selasar-loader

Bagaimana aturan dalam menulis ulang konten dari bahasa asing ke Bahasa Indonesia?

LINE it!
Answered Jun 03, 2017

Selamat siang teman-teman di Selasar.

Saya ingin bertanya, apakah teman-teman di sini ada yang mengetahui aturan dalam menulis ulang konten untuk dimuat di blog kita sendiri?

Secara garis besar, ada 2 kasus yang ingin saya tanyakan:

1. Katakanlah konten dalam situs yang ingin kita salin adalah situs berbahasa asing, lalu, kita men-translate-nya dan menerbitkannya di blog kita. Adakah aturan-aturan baku yang universal (artinya aturan tersebut sudah dipahami dan dipatuhi oleh seluruh penulis konten di seluruh dunia, di jagad ini, sehingga terhindar dari jerat hukum) atau hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum kita melakukan hal tersebut?

 2. Lalu, misalnya, dalam blog yang ingin kita salin tersebut, ternyata ada aturan terkait permission atau izin, di mana aturan izin tersebut menyebutkan bahwa kita harus membayar sejumlah fee tertentu sebelum kita mem-publish ulang di blog kita. Apabila dalam aturan tersebut, hanya dikatakan bahwa memuat ulang saja yang membayar, sedangkan untuk men-translate-nya ke bahasa kita, kita tulis ulang dengan bahasa kita sendiri, lalu mem-publish-nya tidak tertulis aturan yang jelas (atau lebih tepatnya tidak ada aturan tersebut), apakah sebaiknya kita tetap melanjutkan men-translate konten tersebut lalu mem-publish-nya, atau bertanya dahulu pada situs tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti penuduhan plagiarisme atau pencurian konten?

Mohon pencerahannya.

Terima kasih.


Arfi Bambani
Eks jurnalis detik.com dan viva.co.id | Sekjen AJI 2014-2017

llNBmBRDtdGGytQTY9lxyMa7fzxANNBj.jpg

Sudah pasti Anda terikat dengan copyrights atau hak cipta. Di negara-negara yang penegakan hukumnya maju, seperti Australia misalnya, mengutip untuk catatan akhir/ kaki juga dikategorikan menggunakan copyrights si pemilik kutipan asli.

Saya punya kenalan, dulu dia bekerja di asosiasi jurnalis Australia, dengan rincian pekerjaannya adalah menyurati setiap orang yang menulis dengan mengutip tulisan wartawan-wartawan di media Australia. Jerih payahnya ini  bisa menghasilkan penghasilan ratusan dolar per bulan untuk seorang wartawan, hanya dari meminta copyrights!

Artinya, pertanyaan, apakah ditulis ulang atau tidak, sebagian atau tidak, apakah melanggar copyrights, jawabannya adalah iya melanggar. Secara etik, Anda wajib mencantumkan sumber atas tulisan Anda. Etik itu kemudian membuat Anda terkena implikasi copyrights.

Bagaimana penegakannya di Indonesia?

Karena Indonesia bergabung dalam organisasi perdagangan dunia (WTO) yang memiliki Konvensi mengenai Intellectual Property Rights, tak lama Indonesia meratifikasinya. Pelan-pelan, beberapa undang-undang disusun menyesuaikan diri dengan konvensi internasional itu.

Menurut pengacara Damar Swarno Dwipo, kini Indonesia sudah memiliki aturan mengenai hak atas kekayaan intelektual yang komprehensif, mencakup hampir segala aspeknya antara lain copyrights, trademarks, dan paten. Hal tersebut berarti, jika pemilik konten berbahasa asing yang Anda sadur hendak mengejar Anda atas dugaan pelanggaran, jelas mereka sangat bisa melakukan karena memang sudah diatur juga oleh peraturan perundang-undangan kita sendiri.

Lalu bagaimana cara menghindarinya?

Nah, syukurlah di dunia internasional ada gerakan yang mencoba melawan tirani atau dominasi WTO ini. Gerakan ini menyebut dirinya sebagai "copyleft", yang dari namanya saja sudah menunjukkan ideologinya atas rezim copyrights. Apa itu Copyleft?

Wikipedia menyebut, gerakan ini sebenarnya bentuk alternatif atas lisensi copyrights yang rigid membatasi reproduksi, penyebaran atau peniruan. Nah, copyleft tidak membatasi itu semua, hanya mensyaratkan pengakuan atas pemilik karya tersebut. Untuk mendalami copyleft ini, coba Anda Google saja katanya, sekalian dengan Creative Commons, sebuah organisasi yang gencar memperjuangkan copyleft ini.  (Sebagai contoh, foto yang saya pakai untuk jawaban ini menggunakan salah satu lisensi Creative Commons).

