selasar-loader

Apa keberhasilan dan kegagalan terbesar Presiden BJ Habibie yang dikenang rakyat Indonesia?

LINE it!
Answered Mar 17, 2018

Zulfian Prasetyo
Meneladani Sir Alex Ferguson

Bacharuddin Jusuf Habibie adalah presiden yang menandai awal era baru Indonesia, Reformasi. Sebagai presiden masa peralihan, tentu banyak yang menyoroti keberhasilan dan kegagalan pemerintahan BJ Habibie.

Bidang ekonomi menurut saya adalah bidang yang menjadi keberhasilan dan kegagalan pemerintahan BJ Habibie. Dikatakan berhasil karena saat itu, pemerintah berhasil menekan laju inflasi dan gejolak moneter secara signifikan dibanding awal krisis. Ekonomi Indonesia yang sedang “sakit” perlahan-lahan dibenahi. Pada tanggal 21 Agustus 1998, pemerintah membekukan  kegiatan operasional Bank Umum Nasional, Bank Modern, dan Bank Dagang Nasional Indonesia. Pada awal tahun selanjutnya, kembali pemerintah melikuidasi 38 bank swasta, mengambil alih 7 bank, dan membuat 9 bank mengikuti program rekapitulasi.

Berikut ini adalah keberhasilan pemerintahan BJ Habibie di bidang ekonomi:

  • Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN dan unit Pengelola Aset Negara
  • Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah
  • Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga berada di bawah Rp 10.000,00
  • Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri
  • Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF
  • Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat
  • Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Namun, sebagaimana yang dikatakan di awal; bidang ekonomi adalah keberhasilan sekaligus kegagalan pemerintahan BJ Habibie. Langkah-langkah Kabinet Reformasi Pembangunan dalam kebijakan ekonomi pemerintahan BJ Habibie belum sepenuhnya menggembirakan karena dianggap tidak mempunyai kebijakan yang konkret dan sistematis sehingga sektor riil belum pulih. Di sisi lain, banyaknya kasus penyelewengan dana negara dan bantuan luar negeri membuat Indonesia kehilangan momentum pemulihan ekonominya. Distribusi sembako pun dianggap sebagai kebijakan yang gagal. Harga beras tetap meningkat walaupun telah dilakukan operasi pasar, belum lagi penyelundupan beras ke luar negeri dan penimbunan beras.

Berikut ini adalah kegagalan pemerintahan BJ Habibie di bidang ekonomi:

1. Di akhir kepemimpinannya, nilai tukar rupiah kembali meroket
2. Tidak dapat meyakinkan investor untuk tetap berinvestasi di Indonesia.
3. Kebijakan yang dilakukan tidak dapat memulihkan perekonomian Indonesia dari krisis.

Terlepas dari keberhasilan dan kegagalan pemerintahan BJ Habibie, ada satu hal yang saya sukai dari presiden satu ini, yaitu pemahamannya tentang pembangunan yang ia tuangkan dalam teori pembangunan ekonominya. Sebuah pemikiran yang tentu ia dapatkan dari pengalaman selama berkarier di Jerman.

Terlepas dari keberhasilan dan kegagalan BJ Habibie selamat menjabat sebagai kepala negara Indonesia, ada satu hal yang menarik. Habibie memiliki keyakinan bahwa untuk bisa menjadi negara maju, Indonesia tidak selalu perlu melewati tahap-tahap pembangunan, yakni menjadi negara dengan ekonomi berbasis pertanian/agraris, lalu industri pengolahan pertanian, kemudian manufaktur, lanjut ke industri teknologi rendah/menengah, baru ke sampai ke industri teknologi tinggi. Alih-alih melewati tahap-tahap tersebut, Habibie mengemukan teori pembangunan ekonomi negara yang berbeda, yakni dari negara agraris langsung melompat ke tahap negara industri teknologi tinggi tanpa harus menunggu dan melewati kematangan industri pertanian, atau tahapan industri manufaktur serta teknologi rendah.

“The basis of any modern economy is in their capability of using their renewable human resources. The best renewable human resources are those human resources which are in a position to contribute to a product which uses a mixture of high-tech.” (Sumber: BBC: BJ Habibie Profile -1998.)

Dari teori pembangunan ekonomi tersebut, kita bisa melihat bahwa Habibie sangat menekankan pada kualitas sumber daya manusia (SDM), bukan semata sumber daya alam (SDA). Dengan meningkatkan sumber daya manusia, kita dapat membuat produk berteknologi tinggi yang memiliki nilai jual yang tinggi. Hal ini pun akan memicu berdirinya perusahaan-perusahaan pendukung dengan teknologi lebih rendah. Jadi, prinsip pembangunan industri ala Habibie bersifat top-down, bukan bottom-up sebagaimana pembangunan yang bersifat konvensional.

Teori ini coba dihidupkan kembali oleh Dahlan Iskan kala menjadi Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menggandeng putra-putri berbakat Tanah Air, Dahlan turut membidani kelahiran mobil-mobil listrik buatan Indonesia seperti Ahmadi, Tucuxi, Selo, dan Gendhis.

 

cvu1hoPOACG31XhsY_Wo39cwQxDnoXA6.jpgJZwgv8sdu6948aZAQVqCW99SlCbgfuGt.jpg3PJtbGBskQxTb6aA0YsF-xeDr20l6alu.jpg

DR-bvKh5ySS5eZSnkoUANtOs16MtVze6.jpgblanjamobil.com

Saya seringkali merasa sedih jika melihat political will yang kurang dari pemerintah untuk mendukung inovasi-inovasi seperti ini. Barangkali tekanan dari merk otomotif dunia yang telah lama berinvestasi di Indonesia memang sedemikian besarnya (dan mental birokrat yang dulunya "kenyang" hidup susah memang sedemikian kecilnya).

Mobil listrik adalah percobaan kedua Indonesia untuk masuk ke industri teknologi tinggi setelah upaya pertama, memproduksi pesawat terbang sendiri, gagal akibat jegalan IMF yang mendapat angin melalui krisis ekonomi Indonesia. Sayangnya, beberapa orang yang memegang posisi strategis memang lebih suka business as usual dalam menjalankan negara.

Barangkali, para pegiat inovasi di Indonesia memang seharusnya tidak mengandalkan pemerintah dalam upayanya. Akan lebih baik bagi mereka untuk terus mendorong inovasi yang berdampak, yang dibutuhkan masyarakat, yang pengaruhnya lebih dominan untuk kesejahteraan rakyat daripada pemerintah sehingga pemerintah bisa dibuat tunduk.

Sejauh ini, baru Go-Jek yang mampu melakukannya.

...oh, ya. Jangan lupakan pula industri dirgantara kita yang mulai menggeliat melalui kelahiran N-219. Kata Habibie, "It is just the beginning. It is a surprise." Mungkin kejutan yang ia maksud adalah teknologi yang tersemat dalam R-80 yang siap meramaikan jagat industri pesawat dunia (atau teknologi pada pesawat setelahnya? Who knows?).

Mimpi itu rupanya belum selesai.

I have some figures which compare the cost of one kilo of airplane compared to one kilo of rice. One kilo of airplane costs thirty thousand US dollars and one kilo of rice is seven cents. And if you want to pay for your one kilo of high-tech products with a kilo of rice, I don’t think we have enough. - B. J. Habibie

5269 Views
Write your answer View all answers to this question