selasar-loader

Smartphone, Bikin Kecanduan?

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal May 14, 2015

Siapakah yang tidak mengenal smartphone? Pada umumnya masyarakat di Indonesia sangat mengenal gadget yang satu ini dengan berbagai merek yang tersedia. Pun smartphone sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat masa kini.

Pergi ke mana pun yang di bawa adalah smartphone, ke kantor, ke mall, jalan-jalan, hingga masuk toiletpun smartphone masih digunakan. Sedemikian seringnya digunakan sehingga jika smartphone tertinggal di rumah, tidak dibawa, maka pemilikpun akan merasa gelisah dan cemas.

Di Amerika, berdasarkan studi dari Pew Research Center’s Internet and American Life Project menemukan fakta bahwa 56% orang dewasa di Amerika mempunyai dan menggunakan smartphone. Sementara itu berdasarkan survei yang dilakukan oleh Google dan Ipsos Media CT pada tahun 2013 menunjukkan dari 500 orang yang disurvei, 61 % menggunakan smartphone dalam tujuh hari terakhir. 73% orang yang disurvei juga mengatakan mereka tidak keluar rumah tanpa smartphone, bahkan 39% menyatakan lebih baik tidak diperbolehkan menonton televisi dari pada tidak boleh menggunakan smartphone.

Benarkah Smartphone Membuat Kecanduan?

Daily Mail melaporkan studi yang dilakukan oleh Universitas Derby di Inggris mengemukakan fakta bahwa 13 % dari 256 responden kecanduan smartphone. Dengan rata-rata penggunaan sekitar 3.6 jam per hari.

Penelitian ini mencatat bahwa semakin sering seseorang menggunakan smartphone, semakin besar resiko kecanduannya. Salah satu peneliti, Dr Zaher Husain juga menjelaskan bahwa tingginya skor narsisitik pada pengguna smartphone merupakan tanda yang jelas dan sering ditemukan pada penderita kecanduan smartphone.

"Obsesi untuk selalu berfoto selfie dan memostingnya pada media sosial juga merupakan salah satu gejala dari kecanduan ini"

Obsesi untuk selalu berfoto selfie dan memostingnya pada media sosial juga merupakan salah satu gejala dari kecanduan ini. Dr Zaher juga mengatakan adanya satu hubungan yang positif antara narsisistik dan kecanduan smartphone. Semakin narsisistik seseorang, semakin tinggi resiko kecanduan smartphone.

Penelitian yang dilakukan oleh Leslie Perlow, dari Harvard Business School juga mengemukakan fakta menarik. Dari 1600 orang manajer dan profesional yang disurvey ditemukan bahwa 70% mengatakan mengecek smartphone mereka dalam satu jam begitu bangun dari tidur, 56% mengecek telepon mereka menjelang tidur, bahkan 44% mengatakan mereka mengalami cemas ketika kehilangan telepon mereka serta ketika belum dapat menggantinya dalam waktu seminggu.

Studi yang dilakukan oleh Versapak menemukan fakta bahwa 41% orang Inggris merasa cemas dan tidak terkontrol ketika mereka terpisahkan dari smartphone maupun tabletnya, dan 51% mengalami extreme tech anxiety pada satu waktu tertentu.

Kecemasan berlebih akibat teknologi yang dimaksud adalah perasaan sangat tertekan ketika berpisah dari teknologi, dengan perasaan kehilangan sesuatu seperti saat khawatir kita tidak tahu apa yang terjadi, maupun khawatir ketika sesuatu terjadi tanpa sepengetahuan kita.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2011 mengatakan bahwa lebih dari setengah orang dewasa dan dua pertiga remaja menggunakan smartphonenya ketika mereka bersosialisasi dengan orang lain.

Maka tidak mengherankan jika kemudian muncul anekdot di tengah masyarakat bahwa smartphone mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Penggunaan Smartphone yang berlebihan ini juga erat kaitannya dengan kecanduan Internet dan kecanduan Games. Dengan hadirnya smartphone, penggunaan Internet dan Games yang merugikan seakan semakin terfasilitasi.

Para pecandu Internet dan Games yang dahulu membutuhkan perangkat yang lebih besar seperti PC dan Laptop, sekarang tidak membutuhkan lagi hal tersebut. Pemenuhan kebutuhan mereka cukup dari genggaman tangan dengan smartphone maupun tablet.

Tidak mengherankan jika kemudian timbul larangan dan himbauan untuk tidak menggunakan smartphone di tempat-tempat atau situasi tertentu, seperti ketika menghendaki mobil/motor, yang selain membahayakan diri sendiri juga berpotensi membahayakan orang lain.

Pada film Avenger: Age of Ultron juga digambarkan bagaimana perilaku kecanduan Internet lewat smartphone, yakni pada adegan ketika salah satu hacker perempuan yang dengan percaya dirinya dapat meretas lampu lalu lintas dengan smartphone-nya kemudian tertabrak mobil sewaktu menyeberang jalan, karena fokus terus pada smartphone-nya.

Segala sesuatu berpotensi untuk disalahgunakan, termasuk teknologi smartphone. Teknologi sudah semestinya menjadi teman yang membantu kehidupan kita sehari-hari, bukan menjerumuskan kita pada perilaku kompulsif yang merugikan.

Penggunaan smartphone yang bijak mestilah di kampanyekan, tidak terbatas untuk tetap bijak berkata-kata di media sosial, namun juga pengertian bahwa telepon pintar hanyalah sebuah alat yang seharusnya membantu, bukan memisahkan kita dari sosialisasi yang riil, hubungan antar manusia yang hangat dan saling bermanfaat.

Jadi, apakah anda seorang pecandu smartphone?

 

 

593 Views