selasar-loader

Mana yang lebih baik; rumput lapangan sepak bola alami atau sintetis?

LINE it!
Answered Mar 06, 2018

Secara pengertian, sepak bola adalah cabang olahraga yang menggunakan bola berbahan kulit dan dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 11 (sebelas) orang pemain inti dan beberapa pemain cadangan di lapangan. Lapangan sepak bola dapat menggunakan rumput alami maupun sintetis. Namun, mana yang lebih baik?


Selasar Informasi
Akun Selasar untuk Berbagi Informasi

Di Eropa Barat, lapangan-lapangan sepak bola sudah banyak menggunakan rumput sintetis. Bahkan, penggunaan rumput sintetis juga diaplikasikan pada lapangan latihan mereka. Meskipun demikian, bukan berarti semua klub sepak bola menggunakan rumput jenis ini. Ada juga yang lebih memilih untuk menggunakan rumput alami.

Apa saja sebenarnya yang membedakan antara rumput alami dan rumput sintetis? Apa kelebihan dan kekurangan keduanya? Mana yang lebih baik?

Kelebihan dan Kekurangan Rumput Alami

Rumput alami memiliki sejumlah kelebihan. Kelebihan utama penggunaan rumput alami adalah fungsinya untuk menjaga suhu lapangan relatif sejuk. Bagi negara beriklim tropis seperti Indonesia, suhu panas menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Penggunaan rumput alami dianggap mampu meminimalisasi suhu tersebut, minimal tidak mengeluarkan panas tambahan yang membuat suhu lapangan menjadi lebih panas.

Penggunaan rumput alami juga lebih baik dalam hal cedera yang diakibatkan oleh gesekan antara kulit pemain dan lapangan. Bagian atas rumput yang sebenarnya adalah daun memiliki tekstur yang tidak keras dan bisa patah sehingga “mengalah” apabila mengalami kontak dengan kulit pemain. Dengan demikian, permainan yang lebih keras memiliki risiko cedera relatif lebih kecil bila menggunakan rumput alami, terutama cedera ACL (anterior cruciatum ligament).

Selain itu, biaya pemasangan rumput alami lebih murah daripada rumput sintetis. Namun, tingkat kemurahannya bergantung pada jenis rumput yang diinginkan. Ada tiga jenis rumput yang cocok untuk dipakai untuk lapangan sepak bola. Ketiga jenis rumput tersebut adalah:

  • Zoysia matrella (ZM),
  • Cynodon dactylon (CD), dan
  • Axonopus compressus (AC).

Harga rumput Zoysia matrella (ZM) di pasaran saat ini berada pada kisaran Rp80 ribu per meter persegi. Rumput Cynodon dactylon (CD) dibanderol Rp60 ribu per meter. Sementara itu, jenis terakhir dihargai Rp35 ribu per meter.

Zoysia matrella sendiri tak sulit perawatannya. Menurut Komisaris PT Dins Bangkit Mandiri yang bergerak di bidang konsultasi fasilitas olahraga, Dedhi Nurahman, hal yang terpenting dalam perawatan rumput yang dijuluki rumput manila ini adalah bahwa dalam satu bulan, misalnya, rumput disiram sehari sekali. Kemudian, rumput diberi pupuk, dipangkas dua pekan sekali, dan sebaiknya dipakai untuk pertandingan saja.

“Kalau dipakai untuk latihan dan pertandingan pun sebenarnya masih bisa, asal ada jedanya. Itu untuk proses perawatan. Dalam sepekan lapangan, harus diistirahatkan minimal tiga hari,” jelas Dedhi.

Zoysia yang memakai media tanam pasir juga membuat tekstur lapangan lebih empuk. Permukaan yang keras, menurut Dedhi, justru ditemui pada lapangan yang menggunakan media tanam tanah. “Kalau media tanamnya pasir, tidak! Apalagi kalau tanaman itu, pengakarannya sesuai media tanam yang disebar,” ujarnya. “Zoysia punya pengakaran tebal. Kalau media tanam 20 cm, pengakarannya 20 cm juga, kalau semeter, pengakaran semeter juga.”

Kelebihan dan Kekurangan Rumput Sintetis

Rumput sintetis dibuat dari bahan polyethylene (polietilena), bahan yang sama dengan scrub pembersih muka. Bahan sintetik berbentuk butiran diolah hingga menjadi gulungan benang, lalu dijahit sedemikian rupa untuk menjadi rumput sintetis.

Aldrey Hansyah, direksi salah satu penyedia rumput sintetis, menyatakan bahwa lapangan rumput sintetis bisa mengakomodasi kebutuhan pemain dan tim yang ingin menggunakannya tanpa terkendala faktor cuaca dan iklim. Ini sangat penting terutama bagi lapangan sepak bola di Eropa yang kebanyakan merupakan dihuni oleh negeri empat musim.

“Rumput sintetis sebenarnya diciptakan untuk sepakbola,” ujar Aldrey di Jakarta pada Kamis, 24 Maret 2016, dikutip dari Okezone.

Ada banyak kelebihan yang ditawarkan oleh rumput sintetis. Yang paling mudah terlihat adalah konsistensi warna yang dihasilkan. Ini sebabnya lapangan sepak bola yang menggunakan rumput sintetis tampak enak dilihat. Baik warna maupun tebal permukaannya konsisten.

y0R3ak5CYD91afOXUguTqou1YT5HSAgm.jpg

Lapangan rumput sintetis bisa dibangun di berbagai tempat, asal ada lahan yang mulus dan aman dari genangan air. Karena tidak bergantung pada tanah, permukaan lapangan yang ditutupi rumput sintetis pun relatif lebih rata, tidak bolong atau cekung di bagian tertentu karena perpindahan butiran tanah atau tekanan yang terlalu kuat dari permukaannya.

