selasar-loader

Bagaimana cara kerja jakarta.siap-ppdb.com?

LINE it!
Answered Mar 20, 2018

Pendaftaran sekolah di Jakarta telah menggunakan SIAP PPDB online. Sebenarnya bagaimana cara kerjanya?


Duljahari Wilakamar
Orang tua yang senang belajar apa saja

Terus terang, saya baru tahu perihal jakarta.siap-ppdb.com ini. Kalau saya tidak salah (mohon dikoreksi), cara kerja PPDB online ini fokus ke penggunaan satu akun yang bisa digunakan siswa setiap ingin mendaftar sekolah. Sistem ini seharusnya bisa memudahkan seseorang dalam mendaftar sekolah. Dulu, saya harus keliling kota untuk mendaftarkan anak sekolah ke sana-sini. Sekarang sudah jauh lebih praktis.

Seharusnya lho, ya.

Masalahnya, PPDB online ini menjadikan Jakarta sebagai wilayah percontohan. Kalau mau buat wilayah percontohan, seharusnya dari wilayah yang peralatannya paling minim, paling terpencil. Dari sana, baru sistem disempurnakan. Bukan dari wilayah yang paling maju. Soalnya, kalau sebuah sistem maupun teknologi yang mendukungnya bisa diterapkan di wilayah terluar Indonesia, otomatis ia bisa diterapkan di Jakarta. Potensi masalah yang dihadapi akan langsung ketahuan. Kalau dari Jakarta yang dianggap apa-apa paling maju, ya susah juga.

Ini seperti salat yang imamnya remaja, makmumnya kakek-kakek seperti saya ini. Mentang-mentang remaja, masih kuat, gerakannya cepat. Mau cepat selesai, tapi salat tidak khusyuk. Yang sudah tua tidak bisa mengikuti karena punya masalah di persendian, misalnya. Tapi kalau dibalik, imamnya yang sudah cukup berumur, yang masih remaja tetap bisa mengikuti, toh?

Mbok siapapun yang punya ide ini jalan-jalan ke perbatasan, lalu buka Youtube. Sudah secepat apa koneksinya? Ini baru bicara teknologi. Belum bicara penggunanya.

Banyak pengguna di daerah belum paham betul tentang cara menggunakannya. Siang mereka pergi ke ladang, malam istirahat di rumah. Ada juga yang siang istirahat, malam berjualan di pasar. Mereka bukan orang-orang yang kalau kata anak saya, istilahnya FOMO. Fear of Missing Out. Kalau ketinggalan berita, ya hidupnya tidak kiamat. Biasa saja. Makanya orang-orang di desa ya santai-santai saja.

Sistem PPDB online ini belum sepenuhnya dipahami oleh orang tua murid. Banyak yang gagap teknologi. Akhirnya, prosedur pendaftaran banyak yang salah. Banyak yang bingung mengikuti tahapan proses. Mulai dari pendaftaran hingga registrasi setelah lolos seleksi administrasi, tahapan-tahapan ini tidak dilakukan dengan baik. Artinya apa? Sosialisasi masih payah.

Kalau sudah begini, bagaimana? Ya bangku sekolah kosong. Sekolah kekurangan siswa.

Sekarang kita bicara aturan. Ketika kementerian hendak menerapkan aturan baru, apakah sudah ada studinya? Kalau ada, apakah studinya sudah divalidasi atau belum? Mohon maaf, orang-orang tua yang bergelar S2 di sana itu kebanyakan tesisnya dikerjain anaknya. Memangnya saya ndak tahu, hahaha. Daripada mereka bikin studi, lebih baik kementerian yang terlalu banyak orang tua ini menyerahkan proses pelaksanaan kajiannya ke pihak ketiga yang lebih kompeten.

Soalnya, aturan PPDB Online ini bentrok dengan aturan lokal yang sudah berlaku di beberapa daerah. Kalau sudah begini, siapa korbannya? Anak?

Bukan, orang tua yang tidak bisa tidur malam hari dan tidak enak kerja siang hari saking takut anaknya tidak diterima di sekolah negeri!

Tahu apa kata Pak Menteri soal PPDB Online ini? Ini saya kutip dari newsmedia.co.id.

"PPDB ini pasti ada kekurangan, dan kekurangan ini akan dikumpulkan untuk evaluasi tahun depan," kata Menteri usai menghadiri peresmian SMKN 1 Leuwiliang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu, 12 Juli 2017.

Menteri menganggap wajar kekurangan atau kelemahan sistem baru itu yang belakangan banyak diprotes orang tua calon siswa karena baru diterapkan tahun ini. 

"Ini, kan, baru pertama kali PPDB dengan cara online," ujarnya berargumentasi.

Inilah masalah Kementerian Pendidikan yang dari dulu tidak selesai-selesai. Kurikulum dibongkar-pasang. Sistem diuji coba langsung ke masyarakat. Dikiranya Indonesia ini startup, apa?

Saya tahu, kritik saja tidak cukup untuk membuat negara ini menjadi lebih baik. Harus ada saran juga. Saran saya, tolong apa-apa itu dimulai dari desa, dari wilayah perbatasan. Kalau perlu, menteri berkantor di perbatasan saja. Hidup dengan orang perbatasan. Hidup dalam keterbatasan. Nanti akan segera teridentifikasi itu masalahnya apa saja.

Masyarakat kalau diminta untuk mengeluarkan uneg-uneg pasti akan cerita, apalagi kalau yang minta menteri. Siapa tahu juga ada putra-putri berbakat yang punya solusi jitu untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jangan remehkan mereka, kadang mengobrol bersama mereka saja bisa menimbulkan inspirasi untuk negara yang lebih baik.

Kalau pemerintah malas bergerak, ya sudah anak-anak startup saja yang maju. Toh nanti negara ini juga ada dalam genggaman mereka. Coba itu mereka hidup di perbatasan. Kalau gelisah di hari-hari awal, ya wajar saja. Tapi inovasi itu kan datang dari kesulitan-kesulitan hidup.

Kalau mau bikin startup yang istilahnya pain killer ya paling mudah datang ke wilayah yang belum tersentuh teknologi. Mau menyelesaikan masalah masyarakat kalau cuma main di Jakarta saja ya paling bikin startup belanja saja, yang bikin orang-orang boros uang, malas menabung untuk masa depan, atau bikin startup yang bikin orang kebanyakan jalan-jalan. Habis itu ngaku-ngaku socioentrepreneur. Jadi pembicara di seminar ini-itu. Kok mudah sekali.

Sekali lagi saya mohon maaf. Ini kritik dan saran saya ajukan karena ingin berkontribusi dengan cara yang saya bisa. PPDB Online ini pada dasarnya ide yang bagus, hanya saja cara berpikir kita masih sepotong-sepotong. Ego sektoral masih terlihat sekali di sini. Masalah pendidikan itu sifatnya mendasar. Apa yang dijalankan sekarang, baru bisa dilihat hasilnya 20 tahun kemudian. Makanya, bila menjalankan saja sudah salah, bagaimana hasilnya 20 tahun nanti? Penting sekali ini untuk menjadi perhatian semua orang, termasuk anak-anak muda yang nantinya akan menjadi orang tua.

Semoga PPDB Online ini bisa bermanfaat bagi semua murid di seluruh Indonesia. Mudah diakses. Semoga Kementerian dan Dinas Pendidikan bergerak cepat untuk membuat prosesnya sesederhana dan seintuitif mungkin sehingga nanti orang tua yang barangkali tidak sekolah sampai tamat tetap bisa mengerti prosedurnya. Pada akhirnya, yang terbaik bukanlah yang paling maju teknologinya. Yang terbaik adalah yang paling efisien dalam membuat sistem sehingga Indonesia yang terlalu beragam ini (termasuk dalam hal penetrasi teknologi) bisa mendapatkan manfaat yang sama.

273 Views
Ade Ratri

kok agak gimana yah denger bapak marah2. Piiiiiiiis pak  Mar 20, 2018

Duljahari Wilakamar

Hanya curahan hati orang tua, Mbak Ade Ratri. Hehehe.  Mar 22, 2018

Write your answer View all answers to this question