selasar-loader

Apa tantangan utama seorang digital strategist?

LINE it!
Answered May 17, 2017

Ray Rahendra
digital strategist, writer, Juventus, marketeer

Mengedukasi cara berpikir client.

Mengedukasi kalo:

1. Saat ini, jumlah followers/fans di social media tidak begitu berpengaruh kalo tidak memberikan efek apa-apa terhadap brand/produk tersebut. Buat apa punya 100,000 fans di FB atau 10,000 followers di Twitter tapi yang beli produk secara online cuma 2 orang? Atau engagement cuma maksimal 20 engagement/post? Atau reach sebuah post gak sampe setengahnya?

2. Saat ini, objektif itu penting. Dan berpengaruh dalam menentukan strategi, target, gol dan KPI. Akan menjadi sangat susah bagi seorang digital strategist (dan juga digital consultant, atau agency) membuat sebuah strategy kalo objektif dari si brand aja gak ketauan. Atau, semua objektif mau didapatkan. Misal, dalam satu waktu mau sales, engagement, awareness, brand visibility, SEO/SEM, database, etc.

3. Saat ini, hampir semua social media memiliki platform ads sendiri. Facebook dan IG punya Ads, Twitter punya ads. Bahkan pinterest pun yang tidak begitu digunakan di Indonesia punya Ads. Jangan tanya soal Google, yang memang punya ads network. Dan karena masing-masing platform sudah memiliki ads, maka tolonglah untuk mengerti bahwa sebuah post, sebuah fanpage, sebuah promo, tidak akan berjalan maksimal jika tidak menggunakan ads. Facebook sendiri sudah benar-benar mengarahkan semua penggunanya (terutama pemilik fan page) untuk menggunakan ads, karena jika tidak dan mengandalkan sebuah post secara organik, reach-nya cuma 2% dari total fans yang dimiliki sebuah fan page. Itu kalo punya fans, lah kalo masih 0? Ya dibayangkan sendiri coba.

4. Saat ini, bisa kok untuk tidak menggunakan social ads yang dimiliki oleh hampir semua platform social media. Ada caranya. Namanya guerilla marketing. Murah, mudah dan efeknya hampir sama. Tapi sabar tidak? Karena prosesnya akan lebih lama dan panjang. Karena takes time. Karena tidak mudah. Karena membuat artikel atau content yang engage itu susah. Jadi pilihannya adalah kalo punya uang, coba pake ads. Cepat dan langsung berdampak. Jika tidak punya uang, cobalah pake guerilla marketing. Takes time namun maksimal. Jika tidak punya uang namun ingin punya hasil cepat? Sini, saya peluk aja.

5. Saat ini, begitu mudah ditemukan akun-akun dan tukang jualan likes, engagement atau followers murah dan mudah. Sebisa mungkin saya (dan mungkin temen-temen digital strategist lainnya) mengedukasi agar jangan membeli likes, engagement dan lain sebagainya. Karena efeknya tidak baik. Dan ngaruh juga ke "kesehatan" akun tersebut. Lagian, semua social media sudah tau akan praktek ini, itu kenapa tiap satu atau dua bulan sekali, Facebook atau IG melakukan pembersihan akun-akun palsu/bot/kosong. Jadi ya rugi~

6. Saat ini, masa lalu dan masa depan, semua yang berkualitas itu memiliki ongkos yang sedikit lebih mahal dan semua yang murah itu biasanya tidak memberikan efek apa-apa.

7. Saat ini, banyak sekali badan/wadah/perusahaan yang mengaku-aku bisa digital marketing. Agency branding kasih paket menarik sekalian maintenance social media, perusahaan IT kasih harga menarik sekalian maintenance social media, dan lainnya. All i can say is, kalau mau bikin pedang yang bagus ya ke pandai besi, bukan petani. Meskipun petani memberikan harga murah. You trust your precious one on the right hand, not on the cheapest price. Ehehehe..

8. Saat ini, data itu sangat penting. Selfie competition mungkin berjalan sempurna di brand sebelah, tapi gagal total saat dijalankan di brand Anda. Itulah kenapa kehadiran data itu penting. Dari data bisa belajar banyak. Behaviour, target audience yang sesungguhnya, jam rame, content terbaik itu yang kayak gimana, dll. Di era digital, to be creative itu bukan cuma simsalabim dan jadilah strategy. Tapi berangkat dari perpaduan creative, strategy dan data.

Dan masih banyak lagi tantangan lainnya. Ini dulu aja ya. Kalo mau tau lebih lengkap, ngobrol sekalian ngopi lah kita.

356 Views
Write your answer View all answers to this question