selasar-loader

Sejauh mana batasan marah dalam membatalkan puasa Ramadan?

LINE it!
Answered Jun 05, 2017

Dalam hal membatalkan puasa, terdapat batas yang jelas ketika makan dan minum (ketika makanan/minuman ditelan dengan sadar/sengaja, maka puasa batal). Namun, bagaimana menilai batasan marah sebagai hal yang dapat membatalkan puasa? Adakah dalil Alquran, hadits, atau setidaknya ijtihad para ulama terkait hal ini?


Mhd Fadly
KPI Fak. Agama Islam UMSU, Alumni Pon-pes Ibadurrahman Stabat

mj3fRaG6LcyCCA2Vhy0RAXQAa8xO6PbP.jpg

Perbuatan seperti ini tidak membatalkan puasanya, namun mengurangi pahalanya. Karenanya, wajib atas seorang muslim untuk menahan diri dan menjaga lidahnya dari perbuatan mencela, ghibah (mengunjing), menebar fitnah dan berbagai perbuatan yang diharamkan Allah pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya.

Dan semestinya, pada bulan Ramadhan lebih ketat lagi, demi menjaga kesempurnaan ibadah puasanya, demi menghindari segala yang menyakiti orang lain serta yang menyebabkan fitnah, permusuhan dan perpecahan. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنَّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Jika salah seorang di antara kalian melaksanakan ibadah puasa, maka janganlah ia mengucapkan perkataan kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ia dicaci oleh orang atau hendak diajak berkelahi, maka hendaknya ia mengatakan ‘Aku sedang puasa.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Wabillahit taufiq, washallahu ‘ala nabiyina Muhammadin wa ‘alihi wa shahbihi wa sallam.

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhutsil ‘Ilmiyah Wal Ifta’, X/333).

 

405 Views
Write your answer View all answers to this question