selasar-loader

Apa yang membuat lulusan sarjana sulit untuk mendapatkan pekerjaan?

LINE it!
Answered May 12, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

W_mGiwUtPLd3P1k4ewHeGT0eLVYBa3gq.jpg

Bukan hanya sarjana, (sayangnya) lulusan pascasarjana yang secara relatif memiliki ilmu lebih dalam dari para sarjana (bachelor graduate) lebih sulit lagi mendapatkan pekerjaan. Mengapa?

Dalam konteks pekerjaan yang umum, ada dua faktor yang mempengaruhi pemberi kerja (baca: Perusahaan) meng-hire para pekerjanya untuk menyelesaikan berbagai macam jenis pekerjaan: Berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa baik hasil perkerjaan yang dilakukan. Atas dasar itulah maka (pada umumnya) pekerja yang mau murah dan berpengalaman menjadi 2 faktor lanjutan mengapa perusahaan meng-hire karyawannya.

Hal tersebut diperparah dengan adanya dua hal lain:

a. Globalisasi

Informasi tentang SDM yang mempu mengerjakan sesuatu pekerjaan saat ini sudah sangat mudah ditemui. Di Cina, misalnya. Di dua negara tersebut, para pekerjanya bersedia dibayar murah dan pemerintahnya pro akan penanaman modal asing (PMA). Hal ini mengakibatkan banyak sekali produk-produk yang dikonsumsi oleh penduduk Indonesia berasal dari negara tersebut. Dampaknya, pabrik-pabrik yang padat karya tidak lagi berada di Indonesia. Hal ini berpengaruh atas tidak terserapnya tenaga kerja Indonesia ke industri.

Contoh lain dalam konteks globalisasi ini ada di India. Saat ini, berbagai pekerjaan seputar teknologi dan akuntansi banyak yang di-outsource oleh perusahaan-perusaan besar Amerika dan Eropa ke orang-orang India. Pekerjaannya pun diapat dilakukan secara remote (jarak jauh) dari India. Mengapa orang India? Karena mereka mau dibayar murah, mampu berbahasa Inggris, dan kualitas pekerjaannya kompetitif. Bukan tidak mungkin perusahaan dari Indonesia juga akan melakukan hal yang sama.

b. Perkembangan Teknologi

Hadirnya para robot dan perkembangan teknologi informasi menjadi dua hal yang sangat mempengaruhi hal ini. Coba Anda lihat di pabrik-pabrik besar, tenaga manusia saat ini sudah banyak digantikan oleh kinerja robot yang lebih efisien, lebih detail, dan lebih presisi. Bahkan saat ini, robot sudah mampu mendiagnosis sebuah penyakit dengan hasil yang lebih presisi dan akurat dibandingkan dokter yang manusia sekalipun.

Munculnya freelancer.com juga menjadi penanda bahwa era liberalisasi SDM dan globalisasi persaingan para tenaga ahli dan berpengalaman sudah hadir di depan mata. Freelancer.com sebagai sebuah marketplace of freelance mempertemukan para talenta di berbagai negara untuk memasarkan keahliannya dan perusahaan/individu yang membutuhkan “pertolongan” atas suatu skill/pekerjaan tertentu. Ingat, kerja freelancer.com sebagai internet company ini worldwide. Tidak lokal! 

c. Regional Agreement

Regional agreement seperti MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) contohnya, secara langsung ataupun tidak merupakan kesepakatan antarnegara di sebuah region tertentu untuk meliberalkan perputaran barang dan jasa yang ada di wilayah tersebut, termasuk sumber daya manusia (SDM).

Kemampuan orang Malaysia, Singapura, dan mungkin Filipina yang lebih fasih berbahasa Inggris jelas menjadi ancaman untuk SDM lokal Indonesia dalam memperebutkan pekerjaan yang menjanjikan. Itu untuk white collar. Bagaimana untuk blue collar? Imigran Cina yang mau dibayar murah (dan datang secara ilegal) jelas menjadi ancaman nyata untuk buruh-buruh Indonesia yang unskilled. Jelas hal ini melahirkan kelas pekerja blue collar baru.

d. Tidak Dikenalnya SDM Lokal

Di era internet ini, banyak hal dilakukan atau diselesaikan lewat mesin pencari. Termasuk mencari SDM untuk melakukan pekerjaan tertentu. Entah karena faktor budaya atau cara pandang, banyak orang-orang Indonesia yang memiliki keahlian spesifik tertentu ataupun orang-orang yang memiliki pengetahuan/minat atas bidang tertentu tidak dapat ditemukan pada mesin pencari. Padahal, sekarang adalah era talent war. Perang pencarian talent/expert sudah dilakukan secara masif oleh banyak orang dan institusi di manapun.

Nah masalahnya adalah, sebagian besar orang Indonesia lebih suka memamerkan makanan apa yang dimakan, tempat gaul apa yang dikunjungi, atau hal-hal keseharian nonprofesional lain di social media yang mereka miliki. Mungkin persoalannya ada dua: 1) Tidak adanya social media yang dedicated untuk membantu para talent dan expert untuk showing off keunggulan/kemampuan/skill yang mereka miliki, dan 2) Tidak adanya perspektif bahwa personal branding untuk menciptakan opportunity itu penting.

Sepertinya, para pekerja di Indonesia dan para pelajar Indonesia yang sedang kuliah di dalam atau di luar negeri terlalu giat bekerja. Terlalu giat belajar. Seakan mereka melupakan dirinya sendiri. Padahal, di era berkembangnya teknologi informasi seperti sekarang ini, double job atau bekerja secara remote (jarak jauh) amat sangat dimungkinkan. Artinya, perkembangan mesin pencari yang ada di internet saat ini memang masih belum dioptimalkan oleh para mahasiswa ataupun profesional Indonesia yang ada untuk membangun citra profesional yang ada.

Intinya mengapa orang-orang Indonesia saat ini secara relatif sulit mendapatkan pekerjaan adalah karena adanya persaingan yang semakin berat. Persaingan SDM lokal versus SDM lokal lainnya ataupun SDM luar negeri yang mau dibayar murah dan memiliki kompetensi yang lebih baik. Persaingan yang berat dan diperparah dengan tidak ditemukannya SDM lokal yang berkualitas di dunia maya.

Kita harus bersiap!

260 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia