selasar-loader

Muhammad (pun) Bukan Pribumi

LINE it!
Faqih Addien Al Haq
Faqih Addien Al Haq
Penulis Lepas
Journal Jun 28, 2015

uro27a6s5eZlnVBAn8tcr9zb4OXFImYv.jpg

"Lindungi Pribumi atau Revolusi”. Apa maksudnya ?

Awalnya, saya tidak menaruh perhatian secara berlebihan pada jargon tersebut. Sampai kemudian beberapa kolega dan dosen mulai mengajukan pertanyaan yang diarahkan kepada saya, yang notabene mereka ketahui sebagai kader KAMMI.

Mereka menganggap jargon tersebut rasis. Rasis karena bernada menuduh dan menyudutkan sebagian golongan, terutama Tionghoa. Jargon tersebut mereka rasa berlebihan dan mereka nilai tidak tepat mengangkat tema kepribumian dalam unjuk rasa mengkritik kebijakan pemerintah Jokowi-JK yang bahkan belum berjalan selama satu tahun penuh.

Pada akhirnya saya terdorong untuk menelusuri lebih lanjut. Bagaimana konsepsi berpikir dari jargon tersebut dan bagaimana munculnya kata ‘pribumi’ dan ‘nonpribumi’ dalam jargon tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘pribumi’ ditafsirkan sebagai penduduk asli yang lahir, tumbuh, dan besar di sebuah wilayah. Namun kita tidak akan menemukan dikotomi penduduk dengan kata ‘pribumi’ atau ‘nonpribumi’ dalam konstitusi penyelenggaran negara kita.

Undang –Undang Dasar 1945 dalam pasal 26 tentang kewarganegaraan dan penduduk pun tidak menyebut keberadaan pribumi dan nonpribumi. Undang-undang  No.12 tahun 2006, yang menandai berakhirnya era diskriminasi terhadap golongan keturunan Tionghoa, Arab, dan beberapa etnis lainnya, pun dilandasi semangat mengakhiri dikotomi pribumi dan nonpribumi di antara penduduk dan warga negara Indonesia.

K.H. Muhammad Maksum, pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Situbondo, mengatakan bahwa keberhasilan perjuangan kemerdekaan dan penyelenggaraan negara Indonesia yang independen adalah hasil dari semangat kesatuan dan eliminasi perbedaan. Kita harus menerima telah dijadikan berbeda dalam suku bangsa, karena itu adalah qadarullah. Namun Islam diturunkan sebagai petunjuk dan penjelas, bahwa perbedaan itu hanyalah ujian yang menunjukkan sebaik apa seorang manusia memanajemen perbedaan tersebut.

"Keberhasilan perjuangan kemerdekaan dan penyelenggaraan negara Indonesia yang independen adalah hasil dari semangat kesatuan dan eliminasi perbedaan"

Oleh sebab itu, jika di hari ini kita masih menemukan konsepsi pemikiran yang mendikotomikan antara pribumi dan nonpribumi di antara warga negara Indonesia, kita patut khawatir. Jangan-jangan cara pandang imperialisme secara tidak sadar telah diterima sebagai bagian dari pemikiran hidup berbangsa.

‘Pribumi’ Sebelum Kita

Dalam menelusuri lembaran sejarah, sebenarnya keberadaan entitas yang disebut pribumi hanya akan ditemukan di masa kekuasaan sebuah rezim yang otoriter. Ketika konsepsi kelas sosial mekanis yang tidak berkeadilan dan zalim berlaku dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai contoh, orang-orang keturunan Bani Israil disebut sebagai pribumi Mesir di bawah kekuasaan dzalim Ramses II[1]. Padahal mereka bukan penduduk asli Mesir pada awalnya. Mereka dikategorikan sebagai pribumi sebab kelas sosial yang diciptakan, menghendaki demikian sehingga kesan yang tercipta adalah pribumi sebagai kelas rendah yang dieksploitasi oleh sebuah rezim, baik imperial maupun lokal.

