LGBT dan Kegagalan Sebuah Bangsa

Fithra Faisal
Researcher and Lecturer, Faculty of Economics and Business, UI
Written 8 months ago | 82 Views

Dewasa ini, isu mengenai Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT) menjadi trending topic pada bermacam wadah ekspresi, baik media massa maupun social media. Pro dan kontra terus mengemuka dengan pelbagai argumennya yang tentu sama-sama diklaim valid. Namun sesempit pengetahuan saya, debat yang mengemuka cenderung menggunakan basis moral dan religi. Celakanya, definisi dan nilai artikulasi orang terhadap moral dan religi memiliki variasi yang cukup tinggi, sehingga perdebatan tersebut cenderung tidak ada ujung pangkalnya.

Merujuk pada penelitian PEW research center, negara-negara yang religius memang memiliki toleransi yang minimal terhadap perilaku LGBT. Semakin religius sebuah negara, semakin besar kecenderungan penolakannya atas LGBT. Indonesia, dalam riset tersebut, dikategorikan sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat religiusitas tinggi, sehingga wajar saja nuansa penolakannya jauh lebih besar dibanding negara-negara yang dikategorikan kurang religious semisal Kanada, Spanyol, Jerman dan UK.  Akan tetapi, dengan nuansa debat berbasis moral dan religi tanpa basis data yang ajeg, pihak yang berdebat pun pada gilirannya memiliki definisi kebenaran dan kepatutan yang berbeda yang...

Read More using Facebook Account