selasar-loader

Apa yang menyebabkan turunnya pamor Kaskus?

LINE it!
Answered Apr 12, 2018

Bagaimana cara menyelamatkan Kaskus?


Ray Fikry
Seorang generalis yang mengamati Jakarta dan Indonesia

Saya dulu sempat mengobrol dengan teman soal Kaskus. Kata dia, Kaskus itu satu grup dengan Blibli di bawah Djarum. Sepengatan dia, Djarum seperti sengaja membiarkan FJB liar, sementara konten di Blibli terus diperbaiki sampai akhirnya mendapatkan gelar ecommerce terbaik (emang Blibli sempat dapat penghargaan ini, ya? Ada yang punya info?)

Mereka (FJB Kaskus dan Blibli) seperti ingin membuat segmennya sendiri untuk masing-masing pasar. Berat jika harus bersaing satu sama lain di pasar yang sama, yaitu Indonesia. Karena itulah FJB dibiarkan begitu saja sementara Blibli terus diperbaiki. Toh Kaskus masih bisa fokus ke komunitas dan bisa diarahkan ke media, sementara Blibli murni ecommerce.

Teman saya setuju saat bahwa Kaskus mengalami kemunduran akibat perubahan kiblat pada konten. Konten-konten yang tadinya informatif dan unik kini semacam disesuaikan dengan social currency alias isu yang ada, terutama isu-isu politik. Namun, mengembalikan Kaskus ke budaya lamanya juga tidak bisa dibilang sebagai langkah yang 100% jaminan mutu, meski punya kemungkinan untuk berhasil. Alasannya, Kaskus lama pun cenderung terlupakan.

Solusinya, Kaskus benar-benar harus cari ide baru, orang baru, tangan baru. Pilihan lain, Kaskus ditutup sekalian. Semacam Koprol dulu sebelum akhirnya malah mati tidak terhormat (jelas bukan ide bagus soal penutupan).

Ada beberapa hal yang saya sepakat dengan pendapat teman saya ini, terutama soal penyebab kemunduran Kaskus. Alasannya, baik Rifan, Zulfian, dan teman saya memberikan pendapat yang kurang lebih sama. Rifan yang mengaku kaskuser aktif 2011-2013 merasa bahwa Kaskus mundur akibat konten-konten yang berbau politik, terutama karena kampanye Jokowi sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Konten-konten unik dan informatif digantikan oleh konten-konten politik.

Bukan berarti cara itu salah. Hanya saja, Kaskus seperti tidak melihat dulu demografi penggunanya. Mencekoki anak muda dengan konten politik dengan dosis berlebihan adalah tindakan yang terlalu spekulatif. Orang tidak kenal (dan mungkin tidak terlalu mau kenal) politik dicekoki terus, ya lama-lama gumoh juga. Apa mungkin manajemen baru Kaskus melihat pengguna hanya sebatas angka, bukan manusia? Atau mungkin mereka beranggapan bahwa “pasar bisa diciptakan” melalui komunitas yang sudah lebih dulu tercipta keunikannya? Saya tidak tahu. Padahal, memahami selera pengguna adalah sesuatu yang penting sekali.

Selain itu, maraknya kasus penipuan yang mungkin sengaja dibiarkan tanpa perbaikan juga menjadi salah satu alasan kemunduran Kaskus. Bagaimanapun, tidak dapat dipungkiri bahwa FJB adalah daya tarik Kaskus. Dengan FJB, orang-orang yang tidak tertarik konten Kaskus bisa terakuisisi dengan baik. Ini artinya, FJB adalah senjata lain Kaskus, tangan lain yang menjangkau segmentasi pengguna yang lebih luas. Integritas adalah hal yang seharusnya bisa membuat FJB ini semakin populer. Saking kuatnya legacy FJB ini, teman saya lebih menyarankan untuk menggunakan FJB daripada ecommerce-ecommerce lainnya.

Keunikan FJB menurut saya adalah terbangun secara alamiah, bukan hasil engineering para developer yang berkiprah di bidang front end. Artinya, dengan UI yang biasa saja, aktivitas jual-beli ini berjalan dengan baik (UX bagus). Bayangkan jika Kaskus serius menggarap FJB dengan meningkatkan UI-nya.

Saya masih menunggu kejutan apa yang Kaskus berikan di masa depan. Kaskus ini ikon digital Indonesia, menurut saya. Sama kuatnya dengan Go-Jek, bahkan lebih punya legacy. Mari kita lihat, terobosan apa yang manajemen Kaskus hendak deliver kepada kita.

304 Views
Write your answer View all answers to this question