selasar-loader

Adakah keringanan tidak berpuasa bagi para pekerja berat?

LINE it!
Answered Jun 08, 2017

Islami.co Indonesia
menyebarluaskan informasi dan gagasan yang mendukung toleransi dan kedamaian

WtC8HDtTuR9zf77WHGjnaYrxMi3L5sRP.jpg

Menurut M. Mubasysyarum Bih Ridlwan,

Syariat Islam (baca; fikih) adalah sebuah aturan legal-formal yang cukup memberikan ruang kelonggaran bagi umat Islam. Ia bersifat elastis, fleksibel, dan tidak memberi beban kepada umatnya kecuali sesuai batas kemampuannya. Tak terkecuali ihwal puasa bagi kaum muslim yang berprofesi sebagai “pekerja berat”.

Tuntutan memberi nafkah keluarga di satu sisi, dan kewajiban berpuasa di siang hari bulan Ramadan di sisi lain, bagi para pekerja seperti sopir, petani, kuli bangunan dan pekerjaan berat lainnya cukup memberatkan untuk tetap berpuasa di siang bulan Ramadan. Pertanyaannya kemudian bagaimana pendapat para ulama terkait masalah ini? Berikut penjelasannya:

Imam al-Adzra’i dari kalangan madzhab Syafi’i memberikan fatwa bahwa diwajibkan bagi para petani dan para pekerja berat lainnya untuk melaksanakan niat berpuasa Ramadan di setiap malam hari bulan Ramadan. Kemudian bila di siang harinya mengalami kepayahan yang berat dengan standar mubih al-tayammum (kepayahan setingkat hal-hal yang memperbolehkan tayamum), diperbolehkan berbuka puasa dan wajib meng-qadla’ puasa yang ditinggalkan.

Dispensasi kebolehan berbuka puasa bagi pekerja berat tidak dibedakan antara orang kaya maupun miskin. Namun, Sulaiman al-Kurdi membatasi hanya jenis pekerjaan yang apabila ditinggalkan di siang hari maka terdapat kerugian harta yang memiliki nilai menurut standar umumnya.

Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Syatha’ dalam karyanya I’anah at-Thalibin (Vol. II.2, hal.268 mengatakan:

وَأَفْتَى الْأَذْرَعِيُّ بِأَنَّهُ يَلْزَمُ الْحَصَّادِيْنَ أَيْ وَنَحْوَهُمْ تَبْيِيْتُ النِّيَّةِ كُلَّ لَيْلَةٍ ثُمَّ مَنْ لَحِقَهُ مِنْهُمْ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ أَفْطَرَ وَإِلَّا فَلَا (قوله أي ونحوهم) كَأَرْبَابِ الصَّنَائِعِ الشَّاقَّةِ وَفِي الْكُرْدِيِّ مَا نَصُّهُ ..الى ان قال …..وَقَضِيَّةُ إِطْلَاقِهِ أَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ اْلأَجِيْرِ الْغَنِيِّ وَغَيْرِهِ وَالْمُتَبَرِّعِ نَعَمَ اَلَّذِيْ يَتَّجِهُ تَقْيِيْدُ ذَلِكَ بِمَا إِذَا احْتِيْجَ لِفِعْلِ تِلْكَ الصَّنْعَةِ بِأَنْ خِيْفَ مِنْ تَرْكِهَا نَهَارًا فَوَاتُ مَالِهِ وَقَعَ عُرْفًا (قوله ثم من لحقه إلخ) أَيْ ثُمَّ إِذَا بَيَّتَ النِّيَّةَ وَأَصْبَحَ صَائِمًا فَإِنْ لَحِقَهُ مِنْ صَوْمِهِ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ بِحَيْثُ تُبِيْحُ التَّيَمُّمَ أَفْطَرَ وَإِنْ لَمْ تَلْحَقْهُ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ بِهِ فَلَا يُفْطِرُ

“Imam al-Adzhra’i berfatwa bahwa wajib bagi para petani dan sesamanya, yaitu para pekerja berat untuk melaksanakan niat di setiap malam, kemudian bila di siang hari saat berpuasa mengalami kesulitan yang berat, sekira memperbolehkan tayamum, maka boleh berbuka puasa. Apabila tidak mengalami “masyaqqah” (kesulitan atau kepayahan yang sangat, ed), maka tidak boleh berbuka puasa. Sulaiman al-Kurdi memberi penjelasan; Kemutlakan pendapat al-Adzra’i ini tidak membedakan antara pekerja yang kaya dan lainnya, buruh yang digaji atau sukarelawan. Hanya saja pekerjaan tersebut perlu dibatasi sekira seseorang membutuhkannya, yang sekiranya apabila tidak bekerja di siang hari maka terdapat kerugian harta yang memiliki nilai menurut pandangan umum”.

Lebih lanjut, baca di sini

sumber foto: islami.co
 

444 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored