selasar-loader

Apa inovasi teknologi yang Anda dambakan dapat terjadi?

LINE it!
Answered May 12, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

LmgEg8HClg9a4ec2dtBRJoZC3GFpApTF.jpg

Brain Hack. Saya membayangkan ketika saat itu datang.

Selayaknya di Hari ini setiap orang bisa jadi jurnalis (citizen journalist) karena perkembangan teknologi informasi. Saya yakin dan berharap, cepat atau lambat, setiap orang bisa jadi scientist, expert, bahkan alim-ulama secara cepat dan mudah.

Saya akan beri satu contoh: manusia dapat jadi ulama untuk dirinya sendiri.

Mengapa kebutuhan ini menjadi penting untuk ras manusia? 

Saya melihat “mengerti kehendak Tuhan” adalah salah satu hal/persoalan yang paling penting untuk diketahui oleh umat manusia saat ini. Karena setiap orang bisa memiliki penafsiran masing-masing, dan kala tafsiran satu berbeda bahkan saling bertentangan satu sama lain, chaos terjadi. Bahkan untuk kondisi tertentu, dapat menimbulkan sikap yang berlebih-lebihan (ekstrem).

Perlu diketahui bahwa dahulu (terlebih) dan saat ini, cuma orang-orang tertentu aja yang punya kesempatan sekolah agama di negara-negara Islam atau hanya sedikit orang yang bisa bahasa Arab untuk mengerti kandungan Alquran dan hadist. Karena Alquran dan hadist disajikan dengan bahasa Arab, saat ini tidak banyak orang yang dapat mengerti layaknya kita mengerti sebuah teks yang disajikan dalam bahasa ibu. 

Untuk itulah bahkan ada yang mengatakan bahwa untuk muslim yang tidak mengerti bahasa arab, salat yang dilakukannya setiap hari adalah sebuah praktik keagamaan yang jauh dari cita-cita shalat itu sendiri: mengingat Tuhan dan mencegah perbuatan keji dan munkar. Salat dilakukan seakan sekedar menggugurkan kewajiban. Berucap tanpa mengerti apa yang diucapkan. Seperti merapal mantra.

Jadi wajar saja, karena keterbatasan tersebut, orang yang hari ini bisa berbahasa Arab ataupun pernah mengenyam pendidikan Islam, kita menyebutnya sebagai ustadz, menjadi rujukan. Jadi special. Bahkan untuk beberapa orang tertentu, cuma satu golongan pemikiran ustadz aja yang jadi acuan. Hal-hal seperti ini yang biasanya memicu orang berpikir sempit, tidak open minded dan beresiko memicu konflik horizontal. Konflik sektarian.

Ini masalah!

Saya yakin, cepat atau lambat, akan ada sebuah artificial intelligence (AI) yang dapat membantu memaksimalkan fungsi kerja otak dengan membantu supply seluruh informasi yang ada di dunia ini ke dalam otak manusia untuk diproses dengan cepat, dan akhirnya di-convert jadi sebuah kesimpulan yang menentukan sikap dan perilaku seseorang. Mudahnya, AI tersebut bukan hanya mengumpulkan seluruh informasi dengan cepat, tetapi juga membantu otak untuk mengolah informasi tersebut dalam hitungan millisecond.

Mungkin, semacam Google yang diinstal langsung ke otak. Tapi dengan kinerja yang jauh-jauh lebih baik.

Dengan teknologi ini, informasi atas kandungan Alquran dengan berbagai macam tafsirnya, kitab-kitab klasik islam, ribuan hadist sahih yang dikumpulkan Bukhari-Muslim, berbagai macam pemikiran ulama, atau informasi apapun di dunia, dapat cepat hadir di otak kita dalam hitungan yang super cepat.

Saya berharap, ketika saat itu datang, dunia ini sudah "ga butuh” ulama-ulama konvensional karena manusia kala itu sudah bisa jadi ulama (dengan kapasitas yang jauh lebih baik) secara cepat dan utuh, baik untuk dirinya sendiri dan mungkin untuk masyarakat di sekitarnya. 

Mengapa hal ini menjadi penting? Karena dengan hadirnya kapasitas keilmuan ulama/alim/orang yang berilmu dengan cepat dalam diri setiap manusia, hal ini harusnya dapat membuat manusia sampai pada tingkatan yang lebih tinggi, bukan hanya berpengetahuan secara tidak terbatas, tapi juga lebih dekat dengan esensi manusia dengan derajat tertinggi: bijak dan takwa. 

Mengapa bijak? Karena kebijakan hanya dapat dimiliki oleh orang-orang dengan input informasi yang beragam, tidak terbatas akan informasi milik sekelompok golongan tertentu. 

Kenapa takwa? Dengan asumsi tidak terdapat variable kesombongan, harusnya setiap orang yang berilmu (alim) lebih deket sama Tuhannya. Seperti tantangan dan perintah Tuhan agar kita selalu berpikir dan merenungi setiap ayat-ayat kauniyah (ayat tekstual) dan kauliyah (fenomena alam) yang ada agar lebih mengenal-Nya dan ciptaan-Nya.

Lebih jauh lagi, teknologi ini akan dapat memanipulasi kerja syaraf otak dan melakukan rekoneksi antar syaraf menjadi lebih kompleks sehingga dapat membuat kinerja otak lebih cepat. Lebih baik. 

Tidak hanya itu, hal ini juga akan meningkatkan kemampuan muscle memory sehingga hanya dengan sekali latihan/menyerap informasi, seseorang sudah dapat melakukan sesuatu yang bahkan sebelumnya ia tidak kuasai. Cohtoh: berbahasa di luar bahasa ibunya dan menguasai alat musik tertentu.

Ketika masa ini terjadi, saya yakin dunia akan makin damai, tidak ada lagi misallocation of resources, dan pastinya manusia sedang berada dalam tingkatan peradaban yang lebih tinggi.

269 Views
Ma Isa Lombu

ini pake open source koq.. :P


  May 15, 2017

Masamune Priambodo

Asal jangan sampai terkena ransomware, bisa repot nanti. :)   May 15, 2017

Ahmad Taufik

bro, kok gw jadi ingat film limitless ya?


hehehe
  May 12, 2017

Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia