selasar-loader

Hal apa yang perlu diperbaiki dari Trans Jakarta saat ini?

LINE it!
Answered May 23, 2017

Shendy Adam
Lahir dan besar di Jakarta, sekarang kerja untuk Pemprov DKI Jakarta

ReI9eVvLYC7QjG8Lvbl3VHpPDWHy6zZO.jpg

Setelah bongkar arsip di komputer, saya akhirnya menemukan catatan yang pernah saya simpan terkait soal tata kelola Trans Jakarta. Catatan ini bukan tulisan pribadi saya, tetapi saya dapat dari beranda Facebook Bapak Darmaningtyas (Masyarakat Transportasi Indonesia) sekitar satu setengah tahun lalu. Berikut saya salin-tempel catatannya di sini :

SALAH URUS, LAYANAN TRANSJAKARTA BUSWAY JADI MEMBURUK
“Manajemen Bus Transjakarta Busway harus dievaluasi. Rabu, 4 November 2015, antara pukul 15.45-16.30 WIB, Bus Jurusan Kalideres – Harmoni/Pulogadung, lima bus lewat begitu saja karena akan mengisi BBG. Mereka tidak siap. Puluhan orang calon penumpang menumpuk di semua halte Daan Mogot, Jakarta Barat ke arah Grogol, termasuk parah di Halte Jembatan Baru (Muhammad Damas, penumpang Bus TJ)”.

Itu bunyi salah satu SMS dari penumpang Transjakarta Busway yang saya terima pada tanggal 4 November 2015 jam 16:49:20. Pada hari yang sama, Andreas salah seorang penumpang yang aktif di group WA Suara Transjakarta juga memposting informasi :
“Tadi saya satu jam transit di BNN nunggu TransJakarta Busway yang Koridor 9. So far soal on board dan barrier sudah ada peningkatan layanan. Akan tetapi headway masih parah (Andreas penumpang, 4 November 2015, 20:55)”.

Dua keluhan penumpang Transjakarta Busway di atas itu bukan merupakan keluhan baru, tapi keluhan lama yang belum teratasi oleh pihak manajemen Transjakarta sampai sekarang. 

Perubahan bentuk kelembagaan dari UPT menjadi BHMN dulu diharapkan akan mampu mempercepat perbaikan layanan Transjakarta Busway. Tapi nyatanya sampai sekarang yang terjadi di lapangan bukan semakin baik, tapi semakin buruk. Transjakarta Busway tidak bisa dijadikan sebagai andalan bertransportasi di Jakarta, kecuali Koridor 1 (Blok M – Kota) saja. Selebihnya, bukan pilihan yang tepat kalau anda bepergian dengan perlu ketepatan waktu.

Sebetulnya gampang saja mewujudkan headway Transjakarta 2-3 menit pada jam sibuk dan membuat jalurnya steril, tidak usah menunggu ketersediaan bus sampai 1.000 unit bus gandeng, tapi cukup dengan manajemen yang cerdas. Pada saat ini Transjakarta Busway memiliki 247 halte yang disinggahi dan satu  halte tidak disinggahi untuk berhenti. 

Pada pagi hari jam 05.00 setiap halte itu diisi satu bus yang siap operasi, maka setiap penumpang di semua halte akan terangkut dan berangkat pada waktu yang bersamaan. Karena jarak halte satu dengan lainnya itu rata-rata 300 meter, maka dalam kondisi steril akan dapat ditempuh dalam waktu tiga menit saja. 

Dengan pola operasi seperti itu, pasti tidak akan terjadi penumpukan penumpang, dan tidak akan memberikan kesempatan bagi kendaraan lain untuk masuk ke jalur Transjakarta Busway karena mereka akan sulit keluar jalur. Agar kendaraan yang beroperasi itu handal, maka kendaraan yang mulai beroperasi keluar dari pool jam 04 itu antara jam 11-13 secara bertahap dikurangi untuk mengisi BBG maupun ditarik ke pool masing-masing guna dilakukan perawatan. Perannya digantikan oleh armada kloter kedua yang akan beroperasi dari jam 14.00 sampi dengan jam 22.00 dengan jumlah bus yang sama pula.

Dengan manajemen operasional yang cerdas seperti itu, PT Transjakarta cukup memerlukan 500 armada yang siap beroperasi sudah mampu memberikan layanan kepada setiap penumpang per tiga menit sekali pada jam sibuk. Jam 09.00 headway bisa dikurangi guna memberi kesempatan kepada pengemudi untuk kencing atau minum. 

Beberapa keuntungan yang akan diperoleh dengan manajemen beroperasi seperti itu:

  1. Headway 2-3 menit pada jam sibuk akan mudah terpenuhi
  2. Penumpang tidak menunggu lama di halte, sehingga tidak akan terjadi penumpukan penumpang di setiap halte seperti keluhan selama ini
  3. Armada Transjakarta akan selalu prima, karena maksimal akan beroperasi 12 jam dari poll ke poll, sehingga operator memiliki waktu longgar untuk melakukan pemeliharaan.
  4. Target kilometer minimum bagi setiap operator juga dapat tercapai karena selama waktu 04.00 keluar poll sampai sekitar jam 14.00 balik ke poll lagi untuk jam operasi pagi; atau dari 12-13 sampai jam 23.00 untuk jam operasi siang akan berjalan terus, tidak mengalami macet, sehingga target kilometer minimumnya mudah tercapai.
  5. Akan terjadi efisiensi puluhan miliar rupiah setiap bulannya karena setiap kendaraan yang melintas pasti mengangkut penumpang, tidak bisa lagi beralasan “mengisi BBG atau pulang ke poll” seperti selama ini, seperti dikeluhkan oleh M.Damas tadi.
  6. Jalur Transjakarta Busway akan steril dengan sendirinya, karena hanya pengendara konyol yang nekat masuk ke jalur Transjakarta dalam kondisi armada Transjakarta rapat seperti itu. 
  7. Dengan kondisi layanan yang bagus, headway pendek, dan jalur yang steril, penumpang tidak akan keberatan bila tariff dinaikkan dari Rp. 3.500,- menjadi Rp. 5.000,- sehingga subsidi dari Pemprov DKI Jakarta dapat dikurangi. Tapi dengan layanan yang buruk seperti sekarang, tariff yang pas ya memang Rp. 3.500,-- itu.
  8. Untuk penyelenggaraan angkutan malam hari (Amari) sebaiknya disediakan armada khusus agar tidak mengganggu kelancaran armada yang beroperasi antara jam 05.00 – 22.00.

Sistem operasional Transjakarta Busway seperti yang ditawarkan di atas tidak membutuhkan prasyarat apa pun, kecuali kemauan Direksi PT Transjakarta. Menaruh bus TJ di setiap halte pada jam 05.00 bukan hal sulit mengingat lalu lintas pada pagi hari lancar. Jika masih ada beberapa jalur Transjakarta Busway yang masih mix dengan kendaraan lain atau beberapa simpang yang traffic light-nya belum berpihak pada TJ, maka itu menjadi PR Dinas Binamarga dan Perhubungan untuk menyelesaikannya. Urusan Direksi PT TJ adalah mengoperasikan kendaraan. Jika manajemen Transjakarta sudah betul mengoperasikan kendaraannya, public pasti akan membantu menyuarakan agar jalur-jalur yang belum steril itu disterilkan.

Memang, pengoperasian dengan sistem yang ditawarkan di atas tidak memungkinkan terjadinya permainan (kongkalikong) antara operator, petugas TJ di lapangan, maupun dengan manajemen TJ sendiri karena semua serba transparan. Gagasan M. Akbar waktu menjadi Kepala UPT Transjakarta untuk memasang jadwal real time di setiap halte akan dapat diwujudkan dengan sistem pengoperasian yang ditawarkan di atas. Bila ada permainan di lapangan dengan cara menahan armada tidak berjalan, penumpang di setiap halte akan mengetahui di mana sumber masalahnya.

Mengapa sekitar 60-70% armada Transjakarta tidak laik jalan? Ini sesungguhnya bukan informasi yang mengejutkan bagi mereka yang mengikuti perjalanan Transjakarta Busway sejak beroperasi pertama tanggal 15 Januari 2004, tapi suatu kewajaran saja. Justru tidak wajar kalau 60-70% armada Transjakarta masih handal. Mengapa? Karena armada Koridor 2-7 itu memang sudah harus diremajakan paling lambat akhir tahun 2014 lalu, mengingat usia mereka sudah lebih dari tujuh tahun dan dioperasikan sehari (sejak keluar poll sampai balik ke poll lagi) rata-rata 18 jam, sehingga waktu pemeliharaannya tidak ada lagi. Jadi armada sudah tua, waktu pemeliharaan maupun istirahat sedikit lagi, wajar biila tidak laik jalan. 

Adalah tanggung jawab manajemen PT TJ untuk melakukan peremajaan pada seluruh armada yang sudah berusia di atas tujuh tahun. Regulasi untuk melakukan peremajaan terhadap armada yang dibawah konsorsium pun sudah jelas, yaitu Pergub No. 17 Tahun 2015 sekarang tinggal eksekusinya saja dan itu sepenuhnya domain Direksi PT TJ. Mereka dibayar mahal itu dengan harapan mampu memperbaiki layanan Transjakarta Busway agar memenuhi standar pelayanan minimum. Kalau ternyata tidak mampu ya lebih baik mundur, jangan nikmati gajinya yang besar tapi layanannya dikorbankan.
Jakarta, 10 November 2015

Catatan: Ini press realese kami kemarin, tapi tidak satu media (cetak maupun online) yang memuat kritik tersebut, meski kritik itu didasarkan pada temuan lapangan, bukan didasarkan pada subyektivitas senang dan tidak senang. Aneh juga, ya. Padahal, ada sejumlah wartawan dari 21 media cetak dan online yang hadir dan meliput sampai akhir acara. Apa memang sudah tidak ada, ya, media yang kritis terhadap layanan publik.

 

sumber gambar: static6.com

698 Views
Write your answer View all answers to this question