selasar-loader

Apa isi piagam Jakarta?

LINE it!
Answered Mar 19, 2018

tfInCmaYF5sL8N-YQWDzJGk5aJ5qxpr5.jpg


Zulfian Prasetyo
Penikmat sejarah

Menarik memang melihat perdebatan yang mewarnai sejarah Piagam Jakarta ini. Piagam Jakarta seakan-akan memberi ramalan pada kita bahwa nantinya, ujian terbesar bagi bangsa Indonesia adalah kompetisi antara negara dan agama. Sentimen ini benar-benar saya rasakan pada pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2017 lalu.

Mengerikan sekali perdebatan-perdebatan yang dilakukan oleh masyarakat kita, seakan-akan mereka lupa sejarah Piagam Jakarta, lupa pula bahwa esensi dari pemilihan gubernur adalah untuk Jakarta yang lebih baik. Karena Jakarta adalah miniatur Indonesia, secara tidak langsung pemilihan Gubernur ini seharusnya ditujukan untuk Indonesia yang lebih baik pula.

Jadi fokusnya ke sana, bukan berusaha mengalahkan calon lain yang tidak sesuai pilihan kita. Kalau fokusnya tidak jauh-jauh dari urusan menang dan kalah, wah bisa-bisa bangsa ini tinggal menghitung hari saja seperti kata Mbak KD.

Saya sendiri berpikir seperti ini. Sebaiknya, kita memang sering-sering membaca lembaran sejarah, termasuk Piagam Jakarta ini. Lembaran sejarah yang dimaksud tidak hanya sejarah yang ditulis bangsa sendiri, melainkan juga sejarah yang ditulis oleh orang luar.

Mengapa demikian? Karena ini membuat kita bisa lebih bijak dan terlatih untuk berpikir dari sudut pandang orang lain, tidak hanya sudut pandang diri sendiri yang sangat mungkin menimbulkan bias akibat subjektivitas kita sebagai manusia biasa.

Saya ingat bahwa saya pernah membaca tulisan Anis Matta entah di mana. Yang jelas, waktu itu dia sempat membicarakan soal hubungan antara agama, demokrasi, pengetahuan, dan kesejahteraan.

Kira-kira begini katanya:

Pertama, agama itu membentuk karakter bangsa.

Kedua, pengetahuan itu membentuk kapasitas manusia.

Karena manusia adalah unsur terkecil dari organisasi sebesar negara, ya negara akan ikutan maju saat manusianya maju juga, baik oleh agama maupun oleh ilmu pengetahuan.

Demokrasi menciptakan keseimbangan sosial antara kebebasan dan keteraturan. Ini sepertinya berfungsi sebagai titik temu antara kebebasan dan keteraturan, karena yang terlalu bebas biasanya tidak teratur dan yang terlalu teratur biasanya tidak bebas. Coba kita ingat-ingat lagi zaman Pak Harto dengan zaman Pak Habibie itu.

Terakhir, kesejahteraan adalah output dalam bentuk standar kehidupan yang lebih berkualitas. Yah, sederhananya sih air susu lebih berkualitas dan bergizi untuk diminum alih-alih air tajin.

Membaca sejarah tentang Piagam Jakarta ini seperti membaca sesuatu yang menjadi cambuk bagi diri saya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (asyik...). Begitu luar biasanya golongan Islam yang tentu memiliki andil yang tidak kecil (saat itu mereka adalah salah satu golongan yang sangat berpengaruh) dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Rasa tidak puas tentu ada, namun sisi persatuan sekaligus keengganan untuk dijajah kembali tampaknya lebih besar daripada kepentingan golongan. Ini yang akhirnya membuat mereka legowo untuk menghilangkan tujuh kata yang menimbulkan polemik persatuan itu.

Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", pada akhirnya dihapus.

Diam-diam, saya bertanya dalam hati, apa yang akan mereka lakukan jika melihat kehidupan negara yang mereka dirikan dengan susah payah saat ini?

Saya meyakini  dalam hati, mereka mungkin akan sedih bercampur marah kalau sikap legowo yang telah mereka lakukan ini malah kembali menjadi perdebatan. Yang seharusnya bangsa Indonesia zaman sekarang berpikir tentang bagaimana menjadi leading country in Asia, atau bahkan di dunia, justru masih saja berkutat pada perdebatan yang seharusnya sudah selesai lebih dari enam puluh tahun lalu.

Kita bukan hanya stagnan, melainkan juga mundur.

Apalagi jika pihak-pihak yang melakukan perdebatan itu adalah netizen yang maha benar tanpa harus banyak-banyak membaca buku sejarah, hanya mengandalkan bacaan di koran-koran (itu pun kalau mereka masih mau membaca) dan mengisi umurnya dengan memperbanyak bermain mobile legends...

FgFGc0EncgckMm0qGX873kCUXdRvBgDU.jpg steemit.com

dan bersedekah minum kopi di kafe-kafe yang mengambil tempat di mal-mal atas nama menggalakkan kegiatan leisure economics sebagai kewajiban baru millenials.

Miris.

268 Views
Rezdi Luthfan

superb writing as always!  Mar 22, 2018

Zulfian Prasetyo

Siaaap!  Mar 23, 2018

Write your answer View all answers to this question