selasar-loader

Pada saat sedang tidur, mimpi seperti apa yang paling berkesan bagi Anda?

LINE it!
Answered Dec 17, 2016

Ma Isa Lombu
Rapid Reader

WCAln5pRgBHIBnEL7vUPny58MQ0G_thG.jpg

Saya ingin sedikit cerita tentang mimpi basah yang saya alami beberapa waktu lalu..

***

Jakarta memang sudah berubah, khususnya di penghujung tahun ini, 2017.

Sebagai seorang lulusan dari John F. Kennedy School of Government - Harvard University dan Economics Department dari MIT, kini saya dapat dikatakan memiliki kepasitas intelektual yang cukup mumpuni. Dengan embel-embel Ph.D, saya diakui dan tentunya memiliki kesempatan yang sangat besar untuk dapat berkontribusi aktif dalam rangka mengembangkan negara yang saya cintai, Indonesia. 

Menjadi seorang intelektual merupakan impian saya sejak dulu. Saya memiliki definisi atas kebahagiaan saya sendiri, termasuk bagaimana cara menjalani dan memaknai hidup. Saya kini bahagia. Benar-benar bahagia. Di usia ke-30 tahun, saya mungkin merupakan pria yang paling bahagia di seluruh dunia. Hidup berkecukupan, dapat mengaktualisasikan diri dalam khasanah keilmuan dan juga memiliki keluarga yang harmonis adalah 3 pilar kebahagiaan yang telah saya dapatkan saat ini.

Di antara ketiga hal tersebut, ada hal yang makin membuat hidup ini terasa lengkap, yakni cita-cita saya untuk dapat memiliki istri seorang dokter. Istri saya, Raisa Andriana, adalah seorang dokter kandungan yang merangkap sebagai seorang dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Ia kini bukanlah seorang penyanyi papan atas seperti yang kita kenal dulu. Ya, Raisa yang itu. Raisa yang katanya masuk dalam tiga godaan terbesar kaum lelaki : Harta, Tahta, dan Raisa.

Sejak memutuskan untuk meninggalkan gemerlapnya dunia keartisan Indonesia, ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Johns Hopkins Medical School untuk mengambil major obstetrics and gynecology disana. Perkenalan singkat kami di Islamic Youth Meeting di Maryland tahun 2014, kemudian berlanjut kearah yang lebih serius, pernikahan. Tidak lama setelah itu, kami pun tinggal bersama di Boston terkait dengan masa studi saya yang masih belum selesai selama beberapa tahun kedepan.

Hari ini merupakan hari ketiga saya di Indonesia. Masih dalam keadaan jet lag, neuron panjang yang membingkai otak besar ini sudah dituntut untuk melaksanakan berbagai macam kegiatan dan seminar akademik sebagai konsekuensi logis seorang intelektual yang baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Sebagai seorang dosen muda, saya sudah dipercaya sebagai salah seorang pemateri dalam rangkaian seminar ekonomi internasional yang bertajuk, “Global Economic Outlook 2018” di Fakultas Ekonomi UI. Tidak hanya itu, seusai seminar dilaksanakan, saya kemudian langsung didaulat untuk menjadi salah seorang pembicara dalam sebuah diskusi ilmiah bulanan di tempat yang sama. 

qrlzFWbj3zaVnPSSdbq2mDq54cmlhxEo.jpg

Perlu diketahui, bahwa kini Universitas Indonesia (UI) sudah benar-benar menjadi World Class University. Berdasarkan World Class University Ranking, Times Higher Education, UI saat ini berada dalam urutan ke-dua dari 500 universitas terbaik di seluruh dunia dibawah Harvard University, Amerika Serikat. Saya yakin kenaikan peringkat UI dalam perhelatan kompetisi akademik tingkat dunia tersebut tidak lepas dari kesuksesan besar penelitian sosial yang bertajuk “Generasi Alay, Sebuah Konstruksi Antropologis Gerakan Massa” yang diinisiasi oleh profesor Marzuki Koentjoroningrat dari FISIP UI.

