selasar-loader

#2019gantipresiden atau #Jokowi2periode?

LINE it!
Answered Aug 03, 2018

siapa menang perang tagar jelang pilpres 2019?


m atiatul muqtadir
long life moeslem learner

Perang tagar #2019GantiPresiden vs #Jokowi2Periode

2019 masih berjarak setengah tahun lagi, namun nuansa kontestasi politik khususnya pilpres sudah mulai memanas. Salah satu yang paling membedakan pilpres kali ini dengan sebelumnya adalah ramainya perang argumen, kritik, maupun dukungan di media sosial. Khusus pilpres kali ini masing-masing kubu memiliki senjata berupa tagar atau hashtag untuk meningkatkan popularitas calonnya. Ya, populisme gagasan saat ini dianggap memiliki peranan cukup penting sebagai alat kampanye khususnya di kalangan anak muda. Adalah #2019GantiPresiden dan #Jokowi2Periode yang merupakan dua tagar dari 2 kubu berbeda yang menjadi garda terdepan dalam perang kata di media sosial. Lantas bagaimana posisi keduanya di media sosial saat ini?

Jika melihat statistik dari data drone emprit, hingga bulan April 2018, terdapat 110 ribu mention untuk #2019GantiPresiden. Sebenarnya, tagar #2019GantiPresiden sudah ada sejak januari 2018. Berawal dari hanya dibicarakan 78 akun di bulan pertama, tagar ini terus meningkat popularitasnya di dunia maya. Mencapai 9.837 akun di Maret 2018, hingga April lalu tagar ini sudah dibicarakan tidak kurang dari 63.817 akun.

            Sedangkan dikubu sebelah, tagar #Jokowi2Periode nampak tertinggal jauh secara kuantitas. Sudah muncul sejak 2017 lalu, perkembangan tagar ini tergolong datar dan tidak berkembang signifikan. Hinggal Maret 2018, tagar ini hanya dibicarakan 18.452 akun. Data dari drone empirit pun menunjukkan, per April 2018 tagar #Jokowi2Periode hanya mencapai 18 ribu mention.

            Lantas apa yang membuat #2019GantiPresiden unggul jauh dibanding #Jokowi2Periode?

Pertama, #2019GantiPresiden bersifat umum dan bukan milik satu pendukung capres.

Data diatas  sejalan dengan beberapa hasil survey yang mempertemukan nama Jokowi dengan selain jokowi (jadi satu pilihan polling). Dari sistem survey seperti ini, Jokowi hampir kalah di semua lembaga survey dengan jarak tak kurang dari 10%. Demikian juga dengan hasil survey lainnya yang mempertemukan nama Jokowi dengan beberapa nama tokoh lain, walaupun secara personal Jokowi unggul dibanding nama lainnya, namun jika hasil nama-nama lain tersebut dijumlahkan maka Jokowi pun kalah.  Dari premis diatas kita bisa mengetahui dan memaklumi, tingginya cuitan #2019GantiPresiden salah satunya karena tagar ini bisa milik siapa saja dan bisa digandengkan dengan tagar apa saja. Pendukung Bakal capres dari PKS menggunakan tagar ini, pendukung Prabowo menggunakan tagar ini, pendukung TGB menggunakan tagar ini, dan banyak lagi basis massa tokoh-tokoh alternatif lainnya yang menggunakan tagar ini dalam argumen di media sosialnya. Lain halnya dengan tagar #Jokowi2Periode yang bersifat spesifik dan tentunya hanya digunakan para pendukung Jokowi.

Kedua, Fenomena Pidato Jokowi

Dalam usaha para pendukung tagar ganti presiden ini meningkatkan popularitas argumentasinya, tagar ini pun dicetak sebagai baju, tas, dan produk lainnya. Penjualan bajunya pun tak tanggung-tanggung (cari datanya). Hal ini lantas menjadi pembicaraan tak terkecuali Presiden Jokowi. Dalam pidatonya di bulan April 2018, Jokowi sempat menyindir Kaos bertuliskan #2019GantiPresiden dengan kalimat “Mana bisa kaos mengganti Presiden”. Tak disangka, berkat pidatonya inilah, tagar #2019GantiPresiden mengalami peningkatan drastis dan bahkan mencapai puncak popularitasnya. Dari awalnya 7 ribu per hari, pada tanggal 8 april terjadi kenaikan hingga 37 ribu kali per hari. Siapa sangka, TOP Promoter #2019GantiPresiden adalah Jokowi.

Ketiga, #2019GantiPresiden dilahirkan dari kekecewaan rakyat

            Gagalnya Jokowi untuk mewujudkan nawacita yang telah dijanjikannya menjadi latar belakang munculnya gagasan untuk mencukupkan kepemimpinannya 5 tahun saja. Hutang negara yang kian bertambah, minimnya perhatian pada sektor publik macam kesehatan dan pendidikan, dan penegakan hukum yang tidak adil kian menambah kekecewaan masyarakat. Terutama dari kalangan umat islam yang merasa terancam dengan kepemimpinan presiden ketujuh ini. Maka ketika salah seorang politisi membingkai kekecewaan tersebut dengan tagar #2019GantiPresiden, tak butuh usaha keras menaikkan popularitasnya, karena tagar ini seolah menjadi jawaban dari keresahan rakyat dan simpul bagi siapa saja yang hendak menawarkan calon presiden alternatif yang dianggap mampu memimpin Indonesia dengan lebih baik.

 

            Akhirnya, siapapun pemenang perang tagar ini, belum menjamin kemenangannya pada Pilpres 2019 nanti. Karena rekayasa media tentu berbeda dengan dunia nyata. Namun jauh daripada itu, perdebatan dengan tagar ini alangkah baiknya jika diikuti dengan gagasan dan alternatif kebijakan. Jangan sampai masyarakat habis energi berpikir tentang ‘siapa’ dan tak sempat berpikir soal gagasan ‘apa’. Jangan sampai kita terjebak pada pergantian orang padahal sistem tetap sama yang pada akhirnya ujungnya pun sama: penderitaan rakyat. Saatnya perdebatan diisi dengan argumentasi produktif, bukan sentimen golongan ataupun kebohongan.

Salam,

M.Atiatul Muqtadir

57 Views
Write your answer View all answers to this question