selasar-loader

Apakah imam dalam ajaran Syiah sama kedudukannya dengan khalifah?

LINE it!
Answered May 04, 2017

Nauval El-Hessan
Quranic disciple

kcBuS5ea-ojDVugbm-K2ea0I_7HFN4hx.jpg

Dalam ajaran Syiah, kedudukan imam lebih tinggi daripada khalifah karena imam penunjukannya didasarkan pada Qur'an dan Sunnah. Ali Asgar Nusrati, salah seorang cendekiawan Syiah menyebutkan bahwa legitimasi imam tidak membutuhkan baiat dari umat, sedangkan khalifah membutuhkan baiat umat. Tentu saja pembaiatan khalifah oleh umat bukan hanya dibenarkan oleh ulama Syiah seperti Murtadha Mutahhari dan Muhammad Baqir Ash-Shadr, melainkan juga oleh ulama Sunni sekaligus pendiri Hizbut Tahrir, Taqiuddin an-Nabhani.

Ketika saya menyebutkan imam dalam konotasi Syiah, maka itu berbeda dengan konotasi Sunni dan aliran lainnya. Imam dalam konotasi Syiah adalah mereka yang berasal dari keturunan Nabi Muhammad, dari jalur Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Lebih khusus lagi, dari jalur Imam Husain (Asy-Syuhada) bin 'Ali bin Abu Thalib. Memang, bila kita melihat Syiah sendiri terdapat banyak perbedaan. Misalkan Syiah Kaisaniyah berpendapat bahwa imamah berhenti pada Muhammad Al-Hanafiyah. Muhammad Al-Hanafiyah merupakan anak dari Imam 'Ali (Amirul Mu'minin) bin Abu Thalib, namun dari jalur istrinya setelah Sayyidah Fathimah wafat, yaitu dari rahim Khawlah binti Ja'far.

Namun, itu bukan permasalahan pokok. Hal yang paling pokok adalah ketika saya menyebut imam dalam konotasi Syiah, maka selain berasal dari garis keturunan Nabi Muhammad, juga mereka diasumsikan maksum (suci dari dosa dan kesalahan). Tentu saja, meskipun saya Syiah, saya tidak setuju dengan ide kemaksuman ini. Akan tetapi, bukan saatnya saya menawarkan ide saya. Hal yang saya ingin tunjukkan adalah bahwa Syiah mengasumsikan para imam itu sama seperti para nabi, yaitu maksum, walaupun kadar kemaksumannya berbeda.

Para khalifah, berada di bawah imam karena khalifah tidak ditunjuk langsung oleh Allah dan Nabi-Nya, juga tidak mencapai derajat kemaksuman. Tentu saja ini didasarkan oleh Syiah pada Qur'an dan Sunnah. Ayat pamungkas yang menjadi dalil Syiah adalah surah Al-Ahzab (33): 33. Sunnah yang menjadi dalil pamungkas Syiah adalah tentang Hadits Ghadir Khum dan Hadits Ahlul Kisa. Kedua hadits tersebut tidak hanya diriwayatkan oleh ulama Syiah seperti Al-Kulaini, Al-Harrani dan Syekh Shaduq, melainkan juga diriwayatkan oleh ulama Sunni sekaliber Bukhari dan Muslim al-Hajjaj. Selain Ghadir Khum dan Ahlul Kisa, terdapat pula hadits yang menjadi dalil pamungkas Syiah, yaitu Hadits Tsaqalain yang kurang lebih berbicara tentang dua pusaka yang harus dipegang oleh umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad, yaitu: Qur'an dan itrah (garis keturunan Nabi atau biasa disebut dengan Ahlul Bait).

Singkatnya, imam dalam konotasi Syiah adalah lebih tinggi daripada khalifah karena imam ditunjuk langsung oleh Allah dan Nabi-Nya. Oleh karena ditunjuk langsung, maka juga terdapat ciri-ciri yang membedakan dengan khalifah. Salah satu ciri tersebut adalah kemaksuman para imam. Murtadha Mutahhari menyebutkan bahwa sangat tidak logis bila imam yang maksum ditunjuk oleh umat Islam; yang paling mengetahui siapa yang maksum adalah Allah karena hanya Allah yang memiliki hak dalam memaksumkan seseorang.

Satu hal yang perlu saya ingatkan: imam belum tentu khalifah dan khalifah belum tentu imam (menurut Syiah). Mengapa? Hal itu dikarenakan legitimasi. Imam belum tentu khalifah karena status khalifah membutuhkan baiat atau legitimasi dari umat. Khalifah belum tentu imam karena imam membutuhkan legitimasi dari Qur'an dan Sunnah (Allah dan Nabi Muhammad).

Ini bukan berarti bahwa pemimpin Iran saat ini adalah imam. Pemimpin Iran saat ini, Ali Khamenei, disebut sebagai khalifah atau dalam istilah Syiah adalah na'ib. Imam, khususnya menurut Syiah Imamiyah, telah berhenti hingga imam ke-12, dan imam ke-12, Imam Muhammad (Al-Mahdi) bin Hasan (Al-Askari) sedang berada di masa keghaiban. InsyaAllah, penjelasan tentang na'ib secara terperinci akan saya suguhkan di jurnal. Akan tetapi, di jawaban ini saya akan menjelaskan sedikit tentang na'ib.

Na'ib sama dengan khalifah. Bedanya, na'ib pernah ditunjuk langsung oleh Imam Muhammad al-Mahdi sebelum masa keghaiban-nya, sedangkan khalifah ditunjuk langsung oleh umat Islam. Singkatnya, terdapat perubahan dalam penunjukkan na'ib. Na'ib saat ini ditunjuk sesuai dengan Qur'an, hadits Nabi dan perkataan para imam; maksudnya, na'ib ditunjuk oleh umat Islam secara langsung namun dengan memperhatikan ciri-ciri yang terdapat dalam Nas (Qur'an dan Sunnah), sedangkan na'ib dahulu ditunjuk langsung oleh para imam.

sumber gambar: http://ya7oo.com

465 Views
Masamune Priambodo

Yang saya tangkap, Imamah (bolehkah disebut demikian?) telah berhenti pada Imam ke-12 yakni Muhammad al Mahdi. Lalu apa yang dimaksud ketika disebutkan ia mencapai masa kegaiban? Apakah layakna Isa As yang diangkat ke surga?  May 4, 2017

Nauval El-Hessan

Bisa dikatakan seperti Isa. Akan tetapi, dalam literatur Syiah, khususnya Syiah Imamiyah, tidak dikatakan bahwa Imam Muhammad Al-Mahdi diangkat ke surga. Hanya saja, keberadaan sang imam dighaibkan oleh Allah.

Saya tahu, akan muncul pertanyaan "Lantas, di mana Imam Mahdi bila tidak di surga?". Orang Syiah akan menjawab "Hanya Allah yang mengetahuinya". Itu berdasar pada prinsip mereka sendiri yang menyatakan bahwa tidak mungkin Allah meninggalkan bumi dalam keadaan tanpa imam di setiap zamannya. Bila Imam Mahdi berada di surga, seharusnya sudah terjadi kiamat. Akan tetapi, belum kiamat, dengan demikian, Imam Mahdi masih di dunia ini atau di alam fana ini, namun keberadaannya hanya diketahui oleh Allah.

Tentu saja tekait dengan keghaiban Isa masih perlu dipertanyakan. Seharusnya, bila Isa sudah di surga, maka tugasnya sebagai nabi dan rasul sudah selesai. Akan tetapi kelak dia akan menjadi teman Imam Mahdi dalam menegakkan keadilan, itu berarti Isa belum berada di surga. "Mitos" Isa berada di surga saya rasa muncul karena Islam mengikuti riwayat-riwayat Israiliyat. Kita juga mengetahui bahwa dalam Injil saat ini, dikatakan bahwa Yesus (Isa) telah diangkat ke Surga oleh Allah Bapa dan kemudian pada saat Akhir Zaman, akan dikembalikan ke bumi untuk menghakimi orang-orang kafir.

Dalam Qur'an tidak ditemukan perkataan Isa diangkat ke surga oleh Allah. Oleh karena itu, riwayat yang menyatakan Isa diangkat di surga butuh dipertanyakan. Bahkan, M. Quraish Shihab sendiri mempertanyakan tentang hadits yang meriwayatkan kembalinya Isa ke bumi menjelang Hari Kiamat untuk menumpas Dajjal.

Tentu saja pendapat itu didasarkan pada surah An-Nisa (4): 157-8. Dalam kedua ayat di surah An-Nisa tersebut, tidak ada pernyataan bahwa Allah telah mengangkat Isa ke surga. Hanya pernyataan umum bahwa Isa telah diangkat ke hadapan Allah. Seperti yang kita ketahui, dalam doktrin Islam, setiap yang mati akan diangkat terlebih dahulu ke hadapan Allah, lalu kemudian di kembalikan ke alam kubur. Dengan demikian, "mengangkat" Isa bukan berarti Isa berada di surga saat ini.

Apalagi yang kita tahu, surga dan neraka akan kita dapatkan setelah Hari Kiamat, sedangkan saat ini, belum kiamat. Dengan demikian, Isa dalam keadaan digaibkan oleh Allah, bukan diangkat ke surga oleh Allah. Sama seperti Imam Mahdi dalam doktrin Syiah Imamiyah.
  May 4, 2017

Masamune Priambodo

Menarik. Yang saya tangkap, imamĀ   May 4, 2017

Masamune Priambodo

Maaf, situs Selasar banyak kekurangan sehingga komentar saya terpotong tanpa alasan.  May 4, 2017

Write your answer View all answers to this question