selasar-loader

(Tema: Kebudayaan) Apa nilai dan pesan dari foto kebudayaan yang kamu ambil?

LINE it!
Answered May 11, 2017

Teti Zebua
Just an ordinary me

jF9aAcVvIXjwht6Od_sFsrV4sj6q6EM2.jpg

Saya masih selalu mengagumi atraksi budaya yang satu ini. “Hombo Batu” atau “Lompat Batu”, selalu menjadi daya tarik dari Nias Selatan, tepatnya dari desa Bawömataluo. Budaya hombo batu memiliki sejarah yang sarat dengan peperangan, patriotisme dan bersifat heroik.

Mulanya bertujuan untuk melatih dan mempersiapkan pemuda di desa untuk berperang. Dulu, ketika zaman peperangan antar desa masih gencar-gencarnya.

Seiring waktu, budaya lompat batu lebih diartikan pada kematangan dan kedewasaan seorang pria. Ia yang dapat melompati batu setinggi kurang lebih 2 meter itu berarti sudah dewasa, seorang pemberani, dan (karena sudah dewasa maka dapat dikatakan layak untuk menikah). Biasanya seorang anak sudah mulai diajarkan dan dilatih melompat paling mudanya di usia 10 tahun. Tentu tidak langsung di batu yang berukuran tinggi 2 meter. Namun dimulai dari batu yang tingginya kecil saja. Kemudian ada bambu atau kayu yang memang sengaja dibuat dan diberi ukuran sedemikian rupa sebagai alat bantu latihan. Sore-sore lebih seringnya sore minggu, bocah-bocah ini akan ngumpul rame-rame di halaman desa untuk berlatih dan disaksikan para orangtua.

Namun, tidak semua pemuda desa Bawömataluo mampu melompat dan menjadi pelompat batu. Semua butuh ketekunan dan latihan. Sekarang, kebiasaan melompat batu mengalami pergeseran nilai. Tak hanya untuk pelestarian budaya, namun menjadi aktivitas komersial oleh pemuda setempat. Dan untuk atraksi melompat hanya dilakukan oleh pemuda yang kira-kira usia SMP hingga 20 tahun.

Apa yang saya dapatkan dari atraksi ini? Ibarat melompati batu setinggi itu, untuk mencapai sesuatu memang selalu dibutuhkan ketekunan, kerja keras, keberanian dan latihan. Percayalah ketika kita memulai sesuatu dari nol, dari tangga yang paling bawah dan tetap menjaga semangat mengerjakannya, niscaya, tantangan yang lebih besar pun dapat kita lampaui karena telah terbiasa dan telah mendapatkan trik untuk mengatasinya. Bisa karena biasa. Hasil akhirnya pun dipastikan indah. Tentu! Jangan lupakan untuk melibatkan Tuhan sebagai sumber rahmat. ^^
Ya'ahowu!

 

233 Views
Write your answer View all answers to this question