selasar-loader

NPS: Ancaman Baru Kesehatan Masyarakat

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal May 11, 2015

Beberapa hari yang lalu, publik dikejutkan dengan penemuan narkoba dalam bentuk makanan, dan juga narkoba jenis baru. Narkoba berjenis CC4 (baca : xixi four) disinyalir diedarkan oleh jaringan bandar narkoba Freddy Budiman dengan melibatkan oknum petugas lapas.

CC4 merupakan salah satu dari ratusan narkoba jenis baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan New Psychoactive Substances (NPS). United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) mendefinisikan NPS sebagai zat yang disalahgunakan baik dalam bentuk murni maupun bentuk yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa, yang tidak diatur dalam konvensi tunggal narkotika tahun 1961 atau konvensi tentang zat psikotropika tahun 1971, serta berpotensi sebagai ancaman kesehatan masyarakat.

Istilah “New” pada NPS tidak selalu bermakna sebagai penemuan baru, beberapa NPS pertama kali dibuat sekitar 40 tahun yang lalu. Istilah “New” ini sebenarnya merujuk pada pengertian bahwa zat ini muncul di pasaran baru-baru ini dan belum diatur dalam konvensi seperti yang telah disebutkan.

NPS Merupakan Isu Global

Sebanyak 70 negara dari berbagai kawasan telah melaporkan ancaman dari NPS yang telah beredar dan digunakan secara luas. UNODC dalam laporan yang berjudul Global Synthetic Drugs Assessment (2014) mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan dari NPS ini.

Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 166 jenis NPS, kemudian meningkat lebih kurang 50 persen pada pertengahan tahun 2012, yaitu sebanyak 251 jenis, sementara pada akhir 2013 sudah mencapai angka 350 jenis NPS.

"Sebanyak 70 negara dari berbagai kawasan telah melaporkan ancaman dari NPS yang telah beredar dan digunakan secara luas. UNODC dalam laporan yang berjudul Global Synthetic Drugs Assessment (2014) mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan dari NPS ini"

European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction (EMCDDA) juga mencatat pertumbuhan yang signifikan dari NPS ini. Pada tahun 2014 EMCDDA melaporkan ada 101 jenis NPS, terdiri dari 31 jenis cathinones, 30 cannabinoids, 9 phenetylamines, 5 opioids, 5 tryptamines, 4 benzodiazepines, 4 arylalkylamines, dan 13 zat yang belum terkonfirmasi golongannya. Hingga bulan Maret tahun 2015 terdapat lebih dari 450 jenis NPS yang dipantau oleh EMCDDA (New Psychoactive Substances in Europe, Maret 2015).

Di Indonesia, NPS mulai ramai diperbincangkan sejak salah satu pesohor ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional, karena menggunakan zat yang disebut dengan Methylone. Methylone merupakan salah satu turunan dari katinona sintetik yang berbeda dari katinona alami seperti daun Khat atau teh Arab.

Badan Narkotika Nasional sendiri telah mendeteksi 35 NPS yang masuk ke Indonesia, dan 18 diantaranya telah masuk dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009.

Smith dan Garlich (2013) menyebutkan para penyalahguna mendapatkan NPS dari tiga sumber utama, yaitu:

  • Penjual Online di Internet,
  • Toko-toko di jalan raya, dan
  • Penjual non vendor, seperti teman, atau pengedar narkoba lainnya.

Di negara-negara barat, NPS banyak dijual di toko-toko retail di pom bensin. Di pasaran NPS dikenal dengan sebutan seperti “Designer Drugs”, “Legal High”, “Garam Mandi (Bath Salt)”, “Herbal Highs”, “Research Chemical”, “Plant Food”, dan “Laboratory Reagents”.

Penggunaan istilah-istilah tersebut adalah salah satu cara agar NPS terkesan legal untuk dijual, serta menghindari jeratan hukum, pun banyak produk NPS diberi label “Bukan Untuk Konsumsi Manusia” pada kemasannya.

Survey Eurobarometer tahun 2014 pada 13.000 orang usia 15 – 24 tahun di negara-negara Uni Eropa menemukan bahwa 8 persen responden pernah menggunakan NPS paling tidak sekali, dan 3 persen diantaranya menggunakan dalam setahun terakhir.

Banyaknya anak muda yang penasaran menggunakan NPS, serta kemudahan mendapatkannya melalui toko Online menimbulkan kekhawatiran akan melonjaknya kasus-kasus penyalahgunaan NPS, sementara di sisi lain efek jangka panjang penggunaan NPS belum banyak diketahui.

EMCDDA menyebutkan terdapat tiga kelompok utama dari NPS yang sering digunakan, yaitu Cathinone sintetik, Cannabinoid sintetik, dan kelompok opioid. Masing-masing kelompok mempunyai jenis yang sangat banyak. Cannabinoid atau Ganja sintetik menempati urutan pertama dengan 134 jenis, merek yang terkenal adalah K2 / Spice; disusul oleh Cathinone sintetik dengan 77 jenis, diantaranya adalah methylone (molly, vitamin r, top cat, explosion) dan mephedrone (m-cat,miaow, meph, drone).

NPS lain yang juga sering disalahgunakan adalah Ketamine, GHB (Gamma Hydroxybutyrate), BZP (1-benzylpiperazine), Krokodil, serta NPS yang berasal dari tanaman seperti Kratom, Salvia, dan Khat.

Efek penyalahgunaan NPS dan Upaya Penanggulangannya

Penggunaan NPS sangat erat hubungannya dengan efek pada kesehatan manusia. Di Amerika Serikat, para pengguna NPS sering di bawa ke unit gawat darurat rumah sakit karena intoksikasi yang berat.

Terdapat juga laporan yang menyebutkan banyaknya kejadian bunuh diri yang berhubungan dengan penggunaan NPS. Data di United Kingdom menyebutkan terjadi peningkatan kematian akibat NPS, dari 29 kematian di tahun 2011 menjadi 52 kematian di tahun 2012, dan mayoritasnya disebabkan oleh penggunanan kelompok cathinone (18 kasus).

Efek stimulan halusinogen sering terdapat dalam NPS. Bath Salt (sintetik Cathinone) akan mengakibatkan terjadinya kondisi euforia, peningkatan nafsu seksual, dan kemampuan bersosialisasi.

Pada kasus yang lain penggunaan Bath Salt memicu terjadinya perilaku kekerasan, agitasi, paranoia, halusinasi – delirium, dan psikosis. Efek lain yang mungkin timbul adalah tekanan darah tinggi, nyeri dada, gangguan irama jantung, dehidrasi serta kerusakan pada ginjal. Potensi ketergantungan Bath Salt sangat tinggi. Jika seseorang telah mengalami ketergantungan terhadap zat ini, dapat timbul gejala putus zat yang berat ketika tidak menggunakannya (NIDA, 2012).

Ganja sintetik seperti Spice juga memiliki efek yang berbahaya. Gejala-gejala akut yang muncul mirip dengan gejala pemakaian ganja biasa, seperti mata merah, sedikit cemas, halusinasi - psikosis, peningkatan detak jantung (takikardi) serta defisit pada memori.

Gejala lainnya adalah kejang, penurunan kadar kalium (hipokalemi), mual muntah, tekanan darah tinggi, agitasi, perilaku kekerasan, bahkan koma. Sementara itu Krokodil, NPS yang termasuk dalam golongan opioid –desomorphine- mempunyai akibat yang sangat mengerikan, kerusakan jaringan otot karena menyuntikkan heroin versi murah ini, dapat membuat kulit bersisik berwarna hijau seperti kulit buaya, hingga pada akhirnya otot-ototnya rusak berat dan lepas dari tubuh.

Begitupula dengan CC4 (cytisine dimer1,2-bisN-cytisinylethane), zat yang diciptakan sebagai salah satu bentuk terapi kecanduan nikotin,dan masih dalam tahap penelitian justru disalahgunakan untuk tujuan rekreasi, padahal terdapat banyak efek samping yang membatasi penggunaan zat ini. Tak hanya bahaya dari sudut pandang kesehatan, efek dari pemakaian NPS dapat memicu masalah sosial lainnya.

"Tak hanya bahaya dari sudut pandang kesehatan, efek dari pemakaian NPS dapat memicu masalah sosial lainnya"

Agitasi dan perilaku kekerasan, dapat meningkatkan angka tawuran pada remaja, kekerasan dalam rumah tangga serta perilaku kriminal lainnya seperti pembegalan, pencurian dan perampokan; peningkatan nafsu seksual juga dikhawatirkan akan memperbanyak kasus-kasus sex berisiko, pemerkosaan, hingga penularan HIV/AIDS yang tidak terkendali.

Gangguan cemas dan halusinasi/psikosis dapat meningkatkan angka kejadian bunuh diri sebagaimana dicatat oleh banyak negara. Pun dengan defisit memori yang terjadi akan mengakibatkan daya saing bangsa menjadi turun.

Upaya membendung peredaran NPS memerlukan komitmen yang serius dari seluruh komponen masyarakat. Tidak hanya kekompakan aparat penegak hukum, komponen masyarakat lain yang harus mengerti akan bahaya dari pemakaian NPS.

Terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor 13 Tahun 2014 mengenai perubahan jenis-jenis narkotika pada lampiran UU 35/2009, adalah salah satu usaha konkret yang sangat bagus.

Berkaca dari negara-negara lain, upaya mencegah penyebarluasan NPS tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum. Pendekatan ini ibarat sebuah perlombaan, setiap salah satu jenis NPS dilarang secara hukum, pada saat yang bersamaan akan muncul NPS lain yang belum terakomodir di dalam sebuah aturan. Oleh karena itu pendekatan –pendekatan lain juga perlu dilakukan, melengkapi pendekatan revisi peraturan perundangan yang ada.

Monitoring ketat terhadap NPS perlu dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait, Polri, BNN, Badan POM, Kementerian Kesehatan, hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika. Perubahan pola interaksi sosial di masyarakat menuntut pengamatan yang tepat dan jeli.

Monitoring dan evaluasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, survey penggunaan NPS perlu ditambahkan dalam survey-survey tahunan penggunaan zat, uji limbah air pembuangan seperti yang dilakukan oleh negara-negara Uni Eropa, uji toksikologi forensik pada kasus-kasus yang dicurgai akibat pemakaian NPS, pemantauan penjualan NPS di Internet, hingga pengawasan rokok elektrik yang dapat digunakan sebagai sarana memakai NPS dalam bentuk cair.

Yang tidak boleh dilupakan adalah pendekatan secara kesehatan masyarakat. Kampanye dan edukasi mengenai bahaya NPS perlu digencarkan, agar masyarakat luas mempunyai mind set yang benar terhadap NPS serta tidak menganggap NPS sebagai zat dengan potensi ancaman kesehatan yang rendah.

 

 

1116 Views