Akan lebih abstrak lagi membahas masalah pribumi & nonpribumi ini jika kita menelisik sejarah Spanyol. Bagaimana kita dapat mengategorikan Bangsa Katalan dan Bangsa Basque, yang hidup sebagai minoritas di antara kewarganegaraan Spanyol yang didominasi oleh bangsa Mediterania? Padahal mereka yang mayoritas di bawah kepemimpinan Raja Franco menikmati dominasinya di atas minoritas. Mana yang pribumi dan mana yang nonpribumi ?

Sekali lagi kita menemukan bahwa keberadaan istilah pribumi adalah hasil konsepsi pemikiran imperialis yang mengkooptasi semangat perjuangan melawan kezaliman, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan, menjadi berbelok melawan kaum sendiri hanya karena beberapa perbedaan yang tidak bisa dihindari.

Muhammad dan Pribumi Yatsrib

SfhltvjplQd6gVsTnXdf3sqMyKvD9ePX.jpg

Kisah hijrah Muhammad alaihisalatu wa salam, dari Mekah ke Madinah pun sebenarnya mampu menggambarkan secara sederhana bagaimana Islam mengajarkan pemeluknya dalam masalah warga negara dan kependudukan.

Seandainya kita mengikuti cara berfikir ‘pribumi  dan nonpribumi’, Muhammad dan para sahabatnya dari Mekah (Muhajirin), mereka termasuk orang-orang yang nonpribumi. Mereka adalah orang-orang yang terusir dari tanah kelahirannya, kemudian berpindah tempat ke tanah subur Yatsrib dan menetap di sana, kemudian berkeluarga dan berkehidupan sampai akhir hayat mereka.

"Seandainya kita mengikuti cara berfikir ‘pribumi  dan nonpribumi’, Muhammad dan para sahabatnya dari Mekah (Muhajirin), mereka termasuk orang-orang yang nonpribumi"

Uniknya, bahkan kita kemudian mengetahui Muhammad sebagai pendatang, nonpribumi, menjadi pemimpin yang disepakati dan diangkat oleh penduduk Yatsrib.

Menjadi catatan yang sangat menarik untuk dijadikan pelajaran, bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Muhammad ketika dirinya telah sampai di Yatsrib sebagai pendatang dan kemudian menjadi pemimpin yang diakui oleh mayoritas masyarakatnya adalah mempersaudarakan para pendatang (Muhajirin) dan para penduduk asli (Anshar). Artinya, hal pertama yang menjadi prioritas bagi orang Islam dalam memanajemen perbedaan adalah mengeliminasi sumber-sumber perbedaan itu sendiri dengan  menciptakan identitas baru komunitas plural tersebut.

"Artinya, hal pertama yang menjadi prioritas bagi orang Islam dalam memanajemen perbedaan adalah mengeliminasi sumber-sumber perbedaan itu sendiri dengan  menciptakan identitas baru komunitas plural tersebut"

Karena sejak awal sebelum Muhammad terusir dari Mekah, Allah memberikan keterangan dalam QS. Rum: 22 yang merupakan golongan surat Makiyah (diturunkan sebelum Hijrah), tentang asal dan hakikat perbedaan :

…di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Maka kemudian Muhammad menggunakan pendekatan penciptaan identitas baru yang dibawanya dengan corak yang khusus yang dilandasi semangat revolusioner.

Semangat penciptaan identitas baru itu, pun diturunkan sebelum Muhammad pergi ke Yatsrib untuk memulai kehidupan baru dalam QS. An-Nahl 90:

Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk berlaku adil, berbuat kebaikan dan membantu kaum kerabat. Dan Allah melarang kamu berbuat keji, melakukan kemungkaran dan menciptakan permusuhan

Tiga perintah Allah yaitu semangat berkeadilan, senantiasa berbuat baik, dan membantu kaum kerabat inilah yang menjadi identitas baru kaum Muslim yang bersifat plural di Madinah sejak kedatangan kaum pendatang, yaitu Muhammad dan para sahabatnya. Oleh karena itu, identifikasi mereka terhadap diri sendiri dan komunitas tidak lagi terarah pada tanah tempat kelahiran, nasab atau keturunan, dan penampilan fisik.

Sedangkan tiga larangan Allah yaitu berbuat keji, melakukan kemungkaran, dan menciptakan permusuhan, dijadikan pengingatan dan kontra-indikasi terhadap keberlangsungan identitas baru tersebut.

Dalam konteks pribumi & nonpribumi, yang menjadi menarik adalah larangan Allah terhadap Al Baghyu. Dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid II, Al Baghyu diterjemahkan sebagai sifat menciptakan permusuhan dan keresahan dalam masyarakat, sehingga ketentraman dan kedamaian susah didapatkan. Tentunya hal ini perlu menjadi evaluasi bagi KAMMI, apakah dalam melempar isu dan jargon yang sudah terlanjur viral di dalam masyarakat tersebut, termasuk kategori Al Baghyu atau tidak?

Orang – orang Munafik

Identitas baru Muhammad dan kaum Islam di Yatsrib itulah yang kemudian melahirkan sebuah komunitas baru dalam simbol Madinatun Nabi (Kota Nabi) sebagai nama baru kota Yatsrib. Kepemimpinan Muhammad (sebagai nonpribumi) diterima oleh semua masyarakat dan warga negara Madinah. Keadilan ditegakkan, kebaikan disebarluaskan, kekerabatan dipereratkan, dan kesejahteraan diusahakan bersama-sama.

Namun di tengah-tengah penerimaan dan suasana kesadaran baru dalam bermasyarakat tersebut, masih saja ada beberapa orang yang tinggi hati dan tidak bisa menerima eliminasi ciri khas dan perbedaan karena hadirnya identitas baru tersebut. Mereka yang kemudian disebut Allah sebagai orang-orang munafik.

Di depan nabi dan orang-orang Islam mereka mendeklarasikan diri menjadi bagian dari kota Madinah. Namun, dalam beberapa perisitiwa penting yang menentukan masa depan komunitas bersama tersebut, mereka berlepas tangan, seperti pada peristiwa Uhud, peristiwa Khandaq, dan lain sebagainya. Mereka mengkhianati cita-cita bersama, hidup dalam kemerdekaan di atas identitas baru kota Madinah.

Kita semua sebagai komunitas baru yang lahir 70 tahun yang lalu, hari ini menggunakan identitas baru kita sebagai Indonesia. Keberagaman suku, Bahasa, dan budaya baik secara fisik maupun nonfisik, telah dirangkum dengan baik dan dibingkai dalam semangat Pancasila dan UUD 1945. Identitas itu melekat dalam diri kita. Sebagai bagian utama dalam mengidentifikasi diri sendiri di dalam peradaban dunia hari ini.

"Keberagaman suku, Bahasa, dan budaya baik secara fisik maupun nonfisik, telah dirangkum dengan baik dan dibingkai dalam semangat Pancasila dan UUD 1945"

Jangan sampai KAMMI, yang juga mengusung jargon “Mewujudkan Cita-cita Kemerdekaan Indonesia”, kemudian menduplikasi sifat dan sikap orang-orang munafik yang hipokrit dengan cara memasung kepentingan lain yang tidak sesuai dengan kepentingan diri sendiri dengan mengatasnamakan ‘pribumi’.

Karena cara pandang ‘pribumi & nonpribumi’ itu sebenarnya disebabkan terjadi amnesia intelektual dan kehilangan kesadaran berbangsa dan bernegara sebagai identitas utama kita.

 

Referensi:

[1] Al Maghluts, Ali Abdullah. 2011. Atlas Sejarah Para Nabi. Pustaka Al Mahira

819 Views
Sponsored

Author Overview


More Journal from Faqih Addien Al Haq


Membeli Agama yang Dijual di Televisi
2 years ago

Uang Kas Masjid, Bisakah Di-nol-kan?
3 years ago

Kita Semua Bisa Jadi Nabi
3 years ago