selasar-loader

Apa rahasia Liverpool mengalahkan Manchester City?

LINE it!
Answered Apr 11, 2018

Liverpool era Juergen Klopp berkali-kali mampu mengalahkan Manchester City era Pep Guardiola. Padahal, Pep Guardiola dikenal sebagai pelatih yang sulit dikalahkan. Manchester City juga merupakan tim yang kualitas individu pemainnya tinggi. Mengapa demikian?


Duljahari Wilakamar
Orang tua yang senang belajar apa saja

N6Y0mX3daFufrwqjb0IUWq1hbVWhi2kG.jpg

Ada beberapa alasan yang menyebabkan Manchester City dua kali mengalami kekalahan menghadapi Liverpool. 

1. Pemahaman atas Gaya Guardiola

Sebelum bisa mengalahkan lawan, penting bagi seorang pelatih sepakbola untuk memahami gaya bermain lawannya. Jika tidak, dia tidak akan bisa menilai secara objektif tentang kelebihan maupun kekurangan lawannya. Anda bisa perhatikan bahwa Manchester City termasuk tim yang terobsesi dengan ball possession. Filosofi mereka adalah “siapa yang memiliki bola akan mengendalikan pertandingan”. Filosofi ini betul adanya, namun tidak selamanya hebat.

Cara terbaik untuk memainkan kepemilikan bola yang tinggi adalah dengan membangun serangan dari belakang. Kiper tidak memberikan umpan lambung nan tinggi untuk menjangkau para pemain di depan. Alih-alih melakukan hal tersebut, kiper lebih memilih untuk mengoper bola ke pemain belakang terdekat. Dari situ, barulah mereka membangun serangan. Konsep kiper modern ini diterapkan oleh Indra Sjafri kala membesut Timnas U-19 kita.

Pep Guardiola memahami ini dengan sangat baik. Kalau Anda perhatikan, City melakukan banyak operan di belakang, di antara Vincent Kompany dan Nicolas Otamendi. Di depan kedua pemain ini, pemain-pemain lain seperti Silva, de Bruyne, Jesus, dan Guendogan berkumpul di tengah lapangan menunggu aliran bola. Baik Kompany maupun Otamendi bisa memberikan bola kepada mereka atau justru mengalirkan ke Walker/Laporte jika ingin menyerang dari samping. Namun sebelumnya, Kompany dan Otamendi akan “bermain” dulu.

qiYZoqqsKisXArnaEIZvL6Ul-dum632T.png sumber: @11tegen11

Di sisi lain, Juergen Klopp memahami ini dengan sangat baik.

2. Pengalaman Klopp

Kalau diingat-ingat lagi, ini bukan pertama kali Juergen Klopp mengalahkan Pep Guardiola. Ketika masih melatih Borussia Dortmund, Klopp pernah mematahkan dominasi Bayern Munich asuhan Guardiola di pentas lokal dan sukses menjadi finalis di Liga Champions. Klopp saat itu menggunakan formasi 4-2-3-1 untuk memotong bola dengan menekan lawan yang tengah menyentuh bola.

Dalam tahun pertamanya melatih Liverpool, Klopp juga mampu mengalahkan Manchester City. Kala itu, Manchester biru diasuh Manuel Pellegrini. Serentetan hasil buruk membuat prestasi Pellegrini dengan mudah dilupakan oleh manajemen City. Sosoknya digantikan oleh Guardiola yang sebelumnya melatih Bayern Munich.

Kini, Manchester City dan Pep Guardiola bersatu. Keduanya punya banyak kesamaan. Sama-sama punya ambisi, sama-sama pula punya pengalaman dikalahkan oleh Klopp. Bukan hal yang mustahil jika pengalaman Klopp sangat membantunya dalam memahami karakter klub dan pelatih ini. 

3. Formula Klopp

Klopp sudah memiliki formula yang pas untuk melawan City, baik dalam menyerang maupun bertahan. Di bawah kendali Klopp, Liverpool menjelma menjadi klub yang heavy metal. Mereka bertahan bukan hanya di belakang, melainkan juga di depan. Maksudnya?

Kalau kita perhatikan gambar di atas, terlihat sekali bahwa intensitas operan dalam permainan City terletak di Kompany dan Otamendi. Ini yang coba dirusak oleh Klopp. Caranya adalah dengan memanfaatkan Gegenpressing.

Gegenpressing sejatinya adalah filosofi taktik dari Pep Guardiola yang berhasil Klopp implementasikan di klub Barcelona dan FC Bayern Munchen. Berdasarkan penjelasan dari givemesport.com, gegenpressing sangat memerlukan kerja sama tim yang kompak. Hal tersebut dikarenakan sistem ini menitikberatkan pada pressing yang hampir memakan ¾ wilayah lawan.

Dalam permainan Liverpool, kita bisa melihat bahwa aplikasi gegenpressing ini terbagi menjadi tiga. Pertama, pressing di depan. Kedua, counter attack di tengah-belakang. Ketiga, long pass dari belakang. 

Firmino, Mane, dan Salah adalah pemain-pemain yang cepat. Kecepatan mereka gunakan tidak hanya untuk membawa bola ke gawang, tetapi juga untuk merebut bola yang dikuasai bek-bek City (pressing di depan). Mereka bermain dengan sangat efisien. Dua kali menghadang City di Liga Champions, 15 tembakan, 5 gol. Bandingkan dengan statistik City dalam dua pertandingan yang menghasilkan 31 tembakan namun hanya berbuah 1 gol. City lebih produktif, Liverpool paling efisien.

Di tengah, tumpukan pemain City tidak diberi banyak ruang untuk melakukan operan. Kalau pun mereka melepas bola melalui operan, hal itu akan segera direbut oleh pemain-pemain Liverpool yang gemar melakukan pressing di segala lini. Anda bisa lihat bagaimana para pemain Liverpool memanfaatkan kesalahan pressing Kevin de Bruyne di bawah ini.

Cetak biru Liverpool ini memang lumayan antimainstream dibandingkan klub-klub bola pada umumnya. Biasanya, jika City menguasai bola, lawan akan fokus bertahan dalam area pertahanan mereka. Para pemain City dibiarkan leluasa mengoper bola dan membangun serangan. Liverpool tidak demikian. Alih-alih fokus bertahan, mereka justru berusaha mengerubungi pemain yang menguasai bola sehingga para pemain City gugup dan akhirnya melakukan kesalahan dalam operan sebagaimana rekaman di atas.

Sekarang, mari kita lihat lini belakang Liverpool. Agar pemain-pemain depan Liverpool bisa efektif dalam menyerang, Loris Karius yang menjadi kiper mereka memberikan banyak long pass. Bukan untuk Firmino-Mane-Salah, melainkan untuk para pemain belakang City. 

Liverpool memanfaatkan second ball dari para defender City yang tidak mampu melakukan clearance dari operan Karius dengan baik. Biasanya, para pemain depan Liverpool sengaja kalah duel. Tujuannya adalh untuk memberikan tekanan agar para pemain City tidak bisa mengontrol bola dengan benar. Nah, begitu bolanya lepas, akan ada satu pemain lagi yang langsung berusaha merebut bolanya. Makanya dari itulah, umpan lambung Karius pada pertandingan lawan City  jauh lebih banyak dibanding umpan lambung dia pada pertandingan-pertandingan Liverpool lainnya.

Menurut saya, faktor-faktor inilah yang membuat Liverpool mampu mengalahkan Manchester City pada ajang Liga Champions.

 

Ilustrasi via goal.com

342 Views
Write your answer View all answers to this question