaruh sehingga efek tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi tidak terlalu kentara. Namun jika melihat faktor pemerintah, setiap 1 persen kenaikan kecenderungan pro LGBT, maka terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1 persen. Di sini, dapat dilihat bahwa peran pemerintah selaku pembuat kebijakan adalah cukup krusial, baik itu bersifat pro maupun kontra terhadap LGBT. Dari sini pula, kita dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah yang memiliki kecenderungan pro terhadap LGBT dapat meng-constraint pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, pengaruh yang lebih besar didapat dari faktor pemuka agama, yaitu setiap 1 persen kenaikan kecenderungan pemuka agama yang pro terhadap LGBT maka pertumbuhan ekonomi akan turun sebesar 0.12 persen dengan tingkat signifikansi yang lebih besar dari dua faktor yang disebut sebelumnya. Temuan ini tentunya menyiratkan bahwa pemuka agama adalah gerbang terakhir penjagaan sebuah negara terhadap LGBT. Jika para pemuka agama kontra terhadap LGBT, sebagian besar masyarakat akan taat dan kecenderungan masyarakat yang berketurunan akan semakin banyak. Hal ini tentu pada gilirannya akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sebaliknya, semakin banyak pemuka agama yang pro LGBT, atau bahkan menjadi pelaku LGBT itu sendiri (kalau ini yang terjadi niscaya jamaah di masjid bakal kocar-kacir), maka potensi 'hilang generasi' akan semakin besar.

Memang ada beberapa artikel ilmiah yang menunjukkan bahwa LGBT dapat mendorong population control yang kemudian dianggap penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun alih-alih memajukan sebuah bangsa, kontrol yang berlebihan seperti ini justru akan menghancurkan potensi masa depan negara tersebut.

Tengok saja Tiongkok. Negara ini terkenal akan one child policy-nya. Kebijakan itu terbukti sukses menekan populasi Tiongkok. Tapi coba lihat, sekarang kebijakan tersebut malah menghancurkan mereka secara kependudukan sehingga mereka mengalami kondisi hard landing mulai tahun 2015. Contoh yang lebih ekstrem lagi tentu di negara-negara Eropa yang mewajarkan perilaku LGBT sehingga perilaku tersebut terus menjadi tren di negara-negara tersebut.

Jika ustadz dan pendeta tidak dapat meyakinkan para pemangku kebijakan, mudah-mudahan tulisan ini dapat menuntun mereka untuk dapat berpikir lebih jernih dan rasional, bukan sekedar pakai ilmu kira-kira.

Tentu Tuhan punya alasan mengapa menciptakan Adam dan Siti Hawa, bukan Adam dan Santo.

 

Tulisan ini ditanggapi di sini

Sumber foto: PBS

 

1887 Views