selasar-loader

Indonesia tahun 2030

LINE it!
Answered May 08, 2018

Bagaimana pendapat anda tentang adanya pidato salah satu tokoh Politik tentang bahaya yang mengintai Indonesia di tahun 2030?


Agaton Kenshanahan
Penstudi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

PUBLIK diramaikan oleh narasi Indonesia bubar tahun 2030. Narasi yang belum lama disebut pimpinan Partai Gerindra Prabowo Subianto bersifat kontroversial, meskipun sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam studi keamanan.

Kontroversial ditengarai narasi Indonesia bubar tahun 2030  didasarkan hanya dari ‘novel’ yang ditulis oleh ahli intelijen strategis luar negeri. Kuat disebut bahwa novel yang dimaksud adalah karya fiksi-ilmiah berjudul Ghost Fleet karya PW. Singer dan August Cole (2015).

Kata Prabowo, meskipun bentuknya novel, apa yang ditulis dalam novel tersebut merupakan sebuah tulisan skenario (scenario writing). Menurutnya, sejak Indonesia berdiri, banyak negara lain yang iri karena negeri ini kaya. Ketika kini ada yang menulis atau menskenariokan Indonesia bubar di tahun 2030, maka Prabowo mengingatkan perlunya bangsa Indonesia waspada akan narasi ini.

Bagi kalangan sipil-awam, narasi Prabowo mengutip sebuah novel bisa jadi dipersepsikan tidak memiliki landasan kuat. Novel, sejauh manapun ditulis untuk mendekati kenyataan, tetap saja merupakan karya fiksi.

Apalagi bubarnya Indonesia dalam novel tersebut bukan merupakan kisah utama yang ingin dituturkan penulisnya. Pada kenyataannya Ghost Fleet mengisahkan peperangan masa depan antara Amerika Serikat dan China, di mana negara Indonesia diproyeksikan sudah tidak ada, luluh lantak akibat Perang Timor Kedua.

Penulisnya, Singer bahkan melemparkan cuitan di Twitter bahwa pernyataan Prabowo mengutip isi bukunya adalah hal yang tak terduga dalam pengalaman menulis Ghost Fleet. Ia berbalas cuitan dengan Cole, membahas apakah buku mereka sebenarnya karya fiksi atau bukan. Singer menganggapinya dengan meminta Cole menanyakannya kepada Jenderal Prabowo.

Singkatnya, bagi awam Prabowo mengkhayal. Namun bagi para strategis militer dan penstudi keamanan, narasi ajuan Prabowo boleh jadi dianggap langkah memproyeksikan suatu isu sebagai potensi ancaman keamanan negara yang patut diwaspadai ke depan. Pemerintah Indonesia juga melakukan proyeksi ancaman ini, contohnya dengan membikin Buku Putih Pertahanan Indonesia.

Upaya Sekuritisasi

Dalam studi keamanan, yang dilakukan Prabowo dikenal sebagai upaya sekuritisasi. Istilah sekuritisasi mulanya diperkenalkan oleh Ole Waever dalam buku Security: A Framework for Analysis. Definisi dan kriteria dari sekuritisasi terdapat dalam pembentukan intersubjektif mengenai ancaman eksistensial dengan penonjolan (suatu isu) sehingga memiliki efek politik yang substantif (Buzan, et al., 1998).

Asumsi utamanya adalah setiap aktor yang hendak memulai langkah sekuritisasi (securitizing move) terlebih dahulu melakukan tindak tutur (speech act). Tindak tutur dalam sekuritisasi merupakan suatu langkah linguistik untuk mengkonstruksi suatu realitas sebagai isu keamanan dengan pernyataan-pernyataan.

Suatu aktor akan memulai tindak tutur dengan memberikan proposisi-proposisi mengapa suatu isu, dinamika, atau aktor tertentu dianggap sebagai ancaman. Tindak tutur ini memiliki tujuan agar audiens menerima dan memberikan persetujuan, bahwa suatu isu, dinamika, atau aktor tertentu merupakan ancaman. Ketika audiens telah setuju, maka sekuritisasi telah berhasil. Isu, dinamika, atau aktor tersebut telah terlabeli dan terkonstruksi sebagai ancaman yang perlu tindakan khusus dan prioritas lebih daripada isu lainnya.

Maka dari itu, proses sekuritisasi akan memberikan ruang lebih luas bagi isu-isu hirauan keamanan global. Jika secara tradisional militer dianggap sebagai ancaman eksistensial suatu negara, maka dalam sekuritisasi semua isu bisa dikonstruksi sebagai ancaman. Termasuk isu tulisan skenario Ghost Fleet yang mengatakan Indonesia bubar.

Dalam kasus yang kita bicarakan ini, Prabowo melakukan langkah sekuritisasi dengan memulai tindak tutur melemparkan narasi Indonesia bubar tahun 2030 mesti diwaspadai sebagai potensi ancaman. Maka dari itu tidak heran jika kemudian ia mengatakan, “Kalau nggak mau percaya, ya nggak apa-apa.” Karena dalam sekuritisasi, publik sebagai audiens merupakan penentu apakah isu yang dilemparkan Prabowo patut diwaspadai sebagai ancaman keamanan atau tidak.

Terlepas dari pro-kontra dan kontroversi yang melekat pada narasi Prabowo, sudah sepatutnya bangsa Indonesia waspada akan segala kemungkinan datangnya ancaman. Konstelasi sejumlah negara-negara Balkan dan Timur Tengah yang porak poranda akibat ancaman politik-keamanan menjadi fakta empirik bagaimana suatu negara bisa jadi bubar atau bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Kalau tidak waspada, bukan tidak mungkin Indonesia juga menjadi seperti itu.

***

Tulisan ini dimuat pertama kali di Harian Umum Pikiran Rakyat (19/4/2018) dengan judul "Prahara Indonesia Bubar".

258 Views
Write your answer View all answers to this question