selasar-loader

Apa ide kerajinan dari barang bekas yang bisa dijual?

LINE it!
Answered Mar 23, 2018

Barang yang sudah tidak terpakai seperti kotak kardus tempat kita membeli sesuatu biasanya dibiarkan begitu saja di gudang. Padahal ada nilai ekonomis yang bisa kita dapatkan dari barang bekas tersebut. Kira-kira apa saja ide kerajinan tangan dari barang bekas yang bisa dijual?


Duljahari Wilakamar
Orang tua yang senang belajar apa saja

Sebenarnya, ada banyak sekali ide kerajinan dari barang bekas yang bisa dijual. Coba saja cari di Google, pasti banyak ide kerajinan dari barang bekas. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya, ide itu ada di sekitar kita. Bila merasa buntu, tinggal rajin-rajin saja main ke pasar seni, terutama bila berkunjung ke daerah-daerah yang terkenal dengan kerajinan tangannya. Pasti banyak.

Saya hanya akan memberikan beberapa tips menjual kerajinan dari barang bekas di sini dengan menggunakan pertanyaan, karena Selasar ini kan identik dengan tanya jawab.

Apa yang mau dijual?

Kalau sekedar ingin menjual, apapun bisa dijual, bahkan barang bekas yang tidak diapa-apakan bisa dijual. Online lagi! Namun jika ide utamanya adalah menjual kerajinan dari barang bekas, pastikan hasil akhirnya memiliki nilai seni yang tinggi. Lho, kenapa harus begitu?

Barang yang mau kita jual adalah barang bekas. Namanya barang bekas, tentu nilai interinsiknya (nilai barang) sudah berkurang. Karena itu, jangan mengandalkan barangnya. Andalkan gagasannya. Ide apa yang mau ditampilkan? Pesan apa yang mau disampaikan?

Contoh pertama dari Selasar Kreatif adalah lampu nanas. Yang dijual bukan kerajinan lampu nanas dari barang bekas. Yang dijual adalah ide berupa lampu berbentuk nanas. Bagi orang yang benci atau alergi nanas, ide ini tidak harganya. Bagi penggemar berat nanas atau mungkin Spongebob yang punya rumah nanas, ini adalah benda yang luar biasa menarik. Mereka akan beli karena bentuknya nanas, bukan karena ia adalah barang bekas.

Jual idenya, bukan barangnya.

Contoh lain ide kerajinan dari barang bekas ini adalah sirkuit Tamiya. Kalau diperhatikan dari gambar, sirkuit Tamiya yang terbuat dari kardus ini sangat rumit dan bisa diatur sesuai kemauan sendiri. Dan ini yang paling penting: ada logo Tamiya! Buat para penggemar Tamiya, logo ini luar biasa. Meskipun secara hak cipta, ini tentu melanggar ya. Kalau tujuannya untuk konsumsi pribadi, tidak apa-apa. Tapi kalau untuk dijual, sebaiknya pikir-pikir. Hehehe. Saran saya, coba bikin saja sirkuit mini 4 WD seperti ini yang bisa membuat pikiran orang mengarah pada Tamiya. Karena bahan dasarnya dari kardus bekas, selain bisa menekan biaya produksi, tentu ini akan sangat menarik dan menimbulkan kepuasan tersendiri saat mobil-mobil mini 4 WD itu melaju dengan kencang.

Jual idenya, bukan barangnya.

Saya dulu pernah membeli sebuah bingkai seharga (kalau tidak salah) Rp30 ribu rupiah. Ketika saya hendak membeli, datang ibu-ibu yang bercakap-cakap dengan penjualnya. Sepertinya mereka saling kenal karena cukup akrab. Si Ibu kemudian menjelaskan komponen-komponen yang menyusun bingkai itu (biji saga, cabai Jawa, dan lain-lain). Kalau saya tidak salah hitung, nilai interiksiknya tidak sampai Rp5 ribu! Hahaha.

Bagaimanapun, saya beli barang itu sesuai harga yang ia tawarkan. Saya jelaskan kepada istri saya, yang saya beli adalah seninya. Seni berkomposisi. Seni dalam menemukan bahan-bahan tertentu yang tidak terpikirkan sebelumnya untuk menjadi bingkai yang enak dipandang. Yang menimbulkan nuansa tertentu ketika dilihat berlama-lama, terlepas dari barang pembuatnya yang salah satunya adalah biji saga yang bisa didapatkan secara gratis dari pohon saga terdekat.

Jual idenya, bukan barangnya.

Dijual untuk apa?

Berjualan apapun, mulai dari barang bekas hingga startup, seringkali berkutat pada pertanyaan ini: mau jual multivitamin atau obat penghilang rasa sakit (pain killer)? Maksud saya begini, orang cenderung menjual yang bagus-bagus namun ternyata kurang fungsional. Bukan kebutuhan. Jadilah jualannya tidak laku.

Ini juga yang saya lihat pada orang-orang yang berusaha mendirikan startup. Rata-rata startup yang bagus dan tahan lama itu sifatnya seperti obat. Startup seperti Go-Jek, misalnya, adalah obat bagi kebutuhan masyarakat agar terbebas dari rasa macet karena bisa dipanggil dari lokasi dia di mana saja. Selain itu, dia juga jadi obat bagi tukang ojek pangkalan yang penghasilannya relatif kecil. Dulu, rata-rata tukang ojek pangkalan yang makannya bisa lumayan lebih enak itu yang biasanya punya penumpang langganan. Saya dulu punya kenalan tukang ojek namanya Joko. Saya minta dia untuk menjemput anak saya setiap pulang sekolah langsung ke rumah. Tujuannya agar anak saya tidak main ke mana-mana dan langsung mengerjakan PR di rumah. Nah, latihan kedisiplinan saya untuk anak-anak ini berkah bagi Joko karena saya jadi berlangganan jasanya. Joko jadi obat buat mendisiplinkan anak saya.

Tapi, itu jasa. Kalau barang, silakan Anda pikirkan sendiri, barang apa yang kira-kira bisa menjadi obat bagi orang lain. Syarat utamanya hanya satu: fungsi. Semakin penting fungsinya, semakin besar barang bekas itu laku terjual. Mungkin tidak bisa mahal-mahal amat karena barang kebutuhan sehari-hari biasanya dijual dengan harga relatif murah.

Jual fungsinya, bukan barangnya. Barang bekas itu hanya perantara.

Dijual di mana?

Ini sebenarnya bagian dari bauran pemasaran (marketing mix). Istilahnya, nasi uduk yang dijual di dekat rumah tentu berbeda dengan yang dijual di McD. Padahal, sama-sama nasi uduk. Saya juga pernah makan nasi rawon ketika mendarat di bandar udara Juanda, Sidoarjo. Harganya kira-kira Rp40 ribu. Padahal kalau di pinggir jalan, harganya paling Rp16 ribu sampai Rp20 ribu.

Nasinya sama, tempatnya beda.

Siapa yang menjual?

Masih lanjutan dari bauran pemasaran. Kali ini bagian promosi. Pernahkah Anda datang ke warung makan yang tampaknya biasa saja, namun begitu dimasuki, ada banyak "peninggalan" dari artis-artis. Bisa foto, bisa tanda tangan dan ucapan selamat. Apa yang Anda rasakan?

Merasa keren karena artis pernah duduk di tempat yang kini Anda duduki?

Kira-kira begitulah efek promosi yang bagus. Kalau punya kerajinan dari barang bekas yang mau dijual, bawalah barang itu ke tempat syuting film. Cari artisnya. Minta foto bareng sambil membawa barang kerajinan Anda. Jelaskan niat Anda baik-baik ke dia untuk menjual barang bekas ini dan menunjukkan bahwa kreativitas itu ada harganya. Bagus kalau Anda jelaskan (dan niatkan) bahwa sebagian hasil penjualannya akan disedekahkan. Biasanya mereka akan mau karena ada tujuan mulia. Namun, harus benar-benar disedekahkan lho. Kalau tidak, panas duit itu!

Yah, saya pikir saran ini cukup sampai di sini. Bagaimanapun, ini hanya saran. Anda yang menentukan, akan memakai saran-saran kerajinan barang bekas ini atau tidak. Namun, ingatlah untuk selalu begin with the end dalam menjual kerajinan dari barang bekas sehingga barang bekas yang dijual bisa laku, entah dalam harga mahal atau murah.

Mudah-mudahan, saran ini bermanfaat!

190 Views
Write your answer View all answers to this question