selasar-loader

Apa prinsip atau motto hidup yang kamu pegang?

LINE it!
Answered Mar 26, 2018

Zulfian Prasetyo
Tertarik pada gaya hidup sehat dan pernak-pernik keseharian lainnya.

Waduh, pertanyaan yang luar biasa ini. Prinsip atau motto hidup yang kamu, eh saya, pegang adalah untuk tidak berharap pada manusia. Ini rupanya sejalan dengan quotes Ali bin Abi Thalib.

NyS3YrJllb_xL9Frw4nHw0cNWx9jIrIr.png

Disadari atau tidak, kita seringkali berharap pada orang lain. Sedari kecil, kita berharap agar diberikan ini-itu oleh orang tua. Sudah kenal uang jajan, kita berharap diberikan uang jajan yang lebih oleh orang tua. Masuk sekolah, kita berharap mendapatkan nilai yang bagus beserta puja-puji dari guru dan teman-teman. Sudah SMA dan kuliah, berharap dicintai oleh seseorang dan diterima apa-adanya (padahal, kita sendiri tidak "apa-adanya" alias menetapkan kriteria pada calon yang kita sukai. Manusia suka semaunya begitu, memang, hahaha). Sudah lulus, berharap diterima kerja. Sudah diterima kerja, berharap dinaikkan gaji. Sudah naik gaji, berharap dinaikkan pangkat dan jabatan. Sudah segalanya, berharap (lagi) pada lawan jenis dan kali ini sekalian orang tuanya agar cinta yang sepaket dengan lamaran itu diterima. Sudah dapat istri (yang sepaket dengan besan), berharap nambah dan kalau perlu hingga slot maksimal yang empat istri itu terisi semua (eits!).

Berharap pada manusia. Itulah kita.

Padahal, kita juga tahu dan sering mengalami bahwa harap pangkal kecewa. Lebih tepatnya, berharap pada manusia itu pangkal kekecewaan. Tidak diberikan uang jajan, nangis. Dapat nilai buruk dan tidak naik kelas, nangis. Cinta bertepuk sebelah tangan, nangis. Gaji dipotong, nangis. Dipecat dari pekerjaan, nangis. Diminta cerai oleh istri (yang sepaket dengan orang tuanya itu), nangis. Digugat cerai oleh seluruh istri yang sampai penuh slot-nya itu, nangis. Kehilangan semua yang dimiliki di dunia, baik itu harta, tahta, dan wanita, nangis. Gagal jadi anggota dewan yang terhormat, nangis. Lanjut gila. Masuk rumah sakit jiwa. Gantian anak-istri yang nangis.

Saya bukan duta sufi Indonesia, apalagi sufi selevel Chandra Malik (yang mengaku sufi plastik. Hehehe lucu juga ada istilah sufi plastik). Saya cuma orang yang ingin mengajak kita semua untuk menyadari hal ini betul-betul sekaligus menjalaninya sebagai prinsip atau motto hidup. Berharaplah pada Tuhan, siapapun tuhan Anda. Belum punya tuhan? Monggo dipunya dulu. Habis itu, berserah dirilah padanya. 

Berserah diri. Ini dia kata kuncinya. Tidak kebetulan, agama saya Islam. Itu agama yang saya pilih saat galau agama kelas 5 SD dulu. Islam itu berserah diri. Dari situ, saya belajar pelan-pelan untuk berserah diri pada Tuhan. Berharap (raja') boleh, tetapi dialamatkan kepada Tuhan, bukan manusia. Sebenarnya kata raja' di sini secara harfiah artinya kembali. Ya kembali kepada Allah. Kita berusaha sebaik mungkin, lalu mengembalikan segalanya kepada Dia. Inilah motto hidup yang saya pegang.

Harap diingat, dipegang belum tentu menempel sedemikian lekat pada ingatan. Yang kadang-kadang refleks juga untuk berharap, namun seketika saya insyaf begitu yang ditumpukan harapan ternyata tidak sesuai dengan harapan yang diharapkan (too much harap words, here?).

Mohon maaf kalau terlalu panjang. Mohon maaf kalau ada yang terkena sindir. Kebenaran hanya milik-Nya, meskipun sering banyak netizen yang ingin ikut-ikutan maha benar juga.

Sekian dan terima amplop.

 

Note:
Ini benar-benar kutipan dari Ali bin Abi Thalib bukan, sih? Jujur, saya masih belum tahu karena keterbatasan ilmu, terutama ilmu agama. Kalau ada yang sekiranya bisa mengklarifikasi, monggo lho komentar di jawaban saya ini. Kiranya Allah kasih kehidupan yang baik buat siapapun yang mau bantu.

155 Views
Write your answer View all answers to this question