Selain copyleft, ada juga namanya free-license atau bebas lisensi. Perundang-undangan kita mengatur, ada beberapa properti yang bebas linsensi, misalnya adalah yang diproduksi oleh negara atau karya intelektual tertentu yang sudah berusia lebih dari 50 tahun. Anda tinggal pelajari saja beberapa undang-undang yang terkait dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual untuk mendapat rinciannya.

Di dunia internasional, ada semacam gerakan bahwa "produksi negara" ini juga mencakup produksi apapun yang disponsori negara. BBC Inggris misalnya, adalah saluran berita yang dibiayai pajak rakyat Inggris. Aljazeera juga adalah disponsori salah satu negara di Timur Tengah. Voice of America (VOA) juga dibiayai dari pajak rakyat Amerika Serikat.

Namun untuk amannya, penyaduran "produksi negara" ini sebaiknya bukan untuk kepentingan komersial. Jika Anda seorang blogger yang tak berniat mencari keuntungan ekonomi langsung dari tulisan saduran Anda, saya rasa tak ada salahnya mencoba menyadur dari situs-situs seperti BBC ini.

Semoga bisa membantu.

800 Views
Yudha Eri Saputra

Baik terima kasih sekali mas Arif Bambani untuk jawabannya yang sangat detail dan pemaparan fakta berbasis pengalaman yang sangat memberikan pemahaman kepada saya akan dunia kepenulisan konten. 


Memang mungkin niatan awal saya adalah untuk membagikan ilmu pengetahuan, namun seiring berjalannya waktu, pemikiran untuk monetizing mulai muncul dan artikel-artikel yang awalnya saya niatkan untuk diterjemahkan agar dapat lebih mudah dipahami oleh pembaca, mulai membuat saya khawatir akan hak ciptanya, terlebih terkait dengan jurnal-jurnal serta sumber-sumber yang berasal dari blog berbahasa asing.

Mengenai catatan kaki maupun sumber, saya sebenarnya selalu memberikan sumber di setiap tulisan yang saya upload ke blog (link hidup). 

Tapi, ada satu hal yang membuat saya memuat pertanyaan diatas.

Ada sebuah situs dari Amerika Serikat yang memberikan informasi mengenai kesehatan. Pernah saya mencoba untuk mengontak salah satu situs yang memberitakan berbagai informasi tentang kesehatan tersebut, dan setelah saya baca di bagian permission mereka, mereka mensyaratkan satu artikel minimal 100 USD untuk sekedar mendapatkan ijin untuk re-distribusi, baik itu untuk komersial maupun non komersial. 

Lalu saya mencoba meng-emailnya kembali, dimana saya akan mencantumkan link hidup dari tulisan yang sudah saya terjemahkan. Namun, jawabannya pun sama, yang artinya, situs tersebut tetap mensyaratkan pihak manapun yang menggunakan sumbernya, baik untuk kepentingan komersil maupun bukan, untuk memberikan royalti kepada pihak website tersebut.

Tentunya, hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk saya, dimana dampak kejadian itu membuat saya menjadi kurang produktif, atau bisa dikatakan sedikit ketakutan ketika akan membuat artikel hasil dari terjemahan artikel asing, meskipun sudah menggunakan gaya bahasa sendiri.

Berbeda dengan blog perusahaan-perusahaan tertentu, yang justru memberikan kompensasi bagi mereka yang menyebarluaskan tulisan yang ada di situs perusahaan mereka.

Kebetulan memang saya baru mengetahui mengenai copyleft dan creative commons ini. 


Mohon maaf, sepengalaman mas, adakah contoh situs-situs berita serta artikel yang sekiranya sudah bisa dipastikan free-lincense , sehingga apabila kita menterjemahkannya dan memuat ulang di blog kita, kita akan bebas dari jerat hukum?

Sekali lagi, terima kasih
 

  Jun 5, 2017

Arfi Bambani

Yang pasti situs-situs yang dibiayai pemerintah, Mas. Voice of America sudah pasti itu. Anda juga bisa mengumpulkan bahan dari situs-situs pemerintah (bisa dikenal dari penggunaan .gov atau .go.id di belakang domainnya).

Alternatif lain adalah, situs-situs yang memang bertujuan sosial, membagikan pengetahuan. Kalau di dalam negeri, ada namanya Islami.co, sebuah situs media Islam yang digerakkan aktivis-aktivis NU yang menyilakan semua artikelnya disadur cukup dengan menyebut sumber dari Islami.co.

Sedikit dari saya, Mas. Terima kasih.
  Jun 5, 2017

Write your answer View all answers to this question