selasar-loader

Narkoba: Pemicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal May 20, 2015

Minggu ini kita dikejutkan dengan beberapa berita mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Berita mengenai salah seorang anak yang diterlantarkan oleh orang tuanya hingga sebulan lamanya di bilangan Cibubur, yang kemudian setelah aparat Kepolisian, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta Kementerian Sosial mengevakuasi si anak didapatkan fakta mengejutkan mengenai saudara-saudara kandung yang turut mendapatkan trauma di dalam pengasuhannya.

Situasi dan kondisi rumah yang sangat berantakan – tidak terurus, sikap orang tua korban yang berbicara kacau dan berciri paranoid, bau alkohol yang tercium pada saat si bapak dibawa oleh aparat Kepolisian, hingga ditemukannya paket narkoba berjenis shabu beserta alat untuk mengonsumsinya (Bong).

Situasi ini menimbulkan berbagai pertanyaan kritis, semisal apakah perilaku orang tua yang menelantarkan anak tersebut akibat gangguan jiwa, narkoba, atau bahkan karena keterlibatan orang tua dalam aliran sesat tertentu?

Fakta di lapangan dengan ditemukannya narkoba berjenis shabu, bong, nafas berbau alkohol, hingga pengakuan tetangga yang sering mendengar musik yang disetel keras-keras, mengarahkan kecurigaan bahwa perilaku KDRT yang dilakukan oleh orang tua tersebut bisa jadi dipicu oleh pemakaian narkoba.

Mengapa Orang Menggunakan Narkoba?

Pemakaian narkoba adalah akibat interaksi yang kompleks antara berbagai faktor, baik faktor biologi; mekanisme kerja otak; genetik; hingga lingkungan psiko-sosial-cultural. Tidak hanya orang yang berpendidikan rendah, atau dalam situasi sosio -ekonomi yang berantakan, orang-orang dengan tingkat pendidikan tinggi, anak-remaja, dewasa, hingga lanjut usia dapat terjerat oleh pemakaian dan kecanduan narkoba.

National Institue on Drug Abuse (NIDA), dalam publikasinya yang berjudul Drugs, Brain, and Behavior: The Science of Addiction (2014), menyebut beberapa alasan orang menyalahgunakan narkoba, yaitu:

  • To feel Good

Orang memakai narkoba untuk mendapatkan efek pleasure atau euforia yang kemudian diikuti oleh perasaan percaya diri, merasa kuat dan berenergi terutama pada penggunaan stimulan seperti shabu (methamphetamine) dan cocain, atau perasaan rileks dan nyaman pada penggunaan opiat seperti heroin.

  • To feel Better

Pemakaian narkoba dipicu oleh stres psikososial, atau ganguan cemas, dan depresi, sehingga pengguna merasa setelah memakai narkoba, perasaan-perasaan tersebut dapat terobati.

  • To do Better

Pemakaian narkoba ditujukan untuk meningkatkan kemampuan kognitif, atau peningkatan performa fisik. Alasan ini sering didapatkan pada atlet-atlet yang menggunakan anabolik steroid.

  • Curiosity

Pemakaian narkoba karena rasa penasaran, atau tekanan rekan sebaya, atau keinginan untuk mengekspresikan kemandirian berfikir dan bertindak sering kali ditemukan pada para remaja dan dewasa muda.

Narkoba Mengubah Perilaku

NIDA juga menyebutkan bahwa orang dewasa yang mengalami permasalahan penyalahgunaan narkoba sering kali mempunyai masalah dalam berfikir jernih, mempertahankan atensi, mengingat, masalah emosional yang kemudian berkembang menjadi kekacauan perilaku sosial semisal performa kerja yang rendah, dan hubungan antar personal yang bermasalah.

Begitu juga dengan para orang dewasa yang sudah membina rumah tangga dan menjadi orang tua, penyalahgunaan narkoba akan memicu penelantaraan anak, child abuse, serta kekerasan dalam rumah tangga terhadap pasangannya.

Mengapa hal ini terjadi?

Target organ yang diserang oleh narkoba adalah otak. Otak merupakan organ penting dalam tubuh manusia yang mengatur berbagai fungsi kehidupan termasuk di dalamnya perilaku. Bagian-bagian otak yang terpengaruh oleh pemakaian narkoba adalah (NIDA : The Science of Drug Abuse, 2014) :

  • Batang otak (Brain Stem) yang berperan dalam fungsi-fungsi vital manusia
  • Cortex Cerebri, di mana setiap area mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Cortex bagian depan (Frontal Cortex) adalah pusat berfikir, area ini bertanggung jawab agar kita dapat berfikir, merencanakan sesuatu, memutuskan dan menyelesaikan masalah.
  • Sistem Limbic, area yang berperan dalam proses kesenangan, mengatur emosi dan motivasi

Pemakaian narkoba akan memanipulasi Reward System di dalam otak baik secara langsung maupun tidak langsung. Manipulasi terjadi pada sistem neurotransmitter monoamine, terutama sistem dopamine di dalam otak, serotonin, dan noradrenaline. Neurotransmitter monoamine ini berperan dalam motivasi, mood, fungsi kognitif, nafsu makan, perilaku seksual, memori, agresivitas, kecemasan, iritabilitas, dan impusifitas yang satu sama lain saling beririsan.

