selasar-loader

Bisakah membuat pintu "ke mana saja" dengan mendalami hubungan ruang waktu dan teori wormhole?

LINE it!
Answered Jun 01, 2017

Naufan Nurrosyid P
Pernah menjadi tukang bebersih di Lab TheoComp ITB

Uk7qdg1Qd3PqYABIjm71cLQlKh8obFIC.gif

“With science fiction, there is endless possibilities”
-Anna Trov

Pintu ke mana saja milik Doraemon merupakan mimpi yang luar biasa bagi peradaban manusia. Bayangkan jika benda ini bisa diwujudkan, dan kita termasuk orang yang mampu mendapatkannya. Bepergian ke pusat perbelanjaan Istanbul Cevahir Mall, berkemah di Igloo Village, ngopi di sekitar piramida, atau tiba-tiba ingin menikmati Aurora borealis langsung di kutub utara, dapat dilakukan semudah membuka pintu kamar.

As easy as open your room, literally.

Tapi, apakah pintu ajaib itu bisa terwujud bila dihubungkan dengan teori lubang cacing?

Sebelum lebih jauh, wormhole atau lubang cacing adalah sebuah terowongan teoritis pada struktur ruang-waktu yang memungkinkan adanya perjalanan cepat antara satu titik ke titik lainnya. Melalui perhitungan matematika, wormhole memungkinkan adanya perjalanan antarbintang yang berjarak puluhan hingga ratusan tahun cahaya untuk dilakukan secara singkat.

K_KUWEZyrJEqfMRhC8e605kzyzeRs-Jo.gif

Menurut teori relativitas umum Albert Einstein, keberadaan wormhole bisa saja ada. Namun, pelayaran antarbintang melalui lubang cacing, menurut astrofisikawan Dr. Kip S. Thorne, saat ini masih dalam ranah fiksi ilmiah saja. Dan banyak di antara Astrofisikawan dan fisikawan teoretis yang menunjukkan bahwa menemukan travelsable wormholes terlampau sulit. Bahkan dalam skala perhitungan di atas kertas.

Tantangan paling utama bagi manusia jika ingin memanfaatkan wormhole sebagai jalan pintas untuk berpindah tempat secara instan, adalah ketidakstabilan dari wormhole itu sendiri. Dengan Hawking radiation dan hukum gravitasi, diketahui bahwa jika wormhole terbentuk maka ia akan sangat mudah runtuh sehingga ‘tak ada yang bakal selamat melewatinya'.

Untuk menjaga wormhole tidak runtuh, agar kita bisa melewatinya, kita harus memasukkan materi unik yang berenergi negatif. Energi dari materi ini akan mengeluarkan gaya anti-gravitasi yang mampu menahan dinding wormhole agar tidak runtuh.

Materi tersebut adalah dark matter, sebuah materi yang para fisikawan termasyur di muka bumi ini masih berusaha mewujudkannya walau dalam skala lab. Dark matter akan menghasilkan dark energy, yang bekerja berlawananan dengan gaya gravitasi. Untuk sebuah wormhole dengan radius 100 meter, dibutuhkan sangat banyak dark matter. Dan masih tidak mungkin ditemukannya suatu teknologi yang dapat mensintesis dark matter sebanyak itu, setidaknya pada level peradaban kita saat ini.

Itu tentang menjaga keseimbangan dinding dari sebuah wormhole yang secara teoretis ada untuk perjalanan antarbintang. Sekarang, bagaimana jika wormhole dalam seukuran manusia terbentuk di planet bumi?

Gravitasi pada wormhole tidak bekerja secara spesifik. It means, gravitasinya akan menarik segala materi dan gelombang elektromagnetik yang berada di event horizon-nya. Singkatnya, tidak hanya Si Nobita yang akan masuk ke dalam wormhole, tapi meja, kursi, kasur, lemari, bahkan tanah tempat ia berpijak juga akan terhisap ke dalamnya.

Mengingat wormhole kita ini seukuran manusia dan dapat bekerja seperti black hole, yang terjadi akan jauh lebih mengerikan. Bumi akan tertarik pada satu titik ini, dan hancur berkeping-keping.

Bayangkan sebuah parasit yang menempel di kulit, kemudian merayap masuk, dan menghancurkan jaringan dengan memakannya dari dalam. Hal serupa juga akan terjadi pada planet kita.

Jadi sejauh ini, menggunakan teori wormhole untuk menciptakan pintu ke mana saja yang dapat dilalui manusia untuk bepergian secara singkat, adalah tidak mungkin secara fisika dan matematika.

Unfortunately, it is impossible by sciences.

Ls8cHtPgtemIq28kx0eEA4YPFA-fUsGd.gif

Tapi sebentar.

Ada cara lain untuk pintu ke mana saja.
Dari pada mendefinisikan pintu ajaib tersebut sebagai teknologi teleportasi secara fisik, menafsirkannya sebagai pencapaian efek yang memberikan emosi dan kesan yang hampir setara dengan yang dapat dirasakan saat pindah ke tempat lain tanpa gerakan fisik, akan lebih menyenangkan.

Dan dunia sedang berada pada jalur itu. Internet, smartphone, dan kini Virtual Reality (VR), tak lain adalah bentuk upaya manusia untuk menghasilkan imajinasi tanpa batas, dan mengubah ketidakmungkinan menjadi realita.

Ya, walaupun dengan pendekatan berbeda, perpindahan tempat secara real time akan bisa dilakukan dengan teknologi terkini.
:)

ZBCoaZ841cyy4wcDxfTr76Ud09Sa3wHj.gif

#A2A

571 Views
Write your answer View all answers to this question