selasar-loader

Bagaimana mencegah human trafficking pada anak?

LINE it!
Answered Jan 10, 2018

Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

zYj1IfsuqCO8z2n5YCkXvR9BE5mVRsou.jpeg

Sesi Sharing Kisah Inspiratif bersama Shandra Woworuntu

"Mengenali lebih dekat Human Trafficking"

Human trafficking/Perdagangan manusia adalah pelanggaran hak asasi manusia dimana orang dijual sebagai pekerja/pelayan sex, tenaga kerja murah, tenaga kerja paksa, organ tubuh manusia dan anak-anak dibawah 18 tahun semua disebut korban karena mereka masuk dalam hukum perdagangan manusia.

Perdagangan manusia dilakukan dengan cara pemaksaan, penipuan, dan ancaman untuk mendapatkan keuntungan financial/keuangan. Kontrol terhadap Korban itu bisa dengan cara physic dan mental. 
Di Indonesia sudah ada hukumnya namun pengimplentasiannya masih kurang.

Di Indonesia sangatlah marak mengenai perdagangan manusia, tetapi belum diidentifikasi secara benar oleh masyarakat dan pemerintah kurang melakukan pencerahan dan peningkatan kewaspadaan mengenai perdagangan manusia.

Di Indonesia, penekanan lebih kepada TKI/ buruh migrant dan ini masih tergolong hanya sebatas EKSPLOITASI.

Eksploitasi adalah bagian dari trafficking dan eksploitasi sendiri bukan trafficking.

Banyak yang tidak paham bahwa: 
* Anak-anak dibawah umur bekerja di club malam dan dibawah kontrol germo, saya melakukan research Tahun 2015 di Kota jakarta, juga Cianjur, Cisarua, dan Cipanas. Ini sebenarnya bisa termasuk eksploitasi dan trafficking.

Mereka harus membayar germo, tempat tinggal dan makanan yang dipotong dari hasi kerja melayani pembeli sex. Ada pekerja / Anak/ dewasa yang mengambil uang langsung tapi ada juga orangtua anak yang mengambil uang tsb. Anak di bawah usia 18 tahun, semua adalah korban..tanpa melihat apa tujuan mereka berada di sana.

Kawin kontrak juga dapat dikategorikan trafficking.

Kita melihat ini sangat kompleks karena unsur kemiskinan, masalah sosial, juga pengadaan lapangan tenaga kerja yang tidak cukup.

Paling penting adalah memberikan pendidikan dan peningkatan kewaspadaaan di keluarga, lingkungan dan masyarakat Luas. Apalagi untuk anak-anak, pendidikan untuk ank mengenai trafficking haruslah proportional dengan usia anak supaya penangkapannya lebih sesuai.

Training untuk guru juga sangat penting untuk mengidentifikasinya. Saya bertemu banyak guru di Indonesia setelah saya melakukan kunjungan, mereka melapor ada berapa kasus, pelaku trafficking adalah anak2 sekolah juga, mereka mengenalkan dan menjual teman sendiri. Untuk medical professional seperti emergency room dan gyn penting untuk mendapat training agar bisa mengidentifikasi korban. Polisi juga harus ditraining menangani. kasus penangkapan terhadap anak-anak yang menjadi korban. 
Intinya, kita belajar dulu mengenai trafficking dan waspada.

Di Indonesia, saat ini belum ada hotline pengaduan khusus untuk trafficking at large tapi untuk kasus buruh, bisa menghubungi migrant care (di jakarta). Ada Komisi anak. Saya menyarankan menghubungi polisi apabila terjadi kekerasan yang kita langsung lihat.

Sekedar info, Indonesia sudah punya UU Anti Perdagangan Orang. Silakan diunduh: http://pih.kemlu.go.id/…/UU_no_21_th_2007%20tindak%20pidana…

Perdagangan manusia ini merupakan tindak pidana laporan. Jadi semua yg menyaksikan, boleh dan wajib melaporkan.

Mbak Shandra merupakan salah satu survivor human trafficking. Setelah tidak tidak lagi dalam suasana penindasan, mendapat kebebasan di luar negeri tanpa dukungan dan bantuan masyarakat dan instansi-instansi pemerintah dan NGO tentu sangat sulit. Kesulitan bahasa, tradisi, makanan, tempat tinggal, kesehatan dan pekerjaan sangat berpengaruh.

Karena semangat untuk melihat pelaku perdagangan manusia tersebut mendapat hukuman, Jadi saya sabar dan mengumpulan kekuatan untuk bisa bertahan hidup dengan mencari kesempatan, bekerja, sekolah, berinteraksi dengan masyarakat untuk mendapat information mengenai layanan-layanan di Amerika.

Saya melapor dan polisi berhasil menyelamatkan banyak teman-teman yang diperdagangkan dan belajar dari pengalaman, saya tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama. Maka saya mulai membagikan pengalaman dan mencari jalan yang cocok untuk saya lakukan dalam memerangi perdagangan manusia dan kekerasan dalam Rumah tangga.

Tidak mudah, tapi karena saya sudah memutuskan untuk berniat baik untuk membantu orang lain supaya tidak terjerumus dalam kejahatan perdagangan manusia.

Hari demi hari saya belajar mengenai hak asasi manusia dan khususnya perdagangan manusia dan bergabung dengan penyintas lain, NGO, atau koalisi anti perdagangan manusia.

Karena saya tidak mendapat perlakuan yang baik dan layanan yang cukup. Saya mulai menyampaikan hal-hal itu karena penting untuk Korban. Membantu Korban itu fokus saya, maka saya bersama Ima Matul dan Activist lain mendirikan yayasan Mentari di Amerika.

Pengalaman adalah pelajaran hidup yang baik dan harus lah diambil Maknanya untuk selanjutnya melakukan kebaikan untuk menolong sesama agar tidak mengalami Hal yang sama seperti yang saya Alami.

Bagaimana keluarga mendidik Mbak Shandra dalam menghadapi kesulitan hidup?

Saya berasal dari keluarga pedagang dan pendidik. Semasa kecil saya, saya dibekali dengan kehidupan yang bebas dalam arti saya di perbolehkan untuk mengikuti kegiatan positive apa saja khususnya sehubungan dengan kegiatan Anak, seperti kelompok menari, pramuka, les after school, dibawa ke sungai untuk berenang, ke Sawah untuk belajar menanam dan menuai, ke Muara untuk memancing...itu masa kecil saya.

Keluarga saya tidak secara langsung mendidik saya, Karena saya dikelilingi oleh pekerja-pekerja, saya hidup Bersama mereka yang jumlahnya lebih dari 10 orang. (saya tidak punya ayah-hidup dengan orang Tua asuh).

Karena kegiatan saya cukup banyak, saya merasa pintar. Saya mengajarkan baca tulis kepada pekerja. Hal tersebut menjadi bekal saya untuk berbicara di public sedari kecil.

Keluarga saya kolot, tapi tidak memberi batasan saya untuk bergaul, tapi harus melapor kepada nenek saya, siapa teman-teman juga rumahnya.

Orangtua saya lebih senang teman datang ke Rumah dari pada saya mengunjungi orang lain karena mereka bisa mengawasi langsung.

Bekal dari kepercayaan/ agama. Keluarga saya muslim kejawen, Jadi tidak begitu memberi pengaruh. Yang saya tahu hanya sandingan dan pergi ke acara2 upacara kejawen. Kebetulan karena saya disekolahkan di sekolah Katolik, saya belajar agama dan keluarga mengijinkan saya untuk belajar.

Penting sekali keluarga mendukung apa yang di lakukan Anak, selama hal tersebut positif dan membangun.

Pengawasan keluarga saya sangat ketat meskipun saya punya kebebasan untuk berkarya. Mereka tahu saya suka pramuka dan olahraga waktu kecil dan mereka dukung. Di samping kasih sayang yang ditunjukkan dalam bentuk percakapan sebelum tidur, membuat saya merasa di kasihi dan diperhatikan.

Keluarga saya selalu membela saya dengan mengajar yang baik. Apabila saya nakal, mereka memarahi dan memukul saya (sebenarnya tidak boleh dan saya tidak menganjurkan kekerasan terhadap anak). Apabila salah, saya harus minta maaf dan menyebut kesalahan dan apa yang harus saya lakukan setelah saya memahami kesalahan saya.

Contoh, saya mengambil
kue adik saya, saya harus bilang saya mengambil kue adik, ini tidak boleh karena saya sudah punya sendiri, saya minta maaf, dan tidak mengulangi. Meskipun saya harus berdiri dipojok sampai time out habis.

Saat mengalami kegagalan di waktu kecil, atau peristiwa tidak menyenangkan, apa yang biasanya keluarga atau lingkungan lakukan?

Selama di lingkungan sekolah dan masyarakat, biasanya saya cukup vocal apabila ada sesuatu yang tidak benar.

Kalo saya tidak bisa menghandle, saya panggil orangtua/pekerja orangtua saya untuk membantu karena kapasitas saya cukup terbatas. Penting sekali kita sebagai orangtua selalu tersedia baik waktu, tenaga dan pikiran untuk anak-anak.

Apabila saya mendapat kesulitan, biasanya saya bertanya kepada keluarga atau orang terdekat. Orangtua saya selalu menyampaikan "hati-hati dengan orang asing dan jangan mudah percaya".

254 Views
Write your answer View all answers to this question