Dalam risetnya, Prof. Juki, panggilan akrab Prof. Marzuki yang juga merupakan anak dari begawan antopologi Indonesia Prof. Koentjoroningrat, berhasil mengalanisa dan mengidentifikasi fenomena gerakan masa terbesar yang menjangkit seluruh anak muda di dunia dengan beberapa model ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Penelitian ini menjadi menarik dan mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan akademisi tingkat internasional karena penelitian ini merupakan jawaban atas keresahan masyarakat akan gerakan massa yang secara terang-terangan telah mendekonsturksi moral generasi muda saat ini. Bahkan disinyalir, dampak politik atas gerakan ini telah jauh mengalahkan fenomena “generasi bunga” di tahun 1950-an.

Pikiran penat setelah diskusi panjang yang melelahkan hari ini harus segera diatasi. Saya memutuskan untuk menuju Salemba, tempat istri saya bekerja di Fakultas Kedokteran UI (FKUI). Biasanya, hanya dengan senyuman dan sedikit belaian dari Icah, panggilan sayang saya kepada Raisa, setiap peluh dan keluh dapat langsung hilang dari pandangan mata. Begitu kira-kira kata komentator bola di tahun ’90-an. Dengan menggunakan sepeda lipat, saya langsung meluncur ke stasiun UI untuk mengejar keberangkatan monorel di sore hari.

Stasiun UI dan Jakarta Kini

Stasiun UI sekarang sudah jauh berbeda dengan stasiun UI yang kita kenal di tahun 2000-an. Berkat kepemimpinan yang kuat (dan ganas) dari gubernur Jakarta yang merupakan keturunan Zimbabwe tetapi memiliki perawakan layaknya keturunan tionghoa, Atok, Jakarta dan daerah penyokongnya jadi salah satu kota terbaik dan modern di dunia. Ya, benar-benar dapat disejajarkan dengan Berlin, Tokyo, New York, bahkan Paris. Dengan desain yang futuristik , stasiun UI kini merupakan stasiun MRT (Mass Rapid Transit) percontohan terbaik di tingkat Asia. Dengan Multi Purpose Deep Tunnel Modification System (MPDTMS), stasiun UI terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama adalah struktur bangunan yang tampak di permukaan tanah, dan bagian selanjutnya adalah struktur bangunan yang sengaja diletakan di bawah tanah.

Terkait dengan struktur bangunan permukaan tanah, para pengguna jasa trasnportasi dapat menggunakan jasa monorel super cepat yang teknologinya merupakan hasil karya mahasiswa fakultas teknik universitas berkelas dunia yang sedang populer belakangan ini, Universitas Gunaguna.

M2deaZAkFts8eqIK_Yoast1EA3HBIzH_.jpg

Khusus untuk struktur bangunan bawah tanah, desain trowongan yang ada dibagi atas beberapa area fungsi. Area trowongan paling atas difungsikan sebagai jalan tol (road tunnel) untuk kendaraan roda 4 yang menghubungkan beberapa kota besar seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Cikampek dan Bekasi. Dibawah area jalan tol, difungsikan sebagai area subway yang sengaja dibuat untuk mengakomodasi keinginan masyarakat akan sistem transportasi antar daerah yang capat dan nyaman. Bagian terowongan terakhir, yang terletak di bagian paling bawah struktur terowongan, difungsikan sebagai sarana pengaturan air perkotaan. 

Mudahnya sistem pengendalian air perkotaan ini terdiri atas tiga fungsi besar yakni sebagai sistem pengendali banjir, sarana penampung kelebihan air dalam kota dan juga sebagai sarana pengumpul dan penyaluran limbah air perkotaan (domestic wastewater). Kembali saya katakan bahwa pembangunan dan penataan sistem transportasi modern yang kita kenal ini tidak lepas dari kontribusi Gubernur DKI Jakarta Atok, dalam rangka mewujudkan sistem tata kota yang mengedepankan hak hidup layak warga kota yang selama ini hanya dijadikan komoditas politik oleh para calon Gubernur kebanyakan. 

Diharapkan dengan Multi Purpose Deep Tunnel Modification System, Atok, yang juga merupakan alumnus MIT (Massachusetts Institute of Technology) dalam bidang planologi perkotaan, berharap masalah penggusuran warga Betawi dan rakyat miskin akibat pembangunan Kanal Banjir dapat diatasi dengan baik.

Setelah memesan tiket, saya pun menunggu datangnya monorel di peron ke-5 sesuai dengan jadwal keberangkatan yang dijanjikan. Perlu diketahui bahwa di stasiun ini terdapat 7 tingkat peron monorel yang masing-masing tingkatnya diperuntukan untuk satu peron dengan tujuan tertentu, dan peron ke-5 adalah peron khusus jurusan Depok-Jakarta. Monorel datang tepat pada waktunya, tanpa jeda keterlambatan sedetik pun. Dengan menjinjing sepeda lipat, saya pun memasuki monorel yang sebentar lagi akan melaju dengan cepat menuju Salemba. 

Suasana yang tenang, welcome drink dan juga sapaan ramah dari kondektur monorel membuat saya semakin kerasan menjadi warga negara Republik Indonesia. Banyak sekali perubahan yang terjadi semenjak saya meninggalkan negeri ini untuk melanjutkan studi di Amerika. Menurut pemaparan beberapa teman, titik tolak perubahan negara ini terjadi di tahun 2015, tidak lama setelah kasus KPK Versus POLRI terjadi. Layaknya Butterfly Effect, kondisi carut marut yang melibatkan banyak elit pemerintahan ini menuju ke satu arah, yakni ketidakpercayaan kepada pemerintah.

MPR kemudian mengambil inisiatif untuk mengambil alih pemerintahan dengan menggunakan hak impeach atas presiden. Melalui mosi tidak percaya, presiden yang juga merupakan fan boy dari girl band yang sedang populer JKT48, diturunkan oleh MPR secara tidak hormat karena dianggap tidak mampu lagi dalam menyelesaikan permasalahan bangsa yang makin melarut dan juga dianggap memiliki keterlibatan aktif dalam kasus tersebut. Mengikuti sebutan girl band pujaannya, JKW48, sebutan sang presiden, benar-benar dalam permasalahan serius.

MPR mengadakan pemilihan Presiden dan terpilihlah Mario Teguh sebagai presiden ke-8 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kebinet “Super Dahsyat”, ia menggunakan hak prerogatif-nya dalam memilih dan membentuk kebinet yang ia percayai dapat membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis yang disrasa sudah cukup meresahkan. Presiden yang memiliki ciri khas membuka rapat dengan ucapan "salam super" dan mengakhirinya dengan kata "itu!", memtutuskan 90% komposisi kabinetnya berasal dari kalangan profesional non-partai yang ia percayai sebagai selolongan orang yang bebas kepentingan politik praktis yang dapat bekerja all-out demi kebaikan bangsa ini. 10% sisanya terdiri dari berbagai kalangan, termasuk diantaranya adalah Bang Haji Oma sebagai menteri agama, Farah Quinn yang ditunjuk sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Wanita, Raffi Ahmad sebagai Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Serta tentu Kiswinar, sebagai Menteri Keluarga Madani dan Sejahtera. Sebuah nomenklatur baru yang diharapkan dapat memperkecil rasio KDRT dan penelantaran anak oleh orang tuanya.

Lalu bagaimana dengan JKW48? Setelah kejadian memalukan tersebut, ia kemudian beralih profesi menjadi dosen Kehutanan di Universitasnya dahulu, Universitas Gajah Mundung. 

Mungkin langkah yang akan ditempuh oleh JKW48 sebagai seorang akademisi tidak lepas dari pendahulunya, SBY. Perlu diketahui bahwa setelah menjabat sebagai presiden selama 10 tahun, SBY memutuskan untuk banting stir sebagai dosen lepas di Fakultas Pertanian di IPB sebagai institusi yang memberikannya gelar doktor ilmu pertanian beberapa tahun silam. Bahkan demi menjaga konsistensinya dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia, pak dosen mata kuliah pertanian rakyat ini kemudian mengganti branding-nya menjadi Susilo “Brambang” Yudohono sebagai bukti kecintaannya akan produk pertanian lokal negara kita.