Selain itu, rumput sintetis juga lebih mudah dalam perawatan. Pastikan saja lapangan yang terbuat dari rumput sintetis tidak tergenang air sehingga daya tahannya tetap terawat. Para pemain bola tidak perlu mengkhawatirkan dampak pestisida yang digunakan untuk perawatan rumput alami.

Jika perawatan lebih mudah, maka biaya operasional dalam merawat lapangan bisa ditekan. Pengelola lapangan tidak membutuhkan biaya lebih untuk mengganti rumput yang rusak sebagaimana jika menggunakan rumput alami, terutama rumput gajah. (Baca: Serba-serbi Lapangan Sepak Bola)

Lantas, apa kekurangan dari penggunaan rumput sintetis dalam lapangan sepak bola?

Kekurangan pertama dari penggunaan rumput sintetis adalah pantulan bola. Rumput sintetis memberikan pantulan bola yang berbeda dengan rumput alami. Hasil penelitian menunjukan bahwa rumput sintetis memiliki koefisien restitusi hingga 20% lebih tinggi ketimbang rumput alami, dikutip dari ESPN Sports Science.

Apa itu koefisien restitusi? Koefisien restitusi adalah perbandingan antara kecepatan sebuah benda setelah mengalami benturan dan sebelum mengalami benturan.

Koefisien restitusi yang tinggi pada rumput sintetis menyebabkan laju bola setelah memantul di rumput sintetis akan lebih cepat alih-alih pada permukaan rumput alami. Dengan demikian, bola akan bergulir lebih kencang selama pertandingan dan pemain perlu lebih lihai dalam mengontrol bola di rumput sintetis.

Selain kontrol terhadap bola, akurasi tendangan pemain menjadi poin selanjutnya yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perbedaan koefisien restitusi ini. Saat seorang pemain melepaskan operan atau tendangan ke gawang yang memantul di tanah, gaya gesek yang minim di lapangan bisa membuat laju bola dapat melenceng lebih jauh dari sasaran.

Kekurangan lain yang ditimbulkan dari penggunaan rumput sintetis adalah peningkatan suhu lapangan. Hal ini mungkin tidak terlalu berlaku di Eropa Barat, namun berbeda ceritanya bila rumput sintetis dipergunakan di negara yang dilintasi garis khatulistiwa maupun negara-negara gurun.

Saat digunakan pada cuaca panas, rumput sintetis akan membuat suhu lapangan menjadi lebih tinggi dari suhu udara sekitar. Menurut hasil penelitian, saat cuacat panas, suhu di sekitar lapangan rumput sintetis bisa meningkat hingga 12 derajat celcius dari suhu sekitarnya. Artinya, jika kita bermain sepak bola pada siang hari di Jakarta yang bisa mencapai 30 derajat celcius, penggunaan rumput sintetis bisa membuat suhu lapangan saat kita bermain menjadi 42 derajat celcius. Dehidrasi pemain bisa jadi masalah serius.

Selain masalah dehidrasi, permasalahan lain yang ditimbulkan oleh suhu panas adalah waktu reaksi. Menurut hasil penelitian, waktu reaksi pemain saat bermain di suhu panas akan dapat berkurang hingga 30%. Masalah ini tentu bisa merembet pada kualitas pertandingan bola itu sendiri. Namun sekali lagi, kekurangan ini mungkin tidak banyak ditemukan di Eropa.

Kekurangan rumput sintetis yang mungkin tidak mengenal lokasi geografis adalah ancaman cedera pemain. Rumput sintetis dianggap sebagai salah satu biang keladi atas beberapa cedera yang dialami.

Cedera yang paling sering terjadi di rumput sintetis adalah luka luar pada kulit. Pasalnya, gesekan yang terjadi antara kulit dan rumput sintetis membuat kulit lebih mudah terluka alih-alih saat bergesekan dengan rumput alami. Menurut hasil penelitian, luka luar pada kulit saat bermain di rumput sintetis adalah tiga kali lebih banyak ketimbang saat bermain di rumput alami.

Selain itu, penelitian lain juga ditunjukan bahwa ancaman cedera ACL (anterior cruciatum ligament) juga meningkat saat bermain di rumput sintetis. Peningkatannya dapat mencapai persentase hingga 45%.

Namun, bukan berarti penggunaan rumput sintesis membuat cedera pemain secara umum akan meningkat. Terdapat pula penelitian yang justru menunjukan bahwa bermain di rumput sintetis justru menurunkan kemungkinan cedera secara umum bagi pemain sepakbola. Hanya saja, beberapa cedera khusus seperti ACL mengalami peningkatan.

Penelitian soal baik-buruknya penggunaan rumput sintetis memang masih akan terus berkembang. Tidak bisa dipungkiri, rumput sintetis memiliki sejumlah kelebihan dibanding rumput alami. Namun, berbagai kekurangannya juga menjadi pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan. Kelak, sisi negatif dari rumput sintetis bisa diminimalisasi, bahkan dihilangkan.

Baca juga:

Apakah Gennaro Gattuso cocok menjadi pelatih AC Milan?

Apakah sebaiknya FC Barcelona keluar dari La Liga pascareferendum Catalonia?

Serba-serbi Lapangan Sepak Bola

Apa perbedaan karakter antara formasi 4-3-3 dan formasi 4-4-2?

341 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored