selasar-loader

Cerita anak seperti apa yang paling berkesan bagi Anda?

LINE it!
Answered Mar 05, 2018

Cerita anak memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian, baik sebagai dongeng sebelum tidur, cerita rakyat, maupun cerpen yang biasa dibaca di majalah anak-anak. Bisa ceritakan judul cerita yang paling berkesan bagi Anda? 


Zulfian Prasetyo
Penulis dan Editor

Cerita anak durhaka! Hahahaha.

Entah kenapa, cerita anak durhaka ini cukup berkesan bagi saya. Mungkin karena sering dijadikan senjata andalan orang tua kalau kenakalan saya sedang kumat.

Kalau bicara cerita anak durhaka, Malin Kundang adalah judul cerita rakyat yang saya ingat. Mohon maaf kalau ada bagian yang kurang pas.

Suatu hari, ada sebuah keluarga yang tinggal di pesisir pantai Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak. Namanya adalah Malin Kundang. Kondisi keluarga yang sangat memprihatinkan membuat ayah Malin memutuskan untuk merantau ke nagari seberang. Malin dan ibunya berharap sang ayah pulang dari perantauan dengan membawa harta melimpah.

Waktu terus berjalan. Perantau yang ditunggu-tunggu tidak juga pulang. Saya sendiri belum dapat memastikan apakah nama ayah Malin adalah Thoyib atau bukan. Setelah berbulan-bulan berharap pada sang ayah yang tidak kunjung datang, pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.

Malin Kundang kini telah tumbuh menjadi pemuda dewasa. Ia berpikir untuk merantau demi mencari nafkah di nagari seberang. Malin berharap bahwa kelak, ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya, Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nakhoda kapal di kampung halamannya yang sudah sukses.

Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman selama mereka berlayar. Ia belajar dengan tekun mengenai dunia pelayaran pada teman-temannya yang lebih berpengalaman. Ini membuat dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya (yah, namanya juga berlayar). Namun pada suatu hari, perjalanan mereka terganggu, dihadang oleh segerombolan bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut yang tentunya bukan Monkey D Luffy.

Oke, ada kemungkinan, tapi kecil sekali. Maaf, maaf. Saya salah fokus.

Singkat cerita, sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh kawanan bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak termasuk golongan yang dibunuh. Kabarnya, saat peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang pun terkatung-katung di tengah laut hingga kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai (yang saya bingung, kenapa bajak laut tidak mengambil atau sekalian menenggelamkan kapal, ya? Eh, tapi ini kan bukan Bu Susi).

Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Begitu sampai di sana, Malin ditolong oleh masyarakat setempat. Kepada masyarakat, Malin menceritakan kejadian yang menimpanya.

Beruntungnya Malin. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur (analisa saya, di desa ini ada semacam gunung berapi sehingga tanahnya pun subur. Itu sebabnya meskipun di pinggir pantai, desa ini tetap subur).

Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lantas berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang (tentu usahanya bukan startup karena struktur startup itu harus lean).

Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Kemungkinan istrinya cantik. Dengan istri baru, Malin berlayar pulang ke kampung halamannya.

Begitu landing di kampung halaman, ibu Malin (yang sampai sekarang saya tidak tahu siapa namanya) datang menghampiri, menyambut sang anak yang dinanti-nanti.

Malin Kundang tidak mengakui bahwa sang ibu yang kini menua adalah ibu kandungnya. Ia (menurut cerita) merasa malu kepada istrinya (dan mungkin anak buahnya yang bukan anak startup itu) karena penampilan ibunya yang (kalau tidak salah) tampak lusuh dan tidak glamor sebagaimana ibu-ibu anggota Girl Squad.

Sang Ibu terus memanggil, meyakinkan Malin. Namun, Malin sang OKB (Orang Kaya Baru) ini tetap tidak mengakui wanita yang ada di hadapannya sebagai ibunya.

…dan di sinilah peristiwa drama itu dimulai. Drama yang kemudian menjadi andalan bagi ibu-ibu jika perintahnya tidak dituruti oleh anaknya.

“Malin! Kalau kau tidak mau mengakui ibumu, baca 5 peristiwa mengerikan paling berdarah berikut ini!”

Oke,
itu terlalu click bait.

“Malin Kundang! Karena kau tidak mau mengakuiku sebagai ibu kandungmu, kukutuk kau jadi batu!”

Terlambat bagi Malin untuk meminta maaf. Nasi telah menjadi bubur. Malin telah menjadi batu (boleh juga ini jadi peribahasa). Istri yang (anggap saja) cantik dan anak buah yang bukan startup itu menjadi tiada artinya sekarang.

Demikianlah cerita Malin Kundang yang turut mempopulerkan keyword “durhaka” sebelum kata “keyword” itu sendiri menjadi umum di telinga kita.

Mari simak cerita anak selanjutnya yang bagi saya juga berkesan.

***

Kali ini, cerita yang hendak saya beritahukan bukan lagi cerita rakyat, melainkan cerita dongeng. Cerita anak kedua yang tak kalah berkesan adalah kisah Kancil dan Buaya.

PBPWFpbusOrDFYucMrcmKgkyNBE1x_Tr.jpgGambar saya ambil dari konten Selasar yang ini.

Cerita ini saya ketahui saat VCD sedang jaya-jayanya. Saya menontonnya dari kepingan VCD bajakan yang dijual abang-abang lewat depan rumah. Harap jangan protes. Saya waktu itu belum benar-benar bisa membedakan mana asli mana bajakan. Yang jelas, VCD Petualangan Sherina yang saya beli asli. Ada tulisannya.

Pada suatu hari, Si Kancil berjalan-jalan di hutan. Di tengah perjalanan, ada sungai yang membentang. Luas dan kedalamannya membuat Si Kancil tidak mampu melintasinya dengan sekali lompatan. Yah, namanya juga sungai. Kalau bisa sekali lompat, comberan dong?

Selain lebar, sungai itu juga penuh dengan buaya. Tidak jelas apa yang membuat para buaya senang ngumpul di sungai itu. Mungkin tempatnya cozy, banyak kafenya. Entahlah.

Kancil pun berpikir keras. Voila! Ia mendapatkan ide yang cemerlang.

"Hai, Buaya-buaya!" teriak Kancil dengan lantang. "Aku punya makanan untuk kalian!"

Para buaya menoleh. Salah satu di antaranya bersikap sok asyik (memakai kulit bermerk Prada), berenang ke pinggir sungai mendekati Kancil. "Hmm, kamu benar. Kamulah makanan kami!" katanya.

"Eit, tunggu dulu," kata Kancil. "Aku punya makanan yang sangat banyak, bahkan masih terlalu banyak untuk kalian semua," lanjutnya. "Coba panggil teman-teman kalian yang lainnya, akan aku tunjukkan makanan itu," kata Kancil.

Harap dicatat sebelumnya bahwa Si Kancil tidak pernah terlibat dalam suatu MLM. Dia tidak pernah menjadi upline yang sukses merekrut ribuan downline. Tidak pernah.

Terbujuk oleh rayuan kancil, buaya sok asyik tadi lalu memanggil teman-temannya. Semua buaya itu kini berkumpul di tepian sungai tempat Kancil berpijak. Karena belum pernah menjadi anggota Paskibra, apalagi mendapatkan pelatihan Bela Negara, mereka berkumpul dengan tidak rapi.

Kancil meminta mereka berbaris dari tepian sungai tempatnya berpijak ke tepian seberang. Termotivasi oleh rayuan kancil akan makanan yang banyak (meskipun tidak mendapatkan kapal pesiar), buaya pun patuh berbaris membentuk jembatan di sungai.

"Oke, sekarang aku harus menghitung jumlah kalian dulu supaya semuanya kebagian!" kata Kancil.

Sampai di titik ini, para buaya kebanyakan mecin harusnya curiga. Di awal, kancil bilang bahwa makanan itu terlalu banyak buat mereka. Kalau memang sebanyak itu makanan yang dimiliki, kenapa buaya-buaya perlu dihitung? Saya sebenarnya tidak yakin di hutan ada mecin.

Singkat cerita, Kancil pun lalu melompat dari punggung seekor buaya ke punggung buaya yang lainnya. Ia melompat sambil menghitung. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam," dan seterusnya, sampai tiba dengan selamat di seberang sungai.

Setelah itu, Kancil pun berteriak, "Terima kasih, Buaya-buaya! Kalian sudah membantu aku menyeberangi sungai!"

Beberapa buaya marah karena merasa dibohongi. Seekor buaya yang marah tampak melampiaskan kemarahannya melalui fitur Top Stories di Instagram. Buaya yang lain mencoba mengejar kancil. Namun, pengejaran mereka gagal karena Kancil sangat lincah dan cepat, apalagi setelah dijadikan moda transportasi umum ramah lingkungan pengganti bajaj.

Sementara itu, golongan yang tidak marah kembali ke tempat ngumpul yang cozy sembari mencicipi kopi single origin baru. Beberapa terlibat perdebatan antara metode brewing yang lebih maknyus, apakah cold brew atau dutch brew. Sisanya menyeruput sambil membicarakan potensi kancil menjadi raja hutan selanjutnya. Seekor buaya mendeklarasikan tekadnya untuk menjadi karakter superhero Marvel, bosan karena hanya menjadi pelengkap fabel Si Kancil dan pohon-pohon di hutan. Buaya lain menanggapinya dengan menyarankan untuk mendirikan startup sendiri yang bertemakan dongeng anak Indonesia, tujuan yang jelas lebih luhur daripada mengalahkan musuh dalam Mobile Legends.

Demikianlah cerita anak yang berkesan dalam ingatan saya yang terkadang khilaf ini. Namanya juga manusia. Yang jelas, kedua cerita anak ini berkesan bagi saya. Semoga Anda tidak merasa terhibur.

Kurang lebihnya saya mohon maaf. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Muah!

297 Views
Write your answer View all answers to this question