selasar-loader

Bagaimana pendapat Anda terkait pernikahan beda agama?

LINE it!
Answered May 15, 2017

Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

SVQrKIVuOjBDEJNHZFpvqtQfWy0OflHM.jpg

Menurut saya, tidak boleh, meski dengan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) sekali pun.

Disclaimer: Saya akan jawab sesuai pengetahuan saya tentang persoalan ini dari sudut pandang agama Islam dan pendapat ini bisa jadi salah karena keterbatasan informasi.

Untuk memudahkan pembahasan, saya akan jawab melalui pointers:

a. Nikah adalah ibadah dan sunnah

Dalam ajaran Islam, menikah bukan sekadar sebagai manifestasi kisah cinta dua orang manusia. Menikah/kawin dalam Islam tentu dinilai istimewa. Jika menikah hanya sekadar untuk menunaikan hasrat birahi dan bereproduksi, hewan pun demikian. Lalu, apa istimewanya hal ini dilakukan oleh manusia? 

Dalam ajaran Islam, pernikahan adalah ibadah dan sunah rasul. Perilaku itu memiliki nilai tersendiri yang tidak dapat dipraktikkan secara asal-asalan.

Ibadah di sini maksudnya adalah, apabila kegiatan tersebut dilakukan sesuai syariat dan dimaksudkan untuk menggapai rida Allah SWT, maka kegiatan tersebut akan mendatangkan pahala. Menikah juga merupakan sunah rasul, yang artinya bahwa apabila manusia mengikutinya, maka ia akan mendapatkan peluang mendapatkan pahala dari Tuhan karena mengikuti seseorang yang sangat dimuliakan oleh agama ini.

Pertanyaan kritisnya, mengapa mengikuti perilaku/perkataan (sunah) rasul itu memiliki konsekuensi terhadap diraihnya pahala? Karena Rasul bertindak dan berbicara atas arahan Tuhan:

Dan dia tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunyaUcapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. Al-Najm [53]:3-4)

Karena alasan inilah akhirnya dapat dimengerti korelasi antara mengerjakan amalan sunah dan pahala karena apa yang dilakukan/ucapkan Muhammad adalah sesuatu yang diwahyukan Tuhan padanya. 

b. By default, manusia berpasangan 

Meskipun menikah adalah sunnah, sampai detik ini saya percaya bahwa hanya dengan menikah manusia dapat sampai titik paripurnanya. Titik optimumnya. 

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Mawadah (cinta) dan rahmah (sayang) yang menciptakan sakinah (kedamaian, tenang, tentram, dan aman) inilah yang akhirnya akan membawa manusia titik optimumnya. Tanpa galau. Tanpa fluktuasi semangat dan keimanan yang berlalut.

Untuk itulah, secara rasional, dalam pandangan Islam, menikah itu penting adanya.

c. Perbedaan pendapat menikah beda agama dalam Islam

Bagaimana Islam mengatur pernikahan? Ada beberapa syarat dan mekanisme yang harus dilalui dalam pernikahan ala Islam. Namun, dalam konteks ini saya hanya akan membahas apakah pernikahan berbeda agama boleh atau tidak.

Nikah berbeda agama pada dasarnya tidak boleh, kecuali dengan ahlul kitab. Pendapat yang menyatakan demikian tentu bukan tanpa dalil. Dalil yang biasa dipakai adalah:

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu” [Al-Maidah/5: 5]

Lalu, siapakah ahlul kitab?

Ahlul kitab adalah orang-orang yang telah diberikan kitab (Yahudi dan Nasrani).

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab.[QS. Ali Imron: 20]

Asumsinya jika orang yang diberikan kitab (Taurat dan Injil) adalah orang-orang yang masih berada dalam jalan yang lurus dan berserah diri kepada Tuhan atas doktrin monoteisme dari Tuhan yang sama, harusnya ketika ada informasi baru yang menyebutkan bahwa agama mereka "sudah disempurnakan", harusnya mereka dengan mudahnya convert pada Islam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

d. Rasulullah dan pernikahannya dengan ahlul kitab

Buat yang belum tahu, dua di antara istri rasul adalah berasal dari golongan ahlul kitab. 

Yang pertama adalah Shafiyah binti Huyay, salah satu anak dari ketua suku Bani Nadhir,  Bani Israel yang bermukim di sekitar Madinah. Yang kedua adalah Mariah binti Syama’un adalah adalah seorang budak Kristen Koptik yang dikirimkan oleh Muqawqis, penguasa Mesir bawahan Kerajaan Bizantium, sebagai hadiah kepada nabi Muhammad pada tahun 628.

Permasalahannya adalah tidak banyak yang mengetahui ini bahwa baik Shafiyah yang Yahudi dan Mariah yang Koptik sudah memeluk Islam sebelum menikah dengan Rasulullah. Jadi, mereka telah bersyahadat (convert to Islam) sebelum hari pernikahannya. Data ini bisa di-check di literatur Islam mana pun yang Anda temukan. Hal ini diperkuat oleh perintah Allah tentang kawin-mawin berikut, bahwa:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman” [Al-Baqarah/2 : 221]

Logikanya, tidak mungkin Muhammad melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Tuhannya. Jadi, Muhammad TIDAK MUNGKIN menikahi Shafiyah dan Mariah sebelum mereka berdua masuk Islam. Muhammad menikahi Shafiyah dan Mariah bukan karena permission bahwa seorang lelaki muslim boleh menikahi ahlul kitab. Muhammad melakukan hal tersebut karena Muhammad yakin bahwa Shafiyah dan Mariah telah menerima ajaran yang disempurnakan. Ini note penting yang harus diketahui. 

Jadi, pendapat sebagian orang yang menghalalkan menikah berbeda agama (walaupun dengan alhul kitab sekali pun), menurut saya juga tidak make sense. Bukan saja tidak direstui Allah dalam Alquran, tetapi juga perbuatan tersebut tidak pula dilakukan dan dicontohkan oleh Rasullullah SAW. 

Harusnya ini persoalan yang mudah untuk pahami.

Gambar via encrypted-tbn0.gstatic.com

309 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia