selasar-loader

Apakah Cina/Tiongkok adalah kekuatan global?

LINE it!
Answered Mar 14, 2018

Agaton Kenshanahan
Penstudi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

A--YTwhCottqkwnQvFK8VZj5XCPikbaK.jpg

JIKA yang dimaksud sebagai ‘kekuatan global’ adalah kekuatan ‘hegemon’ dunia, maka di abad 21 ini China belum bisa dianggap hegemon.  Dalam studi Hubungan Internasional, kekuatan hegemon dunia (atau dapat disebut pula kekuatan hyperpower) dipahami sebagai negara yang amat kuat dibanding dengan negara lain sehingga negara tersebut mendominasi urusan global (Heywood, 2011).

Untuk melihat negara tersebut hegemon atau bukan, perlu dilihat bagaimana sepak terjang negara tersebut dalam politik dunia. Jika negara tersebut selalu ikut campur dalam setiap urusan global dan dapat memaksakan kehendaknya tanpa ada yang bisa menghentikannya maka negara tersebut bisa dianggap hegemon. Analoginya, hegemon ini bagaikan seorang murid ketua geng preman di sebuah sekolah.

Dalam sejarah dunia, kekuatan hegemon ini bisa berubah-ubah pemiliknya. Sebagaimana peradaban-peradaban besar yang pernah menjadi pioneer urusan dunia berikut: dari Romawi ke Vatikan, Genggis Khan, Turki Ustmani dan Kekaisaran Tiongkok, hingga yang terakhir kemudian adalah Inggris. Adapun sejak berakhirnya Perang Dingin hingga kini, Amerika Serikat dianggap memegang kekuatan hegemon dunia.

Setelah perang dunia pertama dan kedua usai, Inggris sebagai kekuatan hegemon saat itu mengalami kehancuran besar-besaran akibat perang sehingga negara tersebut fokus terhadap rekonstruksi. Di saat yang sama, ketika wilayah Eropa mengalami krisis ekonomi berat sekitar tahun 1919-1939,  Amerika Serikat sedang menuju masa keemasan setelah melalui masa politik isolasi dan fokus pembangunan ekonomi dalam negeri. Tahun-tahun tersebut bahkan dianggap sebagai American Century (Abad Amerika) oleh seorang jurnalis AS Henry Luce (Majalah Life, 1941).

Menurut Luce, Amerika Serikat perlu menggantikan Inggris sebagai pemimpin dunia dan mengubah secara keseluruhan sistem dalam hubungan internasional melalui aplikasi global dari “prinsip-prinsip Amerika”. Prinsip-prinsip Amerika yang kita kenal saat ini seperti demokrasi, liberalisme, dan hak asasi manusia sesungguhnya adalah produk dari Abad Amerika ini.

Setelah mengalahkan perang ideologis melawan Uni Soviet, demokrasi-liberal sebagai salah satu prinsip Amerika pun diklaim menghentikan seluruh evolusi pemikiran ideologis manusia dan menjadi bentuk final dari pemerintahan manusia oleh penulis kenamaan AS Francis Fukuyama dalam The End of History and The Last Man. Implikasi klaim ini secara tidak langsung menganggap demokrasi-liberal Amerika menjadi ideologi terakhir yang akan bertahan sebagai last man standing –menghentikan perjalanan sejarah pertarungan ideologis yang penuh dinamika dan intrik.

Emerging Power

Meski AS hingga kini masih dinarasikan sebagai kekuatan hegemon dunia namun tidak menutup kemungkinan, sebagaimana mantan-mantan kekuatan hegemon sebelumnya, negara tersebut mengalami kemunduran sehingga dapat diambil alih status hegemonnya oleh negara lain. Termasuk oleh China yang saat ini digadang-gadang sebagai emerging power.

Belum lama ini pun terdapat narasi baru dimana Abad Amerika dipertanyakan. Joseph Nye menuliskan dalam bukunya Is The American Century Over? (2015). Dalam buku tersebut Nye mengutip survei yang dilakukan Pew Research Center pada tahun 2014, yang mana dari seluruh responden disimpulkan hanya 3 (28%) dari 10 orang yang berkata Amerika menempati posisi di atas semua negara lain, sedangkan 58% berpendapat bahwa Amerika hanyalah salah satu dari negara besar seperti beberapa negara lainnya, sisanya 12% berfikir bahwa terdapat negara yang lebih baik daripada Amerika Serikat (Tyson, 2014).

Banyak yang berpendapat bahwa posisi China saat ini akan menggantikan kepemimpinan Amerika. Dengan mesin ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan rata-rata sekitar 10% per tahun sejak 2008, China diprediksi mampu menyaingi Amerika. Momentum ini juga menguntungkan China ketika Amerika mengalami kemunduran karena krisis ekonomi pada tahun 2009.

Namun demikiran Nye menolak jika Abad Amerika, dan barangkali status kekuatan hegemonnya, berakhir. Alasannya menyangkut 3 dimensi kekuatan, yaitu ekonomi, militer, dan soft power, China yang masih dianggap di bawah Amerika.

Ekonomi China, terutama dalam bidang perdagangan global, memang meningkat pesat dan lebih besar daripada AS, namun menurut Nye keuntungan China dari perdagangan tersebut tidak sebanyak itu karena value added dari barang yang diperdagangkan sedikit akibat bahan produksinya yang melibatkan banyak impor. Selanjutnya, militer China saat ini oleh Nye dianggap masih seperempat kekuatannya dibanding militer AS.  Adapun soft power yang kurang dapat menuai kekhawatiran dari negara-negara lain bahwa kekuatan emerging China saat ini dianggap mengancam.

Dalam realitanya, meskipun China belum menyandang gelar kekuatan hegemon karena ada kekuatan hegemon lain di atasnya yaitu Amerika Serikat, China semakin ke sini kian memiliki pengaruh yang besar dalam politik internasional. Keterlibatannya yang cukup berani untuk membangun pangkalan militer di Laut China Selatan dan menghiraukan tentangan AS menjadi satu fakta bahwa China bukan negara dengan kekuatan biasa. Amerika Serikat juga tidak serta-merta bisa menghentikan kehendak China tersebut.

Jika Amerika Serikat di masa depan semakin mengalami kemunduran pada elemen-elemen kekuatan nasional seperti militer dan ekonomi; atau pada skenario berikutnya elemen kekuatan nasional AS dalam kondisi statis sedangkan kekuatan China meningkat melampau AS, maka kita tak dapat membendung adanya kekuatan hegemon baru. Kemungkinan ini dapat terjadi dan waktu yang akan membuktikannya. Kita saksikan saja bagaimana sejarah berlangsung.

***

Foto: Parade militer tentara angkatan udara China. (Kementerian Pertahanan China via defensenews.com)

250 Views
Write your answer View all answers to this question