selasar-loader

Apa yang harus dilakukan ketika menghadapi konflik dengan pasangan?

LINE it!
Answered Jan 10, 2018

Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

WgzLJCzBffnlcQ_q33rJn3RdZf-z6FcM.jpeg

Kita semua pasti sering mendengar dan menggunakan kata konflik. Konflik terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara ketidaksepahaman perilaku, belief, atau sudut pandang antara dua pihak. Bisa antara dua individu, maupun dua kelompok.

Apakah ada pasangan yang tidak pernah berkonflik? Menurut saya tidak mungkin. Dua orang yang berbeda, memiliki sifat dan latar belakang yang berbeda, pasti pernah mengalami ketidaksepahaman yang kemudian memicu konflik. Memilki masalah, konflik merupakan bagian dari dinamika hubungan antar manusia, termasuk hubungan pasangan atau suami istri.

Masalah keuangan: penghasilan yang berbeda antara suami istri, bagaimana penghasilan itu bisa mencukupi atau tidak bagi penghidupan, berbeda pandangan dalam pengelolaan keuangan merupakan pemicu konflik.

Pengasuhan anak: 
Perbedaan sudut pandang pengasuhan anak, perhatian terhadap tiap anak yang mungkin dipersepsikan berbeda, bagaimana menerapkan disiplin adalah bagian dari penyebab konflik dalam pengasuhan anak.

Hubungan dengan keluarga besar bukan hal baru, apalagi dalam budaya di Indonesia dimana definisi keluarga juga mencakup keluarga besar dan bagaimana keluarga besar dapat mempengaruhi dinamika sebuah keluarga inti. Hal yang sering menjadi perhatian adalah hubungan menantu mertua.

Pembagian kerja dalam keluarga: 
dalam keluarga tradisional dimana bapak bekerja di luar rumah mencari nafkah dan ibu mengerjakan pekerjaan domestik, konflik ini mungkin jarang terjadi. Tapi dalam keluarga dimana ibu juga ikut mencari nafkah dan bekerja di luar rumah, ini merupakan potensi masalah tersendiri.

Sex: 
Dianggap hanya pelengkap terakhir dalam sebuah hubungan karena ketabuan membicarakan masalah ini secara terbuka. Banyak konflik keluarga terjadi karena tidak mengindahkan tidak terpenuhinya kebutuhan seksual masing-masing pasangan.

Jadi ketika kita berkonflik dengan pasangan, apa pilihan yang kita miliki? Selesaikan masalahnya atau hubungannya? Banyak pasangan di televisi yang saya lihat mengatakan hal klise seperti: kami sudah tidak punya visi yang sama jadi lebih baik kami berpisah. Manusia terus bertumbuh dan berkembang jadi saya tidak tahu ada berapa kali proses mencari pasangan yang diperlukan orang tersebut untuk bahagia kalau tiap kali dirasa berbeda visi, pasangannya ditinggalkan.

Padahal menyelesaikan konflik bersama akan memperkuat dan memperkaya hubungan.

Kalau ingin menyelesaikan bagaimana caranya?

Akui dulu keberadaan masalah dan samakan persepsi dengan pasangan apa yang dianggap sebagai masalah dan ingin diselesaikan. Kalau anda ribut tentang model rambut dan pasangan tentang kebersihan rambut, sekilas sama-sama tentang rambut tetapi sulit sekali mencari kata sepakat kalau yang dipermasalahkan adalah dua hal yang berbeda.

Tetapkan dulu aturan dasar ketika membicarakan konflik. Sehingga anda berdua bisa nyaman dan secara sehat mendiskusikan konflik anda misalnya, bergantian berbicara, pentingnya saling menghormati pendapat satu sama lain, kapan waktu yang tepat atau waktu yang tidak tepat untuk membahasnya. Kelihatannya sepele, tapi banyak pasangan belum-belum sudah merasa lelah untuk membicarakan konfliknya karena habis energinya untuk saling berteriak tanpa ada yang mendengarkan.

Sudah sepakat sumber masalahnya, berlanjut ke rambu-rambu dalam mendiskusikannya, kemudian kita bisa mulai cari pilihan-pilihan penyelesaiannya. Cari pilihan atau opsi sebanyak mungkin, dan dorong pasangan kita untuk mengungkapkan opsi yang dia miliki sehingga dia juga merasa terlibat dan dilibatkan.

Ingat setiap pilihan memiliki konsekuensinya. Bicarakan juga konsekuensinya. Pilih penyelesaian masalah yang dampak positifnya paling banyak buat kita dan pasangan, dan yang paling bisa kita tanggung konsekuensi negatifnya. Misalnya: kita sepakat bahwa membeli mobil adalah jalan keluar dari masalah yang kita punya, tapi kita tidak sanggup atau tidak mau menanggung membayar cicilan mobilnya. Mungkin atau tidak? Jadi coba pertimbangkan juga bagaimana kita menanggung konsekuensi negatifnya.

Kemudian sepakati peran masing-masing dari suami dan istri dalam penyelesaikan konflik yang sudah dipilih. Jangan sampai langkah sudah sepakat dipilih tapi dua belah pihak saling menunggu atau berharap pihak lain yang menjalankan.

Tips yang juga bisa membantu kita dalam menghadapi masalah atau konflik dengan pasangan, ingat bahwa kita dan pasangan dua orang yang berbeda. Tidak akan ada habisnya mencari perbedaan kita dan menggunakannya untuk membakar hubungan kita. Ada banyak persamaan yang bisa digunakan sebagai modal untuk menguatkan dan mengembangkan hubungan. Gunakan dan manfaatkan dengan baik.

Menerima pasangan secara utuh, semua kelebihan dan kekurangannya, sebaiknya tidak hanya kita lakukan dalam masa pendekatan untuk mendapatkan pasangan.

Gunakan prinsip ini sepanjang hubungan berlangsung sambil terus mendukung untuk perkembangan pasangan.

Kalau ada hal buruk dari pasangan hindari sikap "nyinyir" dan perilaku sering menyindir yang akhirnya membuat kita merendahkan pasangan kita. Tidak ada yang senang diperlakukan seperti ini dan tentu saja ini tidak bisa dikategorikam sebagai ungkapan cinta.

Pilih waktu yang tepat untuk membicarakan masalah dengan pasangan. Ketika kita sedang lapar rasanya bukan waktu yang tepat. Pilih ketika kedua belah pihak sedang dalam keadaan siap dan tenang. Bila perlu minta waktu sebelumnya dan "janjian" kapan waktu yang tepat. Kalau demo menonton film yang kita suka, kita bisa meluangkan waktu makan demi kelangsungan hubungan pasti kita juga bisa meluangkan waktu.

Ingat untuk selalu ambil jeda sebelum memuntahkan kemarahan yang kita sesali kemudian. Tunggu sampai amarah reda baru kita ajak pasangan untuk membicarakan masalah.

Jangan bersikap dingin dan berpikiran bahwa pasangan kita paham apa yang menjadi masalah buat kita. Kita mendiamkan pasangan berhari-hari, bersikap kasar dan "kecut", tidak memunggungi seakan-akan menunjukkan ketidaksukaan dan berharap dia berubah.

Ketika pasangan tidak paham apa yang menjadi masalah kita, pesan yang ditangkap hanya marah dan benci saja. Destruktif sekali akibatnya bagi hubungan. Aksi anda tidak berhasil apa-apa dan makin memperburuk situasi.

Sekali lagi ingat, manfaatkan waktu anda berkonflik dengan pasangan sebagai kesempatan untuk sama-sama berkembang. Keluarkan usaha dengan maksimal. Jangan cepat menyerah, beri diri anda dan pasangan kesempatan dan waktu. Bersabar dengan prosesnya. Ibaratnya memanjat pohon, anda tidak langsung sampai ke ujungnya, satu langkah ke atas, menyeimbangkan posisi dan pijakan, hingga anda sampai di atas. Demikian juga proses ini.

Bila perlu, belajar dari pasangan-pasangan bijaksana yang berhasil dengan baik dalam hubungannya. Walau harus hati-hati memilih orang yang akan dijadikan contoh dan tempat bertanya. Bicarakan juga di awal kemungkinan untuk pergi ke ahli seperti konselor pernikahan atau psikolog ketika diperlukan.

219 Views
Write your answer View all answers to this question