Selain itu neurotransmitter lain seperti GABA dan Glutamate juga terpengaruh oleh pemakaian narkoba (The Psychology of Addictive Behaviour, 2010). Paparan narkoba yang lama dan terus-menerus terhadap otak, berakibat pada timbulnya gangguan pada sistem tersebut, yang manifestasinya dapat terlihat sebagai perubahan perilaku maupun fisik.

Perubahan perilaku adalah hal yang dapat kita lihat dengan mudah pada pemakai maupun pecandu narkoba. Perilaku-perilaku adiksi yang dapat kita amati adalah gangguan pola tidur, gangguan emosional dengan manifestasi seperti mudah marah, dan agresif, serta gangguan berpikir dimana para penyalahguna tersebut tidak dapat memutuskan sesuatu dengan jernih dan benar.

"Pada kasus penelantaran anak di Cibubur, kita dapat melihat hal tersebut sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh media massa seperti keyakinan bahwa anak adalah milik orang tua yang dapat diperlakukan sesuka hati, atau keyakinan bahwa tetangganya yang menculik dan menyekap anak tersebut"

Kegagalan sistem alami pada tubuh akibat narkoba ini juga dapat memicu gangguan kejiwaan. Journal American Medical Association (JAMA) pada tahun 1990 menerbitkan sebuah penelitian mengenai gangguan jiwa pada penyalahguna zat.

Tercatat bahwa kurang lebih 50% penyalahguna zat juga mengalami gangguan jiwa, paling sering ditemukan adalah dengan gangguan bipolar, kemudian schizophrenia, gangguan depresi mayor, gangguan panik, dan juga gangguan obsesif kompulsif.

Pada pemakaian shabu (methamphetamine) misalnya, dapat memicu gangguan paranoid dan psikosis akibat zat, sehingga para penyalahguna yang mengalami hal ini akan mudah sekali curiga, menuduh orang lain berbuat jahat pada dirinya, dan timbul keyakinan-keyakinan yang salah terhadap sesuatu hal. Pada kasus penelantaran anak di Cibubur, kita dapat melihat hal tersebut sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh media massa seperti keyakinan bahwa anak adalah milik orang tua yang dapat diperlakukan sesuka hati, atau keyakinan bahwa tetangganya yang menculik dan menyekap anak tersebut.

"Tak hanya di Cibubur, kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga akibat salah satu pasangan atau keduanya memakai narkoba sering kali ditemukan dalam proses assessmen di tempat rehabilitasi"

Tak hanya di Cibubur, kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga akibat salah satu pasangan atau keduanya memakai narkoba sering kali ditemukan dalam proses assessmen di tempat rehabilitasi. Pemukulan terhadap pasangan, penelantaraan anak ampun pasangan, hingga memakai narkoba di depan anak seakan lumrah dalam kehidupan para pecandu.

Hal ini tentu sangat memperihatinkan. Keluarga yang semestinya adalah benteng agar anak tidak memakai narkoba justru kemudian mengalami disfungsi yang dapat memicu pemakaian narkoba pada si anak kelak.

Perlunya upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba pada orang dewasa

Secara teoritis, adiksi memang dimulai pada usia dini, sehingga upaya-upaya kampanye pencegahan penyalahgunaan zat banyak dilakukan pada kalangan anak dan remaja. Namun juga tidak boleh dilupakan kampanye pencegahan penyalahgunaan zat pada kalangan dewasa.

Situasi stressor psikososial yang meningkat, tuntutan di tempat kerja yang tinggi, kemacetan luar biasa yang menghabiskan waktu, serta lingkungan pergaulan yang semakin hedonis materialistis adalah beberapa hal yang dapat berimplikasi pada penyalahgunaan zat pada orang dewasa.

Data di Balai Besar Rehabilitasi BNN, menunjukkan fakta bahwa usia paling banyak dirawat adalah rentang usia 26 hingga 30 tahun, yang merupakan usia produktif serta usia membangun rumah tangga.

Pencegahan primer pada kelompok dewasa dapat berupa pemberian pengetahuan mengenai efek dari narkoba, cara komunikasi efektif, kemampuan berfikir dan bertindak asertif, coping stres yang baik, Anger Management, serta parenting skill yang baik bagi mereka yang sudah berumah tangga.

Sementara itu pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan segera memberikan konseling dan terapi bagi mereka yang mulai menyalahgunakan narkoba, atau membawa para penyalahguna ke Institusi Penerima Wajib Lapor untuk dilakukan penilaian tingkat ketergantungan dan rencana rawatannya.

Gerakan stop cuek pada kondisi sekitar perlu semakin digencarkan, sehingga tercipta kondisi hubungan antar masyarakat yang hangat, saling mengingatkan, dan juga mempunyai efek terapeutik, yang pada akhirnya menjadi faktor protektif dari penyalahgunaan zat pada semua lapisan masyarakat.

 

 

1051 Views