selasar-loader

Revolusi Mental, Banalitas Akut, dan Kebangkitan Nasional

LINE it!
Ghufron Mustaqim
Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia
Journal May 20, 2016

Fawzi seorang kawan saya gemar membaca buku bertema sejarah, budaya, dan politik. Kawan-kawannya, ketika melihat Fawzi ke kampus membawa buku-buku, menjuluki bacaannya itu ”berat”. Buku-buku yang sangat membosankan kata mereka.

Bacaaan seperti Young on Top, Notes from Qatar, atau 7 Keajaiban Rezeki menurut kawan-kawannya jauh lebih menarik dan menginspirasi ketimbang buku-buku tulisan Sartono Kartodirdjo, Takashi Siraishi, Ann Kumar, Taufik Abdullah, Daoed Joesoef, Radhar Panca Dahana, dan Yudi Latif misalnya.

Saya punya teman lain namanya Zanwar yang sangat suka berbicara tentang sastra dan filsafat. Maklum beberapa tahun terakhir ia rutin menyimak tulisan-tulisan R.Ng. Ronggowarsito, Pramoedya Ananta Toer, Ki Ageng Suryomentaram, Franz Magnis Suseno, dan Karlina Supelli.

Gara-gara itu ia hampir teraleniasi dari lingkaran pertemanannya di kampus. Tidak banyak kawannya yang nyambung dengan topik percakapan Zanwar. Menurut teman-temannya, topik-topik percakapan Zanwar selalu “berat” dan “garing”.

Lalu ada seorang kawan, sebut saja namanya Ahmad, seorang mahasiswa jurusan filsafat tingkat awal di salah satu kampus di Yogyakarta. Ketika ia bertemu dengan kawan-kawan SMA-nya pasti ditanya tentang bagaimana pekerjaannya nanti setelah kuliah.

Mereka masih terus saja protes terhadap keputusan Ahmad, mengapa ia akhirnya memilih kuliah di jurusan yang tidak jelas seperti itu. Dipastikan tidak banyak lapangan pekerjaan yang membutuhkan sarjana filsafat.

Padahal sebelumnya ia diterima juga di jurusan akuntansi dan jurusan komunikasi, jurusan yang sangat diidam-idamkan oleh para lulusan SMA. Tetap saja, Ahmad tidak menggubris protes teman-temannya itu, ia punya pilihan hidup sendiri.

Jamak kita temui disekitar fenomena seperti itu. Adalah lumrah (namun tidak boleh dikatakan wajar) apabila generasi muda saat ini mudah “nggumunan lan kagetan”. Setelah demam Jepang, berganti musim menjadi demam Korea; melihat “orang baik” memilih Jokowi, berbondong-bondong orang milih Jokowi; artis meninggal, buru-buru nge-tweet menyatakan bela sungkawa, padahal ketika tetangga ada yang meninggal, sholat jenazah pun tidak.

"Adalah lumrah (namun tidak boleh dikatakan wajar) apabila generasi muda saat ini mudah “nggumunan lan kagetan”"

Ada produk fashion atau gadget terbaru, segera ia merogoh saku atau hutang demi memiliki barang “menggiurkan” itu.

Generasi muda pun banyak yang tercerabut dari akar budayanya. Hapal puluhan lagu Barat tapi satu naskah tembang macapat pun tidak ada yang tahu; fasih berbahasa Inggris atau Perancis namun ketika disuruh berbahasa daerah terkesan kaku dan salah tatabahasa di sana-sini.

Orang yang pakai beskap dalam acara-acara resmi dilarang dan dikatakan kuno, karena jas dikatakan busana yang lebih pantas. Buku-buku tulisan Robert T Kiyosaki atau Robin Sharma diburu, namun Serat Kalatida dan La Galigo sama sekali tak menarik hati.

Orang menyalakan kemenyan dirumahnya dicap musyrik, sedang orang menghancurkan patung-patung klasik atau mengebom situs-situs bersejarah dikatakan suci.

Muncul generasi yang ahistoris. Merayakan Hari Kartini sebatas dengan berkebaya. Ada yang tiba-tiba mengusulkan Indonesia ini dibubarkan lalu diganti saja dengan khilafah. Ada juga yang dengan lucunya mengusulkan Indonesia berbentuk federasi, mengganti provinsi menjadi negara bagian.

Perang Dunia I dan Perang Dunia II akrab di telinga mereka, tetapi Perang Jawa dan Perang Aceh tak pernah mereka insyafi. Dahlan Iskan, Chairul Tandjung, atau Anies Baswedan menurut mereka “keren” , sedangkan nama R.M. Tirtoadisurjo tak pernah bergaung di pikiran dan imajinasi mereka.

"Dahlan Iskan, Chairul Tandjung, atau Anies Baswedan menurut mereka “keren” , sedangkan nama R.M. Tirtoadisurjo tak pernah bergaung di pikiran dan imajinasi mereka"

Dijelaskan bahwa Nusantara sebelum masehi merupakan kekuatan maritim besar dunia (seperti tersirat dari tulisan Ptolomeus, seorang cendikiawan Yunani, sekitar 100 tahun sebelum masehi) tidak percaya, disampaikan bahwa Nusantara dijajah selama 350 tahun diamini begitu saja.

Kegenitan pun meraja lela. Seorang berkoar-koar pernah berbuat ini-itu, padahal memang sudah menjadi tanggung jawab dan kewajibannya.

Di media sosial sangat eksis menjadi pesohor karena pandainya ia berhias mempercantik diri—berhasil menjadi pujaan khalayak, padahal lebih banyak orang di akar rumput yang memiliki kebermanfaat lebih baik, berkarya tanpa pamrih, yang lebih berhak mendapatkan pujian itu.

Lalu ada orang yang karena merupakan lulusan kampus-kampus terbaik di Indonesia maupun mancanegara, seolah-olah ia menjadi orang yang paling berhak dan paling tahu tentang bagaimana menyelesaikan masalah di sekitar, memberadabkan lingkungannya. Padahal ia tidak memiliki modal sosial dan legitimasi sejarah sedikitpun untuk menyatakan klaim tersebut.

Kita juga mudah “gede rasa”. Ketika negara-negara lain atau lembaga-lembaga internasional memuji kemajuan Indonesia, kita menjadi lebih “percaya diri”.

Seolah-olah kekuatan jiwa bangsa ini begitu rapuhnya sehingga semangat hanya muncul ketika dipuji oleh orang lain, bukan berangkat dari kesadaran dan pemahaman yang dalam tentang diri sendiri dan sejarah. Juga terlalu polos, menganggap bahwa “pujian” itu diberikan secara gratis.

Dengan kata lain, generasi muda Indonesia saat ini mengalami banalitas (kedangkalan) yang sangat akut, sifat yang membuat generasi muda kita tidak sadar bahwa walaupun secara politik Indonesia tidak lagi dijajah, tapi secara budaya, penjajahan semakin merajalela.

Penjajahan budaya, dalam arti yang luas, jauh lebih kejam daripada penjajahan politik. Kalau penjajahan politik lebih ke masalah administratif, penjajahan budaya sampai merenggut jati diri masyarakat dan bangsa, membuatnya terus inferior, bermental inlander, menganggap bahwa kemajuan itu seperti Barat atau kesucian itu seperti Arab Saudi.

Pada momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional saat ini (walaupun saya memiliki masalah tentang pemilihan hari kelahiran Budi Utomo yang dianggap sebagai tonggak kebangkitan nasional dan perlu diperingati), marilah sejenak merenung dengan sepi bagaimana kita bisa bersama meningkatkan martabat rakyat dan bangsa, sebagaimana visi dr. Wahidin Soedirohoesodo yang menginspirasi pendirian Budi Utomo, di konteks zaman yang telah berubah ini.

Ketika membaca ulang draft tulisan ini, saya merasa memakan hati berulam jantung. Bukan hanya karena diri sendiri juga tersindir, namun juga karena fenomena budaya pemujaan kedangkalan yang akut ini betapa telah menjungkirbalikkan tatanan yang seharusnya kita bangun: yang keji dianggap mulia, dan yang mulia dianggap keji; yang kanan dianggap kiri, dan yang kiri dianggap kanan; yang atas dianggap bawah, dan yang bawah dianggap atas.

Perjuangan kita yang paling mendasar pada tahun-tahun mendatang adalah melawan banalitas diri kita sendiri: berlatih menempa diri di jalan yang sunyi demi sebuah pemahaman tentang ilmu kasunyatan.

Dengan tidak benci terhadap sesuatu yang “berat” dan tidak mencintai sesuatu karena sesuatu itu “keren”. Dengan berkarya bukan karena demam dan passion, tetapi karena panggilan jiwa dan komitmen. Dengan tidak bercita-cita untuk menjadi seorang kaya, seorang berpangkat, atau seorang pesohor, tetapi menjadi seorang yang kebermanfaatanya dapat dinikmati oleh khalayak publik.

Itulah Revolusi Mental, berkhidmat menjadi orang yang “dalam” secara perasaan, pikiran, maupun perbuatan. Itulah bagaimana kita seharusnya memaknai semangat kebangkitan nasional kali ini.

 

1027 Views

Author Overview


Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia