selasar-loader

Bagaimana cara menanamkan nilai-nilai toleransi pada anak?

LINE it!
Answered May 10, 2017

Ma Isa Lombu
Penikmat Budaya Indonesia

PtJVa5W8ju8S9JFlhOOpj3orO80I-hgy.jpg

Biasanya persoalan toleran-intoleran ini terjadi ketika seorang anak sudah mencapai usia dewasa, at least usia dimana mereka tinggal dan berinteraksi di lingkungan yang heterogen. 

Saya percaya bahwa menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai toleransi atas perbedaan (bukan permisif) adalah salah satu emotional quotient dan social skill yang tidak dapat dibentuk secara instan. Butuh waktu yang panjang, melibatkan banyak aktor pembentuk dan juga bisa jadi memerlukan proses deep thinking yang tidak sederhana.

Untuk itulah makanya saya sepakat bahwa penanaman nilai-nilai toleransi ini harus diinisiasi sejak dini dan harus difasilitasi oleh setiap orang tua, terutama untuk orang-orang yang hidup di lingkungan yang heterogen seperti Indonesia.

Beberapa hal yang saya lakukan dan akan lakukan adalah:

a. Memfasilitasi lingkungan bermain yang heterogen

Kejadian di masa depan sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kejadian hari ini. Kejadian di waktu dewasa hakikatnya juga tidak banyak berbeda dengan apa yang dialami ketika masih kecil. Kualitas dan kuantitasnya saja yang mungkin berbeda. Substansinya sama aja. 

Jadi langkah pertama dan yang paling mudah untuk mengenalkan perbedaan kepada anak adalah semudah menghadirkan perbedaan di lingkungan terdekatnya.

Dua hal yang saya lakukan dan akan lakukan adalah:

1. Membiarkan anak saya akses pertemanan dengan siapa saja, selama tidak menimbulkan efek negatif tentunya. Kadang untuk beberapa orang tua, karena rasa cintanya kepada si anak, sang orang tua hanya mengizinkan anaknya untuk bergaul dengan sesama anak kompek atau tetangga cluster dan menjauhi mereka yang dikategorikan sebagai "anak-anak kampung" yang berada di luar komplek/cluster. 

Saya pikir hal itu salah besar. Saya yakin dengan bergaul dengan siapapun, si anak dapat mengenal dan merasakan perbedaan di awal masa hidupnya dengan segala masalah, kenangan ataupun inisiatif-inisiatif yang timbul di dalamnya.

2. Menyekolahkan si anak di sekolah negeri. Saya sebenarnya pro menyekolahkan anak di sekolah negeri sejak SD, tapi dengan berbagai pertimbangan dan lobi yang sukses dari sang istri, jadilah SMP adalah yang kemungkinan menjadi jenjang pendidikan pertama negeri anak saya.

Menyekolahkan si kecil di sekolah negeri bukan tentang biaya yang murah, melainkan tentang bagaimana menyediakan ia lingkungan bermain dan belajar yang heterogen. Pada umumnya murid-murid di sekolah negeri memiliki latar belakang, kebiasaan bahkan pola pikir yang berbeda, hal ini menjadi sarana latihan yang menarik untuk dapat dilakukan anak untuk mengenal perbedaan semenjak kecil.

b. Membelikan buku-buku lintas pemikiran

Sebelum ini dilakukan, penting untuk membekali sang anak dengan dasar ideologi yang kuat. Jika Anda seorang muslim, hendaknya bekalilah si anak dengan ajaran Islam dan pemahaman-pemahaman tentang “why Islam” yang benar. 

Ketika pemahaman akan value-nya yang paling mendasar sudah ditunaikan, maka membelikan dia buku-buku lintas ideologi adalah cara yang saya lakukan dan akan lakukan untuk tujuan menjadikan anak kita toleran dalam lingkungan pergaulan yang plural.

Saya percaya bahwa sikap intoleran/ekstrem/berlebihan/anti-kritik/tidak open-minded adalah imbal hasil dari bacaan dan lingkungan pergaulan yang homogen. Bacaan dan pergaulan yang homogen itulah yang  akan membuat pikiran menjadi sempit, kaku, mau menang sendiri dan pastinya intoleran. 

Intoleran dalam pemikiran (baca: Tidak open minded), mungkin tidak begitu membahayakan, tapi perilaku yang timbul dari tidak open-mindednya seseorang itulah yang destruktif. Sikap yang merasa dirinya paling benar adalah salah satu perwujudannya.

Yang lebih berbahaya adalah sudah tidak open minded, juga taklid (menerima sesuatu tanpa saringan/mentah-mentah). Untuk itulah maka menghiasi pikiran anak dan membenturkannya dengan ideologi lain, pemikiran lain, atau metodologi berpikir lain (setelah kuat nilai dasarnya), menjadi cara yang cukup efektif untuk mendewasakan pemikiran si anak, yang harapannya dapat berkorelasi positif dengan tumbuhnya sikap toleran pada sesama yang berbeda.

Karena..

hanya dengan meliberalkan pemikiran, kedewasaan itu hadir..

568 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia