selasar-loader

Kenapa duduk tahiyat akhir miring ke kiri? Padahal shafnya disuruh rapat tumit ketemu tumit.

LINE it!
Answered Mar 27, 2018

Kenapa duduk tahiyat akhir miring ke kiri? Padahal shafnya disuruh rapat tumit ketemu tumit. Di Indonesia, lazimnya kita duduk takhiyat akhir dengan cara mencondongkan badan ke kanan karena posisi duduk miring ke kiri. Hal ini menyebabkan kita harus menyediakan space lebih antara satu orang dengan orang lainnya. Padahal dalam haditsnya, salat harus rapat tumit ketemu tumit. Sependek pengalaman saya salat di luar negeri, banyak yang pada prakteknya duduk takhiyat akhir sama posenya dengan takhiyat awal.


Mhd Fadly
KPI Fak. Agama Islam UMSU, Alumni Pon-pes Ibadurrahman Stabat

Pertanyaannya kurang tepat, menurut saya. Disuruhnya berdiri rapat dalam shaf itu tumit lurus ke garis shaf. Selain itu, usahakan mata kaki bertemu dengan mata kaki, minimal betis ketemu betis. Bukan tumit bertemu tumit. Itu adalah koreksi yang pertama.

Kedua, dalil itu digunakan untuk merapatkan shaf ketika kita berdiri dan untuk meluruskan shafnya, bukan untuk duduk tahiyat. Tetapi jika salatnya saja sudah rapat, insya Allah duduk pun lebih rapat.

Rapatnya shaf itu ada batasan paling lebar, yaitu kurang dari 1 (satu) meter per orang atau setara dengan 50 cm. Duduk itu untuk 50 cm sangat rapat sekali itu sudah. Buktinya, waktu kita mendengarkan khatib dalam ibadah salat Jumat, jamaah masih pada duduk dah penuh tuh masjid. Ketika salat hendak dimulai, banyak ruang yang kosong di belakang. Intinya, kerapatan bukan dinilai dari tumit ke tumit. Bukan berarti jika tumit satu jamaah dan jamaah lainnya tidak bertemu, lantas dikatakan shaf salat tidak rapat. Bukan begitu.

Ketiga, mencari illat (irisan) antara shaf dan duduk tahiyat itu tidak mungkin bisa karena keduanya adalah dua gerakan yang berbeda. Namun kalau mau dijawab, saya akan analogikan seperti ini; Ketika Anda buang angin melalui dubur di depan orang banyak dengan rasa malu, kenapa wajah Anda yang ditutup ataupun memerah? Kenapa untuk kembali suci dari hadats kecil dengan wudhu setelah sebelumnya batal oleh buang angin, tidak ada gerakan mencuci dubur?

Keempat, ibadah itu sudah ada aturannya, baik gerakan maupun hukumnya. Kenapa tidak Anda tanyakan saja pada Tuhan; Ya Tuhan, kenapa kita harus salat? Kenapa salat punya rakaat? Kenapa harus rukuk? Dan sebagainya. Tentu jawaban sederhananya adalah karena ittiba’ Rasul (mengikuti rasul).

Kelima, duduk dalam salat itu ada tiga; Duduk iftirosy, duduk tawaruk dan duduk iq'a. Yang dua di awal lazimnya ialah yang seringkali dipakai oleh masyarakat Indonesia. Sementara itu, yang terakhir (duduk iq'a) adalah duduk antara dua sujud dengan cara menduduki kedua kaki dengan tumit berdiri.

 

Demikian. Mudah-mudahan menjawab.

153 Views
Write your answer View all answers to this question