Jakarta dalam Commuter Line

Meskipun perjalanan Depok-Salemba hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit, saya merasa diperlakukan bak Raja di negeri sendiri. Dengan pelayanan yang sangat profesional dari penyedia jasa, baik dari segi kondisi fisik monorel dan juga customer service yang terbilang sangat memuaskan, para pelanggan jasa transportasi ini dipersembahkan suhugan terbaik oleh para penyedia jasa dalam rangka menciptakan kepuasan konsumen yang menjadi inti dari setiap konsep pemasaran modern. Kondisi seperti ini tentu mengingatkan saya akan setiap bentuk mimpi buruk yang selalu menghantui para pengguna kereta commuter jabodetabek di tahun awal tahun 2000-an. 

Dalam rangka mengatasi masalah menahun tersebut, salah satu program 100 hari kabinet “Super Dahsyat” Mario Teguh adalah dengan membubarkan PT. KAI dan menyerahkan pengelolaan sistem transportasi kota kepada pihak swasta. Melalui privatisasi, ia berharap bahwa kompetisi dapat terjadi di Industri tersebut. Dampak langsung dari “kompetisi” adalah terciptanya efisiensi serta perwujudan pronsip good governance dalam setiap bentuk organisasi. Inilah hasilnya. Perbaikan kualitas transportasi kota dapat terjadi, dan masyarakat kota diuntungkan atasnya.

Meskipun perjalanan ditempuh dengan sangat cepat, pemandangan kota Jakarta yang terlukis di setiap jendela besar monorel memperlihatkan perubahan tatanan kota Jakarta dengan sangat menakjubkan. Sebagai contoh, Sungai Ciliwung yang dahulu kita kenal sebagai sungai yang bau dan kotor kini sudah berubah menjadi sarana pariwisata kota bersama kanal banjir timur dan barat yang telah dibangun lebih awal. Dengan daerah aliran sungai yang yang fungsional, bersih, sehat, asri, artistik dan bebas dari perumahan kumuh, Sungai Ciliwung kini lebih menyerupai Sungai Seine, Rhein, Thames di Eropa ataupun Chicago River di AS. Bahkan di beberapa tempat, seperti di kawasan Jatinegara dan Harmoni, terdapat Gondola Station seperti yang sering kita temui di Venesia, Italia. 

Contoh lain yang dapat disebutkan adalah sudah tidak adanya kemacetan di beberapa ruas jalan ibukota. Kebijakan peningkatan pajak kendaraan sebagai bentuk disinsentif atas pemakaian kendaraan bermotor, dan juga perbaikan kualitas transportasi publik (MRT) merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan kemacatan dan kesemrawutan tata kelola lalu-lintas kota yang selama ini meresahkan warga. Para gelandangan dan rakyat miskin pun secara persuasif realokasi ke beberapa tempat yang tersebar di penjuru Indonesia dengan menggalakan kembali program transmigrasi yang sempat “tidak laku” di beberapa kebinet kepresidenan masa lalu. Para calon transmigran terpilih yang sudah lolos seleksi fit and proper test atas keterampilan dan perbaikan moral, kemudian dijadikan “Duta Pembangunan Wilayah” oleh pemerintah DKI Jakarta untuk berperan aktif dalam proses pembangunan daerah tertinggal di Indonesia.

Kampus Perjuangan

Perubahan yang sangat mengesankan saya pikir. Tidak terasa monorel sudah tepat berada di depan Fakultas Kedokteran UI. Saya harus segera turun dalam rangka menunaikan “tugas cinta” seorang suami hari ini. Dengan sigap, saya kemudian langsung mengubah format lipat sepeda menjadi bentuk asal sepeda yang layak digunakan, menuju kampus perjuangan, FKUI. Dalam beberapa menit saya sudah sampai di pelataran gedung FKUI yang sengaja masih dipertahankan “format antiknya” oleh para pengambil kebijakan di sana. Saya pun kemudian menunggu Icah di salah satu bangku taman sambil merenungkan berbagai macam pengalaman mengesankan yang saya jumpai sepanjang hari.

Tiba-tiba, angin disekitar berhenti. Keadaan senyap. Mungkin rasanya seperti berada di malam Lailatul Qadar yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Pupil mata yang tadinya statis, secara reflek menjadi benda super dinamis yang secara alamiah mencari sumber asal kehampaan. Seperti layaknya mata elang yang mencari tikus di tengah padang luas, mata ini akhirnya menemukan mangsa buruannya. Sesosok bidadari bumi. 

Dengan jilbab dan rok lebar berwarna cokelat muda, dipandankan dengan jas dokter yang berwarna putih bersih, Icah tampak begitu sempurna. Ia adalah perwujudan bidadari surga yang diturunkan oleh Tuhan untuk saya seorang, tidak yang lain. Bibir yang menggemaskan, raut muka bercahaya tanpa dosa, serta guratan sempurna wajah layaknya bidadari khayangan seakan menjadi pelangkap kebahagiaan saya hari ini. 

Ia berjalan menghampiri saya dengan kecepatan jalan standar seorang manusia, dengan lambaian tangan dan senyuman manja seorang istri. Mendadak, pohon-pohon dipelataran gedung seakan mengerti. Mereka bergerak menjauh dari jalan, seakan mempersilahkan sang bidadari itu mendekat kepada si pujaan hatinya. Para pejalan kaki di trotorar jalan martaman raya, para dokter yang berseliweran, juga para mahasiswa yang sedang belajar di sekitar kampus, kontan menghilang dari kisaran. Kini, hanya ada saya dan dia. Kami seperti tokoh utama dalam pementasan drama Adam dan Hawa pada periode awal peradaban manusia. Hanya kami berdua yang tampak, tidak yang lain.

Senyum dan lambaian itu semakin mendekat, menuju tuannya. Suara lembut itu akhirnya keluar, “sudah makan, kak?”, tanya Icah mesra. Seperti seorang buronan yang diinterogasi dengan paksa oleh kawanan polisi, tidak ada kata yang dapat terucap, lidah saya mendadak kelu. Suara tidak keluar. Tatapan mata kembali kosong, karena takjub. Hanya anggukan kecil yang tercipta, itu juga tanpa sadar. Icah kemudian duduk di sisi kosong bangku taman, seraya mencium punggung tangan kanan saya sebagai bentuk penghormatan seorang Istri dalam tradisi timur. Saya menarik napas dalam. Mencoba mengendalikan diri. Mungkin saya terkesan berlebihan. Tetapi ia benar-benar sempurna sore itu. Begitu memesona. Sayup-sayup terdengar suara kasar Bryan Adams di sekeliling. Suaranya seakan menjadi back sound kemesraan kami di pelataran FKUI. 

When you love a woman

you tell her that she's really wanted

When you love a woman you tell her that she's the one

she needs somebody to tell her

that you'll always be together

Belum sempat saya menanyakan kabarnya. Tiba-tiba turun hujan. Hujan yang sangat deras. Basah kuyup menjadi sesuatu yang tidak dapat kami elakan. Air yang turun dari langit itu merubah segalanya. Wajah bercahaya penuh cinta yang selalu ditunjukan oleh Icah kontan berubah menjadi cokelat kehitaman. Antara bibir dan hidungnya pun perlahan muncul deretan kumis tak beraturan. Jilbabnya pun menghilang. Digantikan oleh rambut hitam semi cepak khas lelaki. Sosok Icah yang manis berubah menjadi sosok yang sangat saya kenal. Sangat saya kenal: 

WOOY BANGUUUN!!!

UDAH SUBUH BELOM LU??!!!!

Perlahan tapi pasti, Icah bermetamorfosis menjadi Tigor. Kawan satu Kost ketika kuliah dulu. Dengan gelas yang hampir kosong karena sebagian besar air yang telah ditumpahkan, Tigor mengulang teriakannya. Konsisten. Berulang. Berkali-kali. 

 

WOOOY BANGUUUN!!!

UDAH SUBUH BELOM LU??!!!! 


Saya bermimpi, basah. 
 

SIAAAAAAAL!!!!!!!!!!

373 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia