selasar-loader

Bagaimana tips dan trick dalam membangun lembaga non-profit?

LINE it!
Answered Jan 10, 2018

Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

[Resume Sesi Sharing Kisah Inspiratif: Membangun dan Mengembangkan Lembaga Non-Profit]
bersama: Ibu Isti Moenawaroh, founder dan direktur Rumah Autis.

Apa yang membuat ibu Isty tergerak membangun Rumah Autis?

Hanya berangkat dari sebuah kegelisahan kami sebagai pengajar - terapis ABK yang pada waktu itu tahun 2002-2004, terusik dengan rasa kemanusian, yang melihat betapa para orang tua anak berkebutuhan khusus ini harus mengeluarkan biaya dan dana yang tidak sedikit untuk terapi maupun sekolah khusus ABK (yang pada waktu itu tahun 2003 tempat terapi masih sedikit sekali jumlahnya di jabodetabek) bahkan bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Itupun biayanya sangat tinggi termasuk tempat kami mengajar dan yang menjadi klien kami adalah orang-orang berada, namun seiring waktu ternyata banyak juga yang kami temui di tempat kami mengajar. Orangtua yang pada akhirnya tidak meneruskan terapi karena keterbatasan biaya, bahkan ada yang mau mendaftar ditolak karena tidak sanggup membayar biaya paket terapi yang cukup mahal saat itu. 
Bahkan beberapa orangtua yang kami temui saat itu ketika saya di bogor ada orangtua yang sampai menjual seluruh perabot rumahnya untuk biaya terapi, dan saat kami silaturahmi ke rumahnya yang tersisa hanya kursi, kasur serta magiccom karena seluruhnya sudah terjual.

Tahun 2000an memang pilihan untuk mencari pusat terapi autisme - ABK sangatlah minim. Misalnya di Bogor baru ada 1-2 pusat terapi saja itupun biayanya tidak terjangkau oleh yang tidak mampu.

Setahun kemudian, kegelisahan kami memuncak. Merasa bersalah, merasa tidak bisa berbuat apa-apa karena dari tempat terapi yang kami kerja ada kode etik yang tidak bisa kami langgar yaitu kita tidak bisa memberikan bantuan terapi ke rumah-rumah (jika anak tersebut tercatat sebagai klien pusat terapi kami bekerja) 
Kami sebagai pengajar - terapis di gaji cukup memadai dan besar saat itu, namun kami tidak bisa berbuat apa-apa. 
Akhirnya kegelisahan kami itu kami ungkapkan kepada teman yang saat itu sangat menyambut baik curhatan kami.

Singkat cerita, dengan segala keterbatasan saya dan 4 teman saat itu, kami bersepakat membuat tempat terapi sederhana di daerah Jatimakmur, Pondok Gede. Yang penting bisa membantu anak-anak yang tidak tertangani karena ketiadaan biaya terapi.

Manusiawi juga kami sebagai manusia ketika harus melepaskan pekerjaan kami dari klinik tersebut, maklum sebagai anak rantau memikirkan nanti makan bagaimana, kos bagaimana, namun bismillah..dengan semangat yang terbatas itu mencoba saling menguatkan untuk merintis yayasan sosial ini. Berbekal rumah sederhana yang kami sekat dengan triplek, media belajar seadanya (bantuan dari salah satu orangtua ABK dari sebuah milis putrakembara) tahun 2004 kami memulai kegiatan sosial tersebut.

Kami terinspirasi dengan sebuah hadist. Inspirasi spritual: 
"Barang siapa menghilangkan kesulitan mukmin di dunia, maka Alloh akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Alloh akan memudahkannya di dunia dan akhirat (HR muslim)"

Waktu itu dengan segala keterbatasan pada akhirnya tempat sederhana kami menjadi semakin semarak dengan ABK yang datang ke Rumah Autis.

Adakah pihak-pihak yang membantu di awal proses membangun rumah autis sehingga dapat berkembang hingga sekarang? Termasuk suka dan dukanya ketika awal memulai

Tahun 2004 akses informasi belum sederas sekarang. Dulu hanya ada beberapa komunitas yang tergabung dalam sebuah milis itupun masih terkesan eksklusif bagi yang mampu saja karena internet juga belum semudah sekarang sehingga para ortu ABK yang tidak mampu nyaris sulit mendapatkan informasi.

Suka - duka perjalanan rumah autis dari 2004- 
Sekarang banyak sekali relawan yang keluar masuk, anggaran operasional yang kadang kembang kempis, dan lain sebagainya. Namun kami mencoba memahami bahwa setiap kesulitan yang kami rasakan kami coba jadikan tantangan untuk terus bergerak. Mencoba terus berbuat untuk mereka yang membutuhkan, memberi manfaat dan terus berbenah dengan amanah yg telah diberikan oleh donatur kepada Rumah Autis. Dengan 9 cabang yang ada, berdirinya juga dari latar belakang yang berbeda-beda dan kami sangat terbantu dengan para inisiator setiap cabang, para donatur yang terus bergandengan tangan melanjutkan perjuangan lembaga ini.

Kebahagiaan yang dirasakan kami adalah dari anak dan para orangtua. Perkembangan anak sekecil apapun menjadi secercah kebahagiaan yang orangtua dapat rasakan. Merekalah pemompa semangat kami. Ketika para orangtua maupun para donatur memberikan support buat kami, yang harus kami lakukan adalah menjalankan amanah sebaik-baiknya.

Mendirikan lembaga itu mudah kok, namun merawat keberlangsungan lembaga itu yang membutuhkan tantangan tersendiri. Tahun 2004 Rumah Autis menjadi satu-satunya LSM pertama yang bergerak dalam bidang ABK ini. Alhamdulillah sekarang sudah banyak sekali lembaga sejenis yang mengkhidmatkan diri membantu ABK terutama bagi yang kurang mampu.

Mengelola lembaga sosial bukan hanya sekedar memikirkan bagaimana mencari dana namun yang terpenting adalah terus meningkatkan kualitas layanan kita kepada masyarakat yang membutuhkan. 
Alhamdulillah, kondisi pendidikan dan penanganan ABK sangat jauh berkembang dibanding 14 tahun lalu. Sekarang orangtua sangat mudah mengakses informasi seputar penanganan ABK, info lewat media sosial wara wiri oleh para pakar di bidang ini. 12 tahun lalu, yang namanya seminar pelatihan ABK cukup langka. Sekarang sudah sangat banyak pilihan seminar, pelatihan yang terselenggara baik oleh swasta maupun pemerintah. Sosialisasi, advokasi kepedulian terhadap ABK dilakukan oleh banyak pihak sehingga masyarakat terutama di kota-kota besar maupun kecil sudah tidak asing lagi dengan anak berkebutuhan khusus.

Keberlangsungan lembaga kami juga tidak lepas dari peran besar para relawan yang menjadi motor penggerak layanan di rumah autis.

Mereka siap dan rela diberikan tunjangan seadanya (belum UMR) Namun tetap berkomitmen untuk berjuang membantu pendidikan ABK di rumah autis.

Bagaimana peran orangtua dalam membentuk kepribadian ibu sehingga membuat ibu peduli dengan sesama? Hal-hal apa yang paling diingat, baik berupa pengalaman, peristiwa spesifik bersama orangtua sehingga menggerakkan ibu untuk dapat berkontribusi di masyarakat?

Saya dilahirkan dari keluarga sederhana, alias wong ndeso. 
Bapak (alm) seorang petani dan aktifis di desa. Kehidupan kami pas-pasan dan sering merasakan masa-masa sulit secara perekonomian. 
Bapak dan ibu termasuk orang yang sangat mempedulikan pendidikan anak-anaknya. Bahkan mereka rela menjual apa yg dipunya untuk kami bisa sekolah hingga kuliah.
Satu hal yang sangat membekas adalah saya melihat sosok bapak yang selalu memberikan waktu dan tenaganya untuk kemajuan di desa.

Hal yang sampai sekarang menjadi pedoman adalah pesan almarhum bapak, bahwa hidup...bekerjalah semata-mata karena ibadah kepada Alloh. Kejarlah akhiratmu maka dunia akan mengikutimu. Jadilah manusia yang welas asih. Tidak jumawa. Terus nggolek (cari) ilmu. Bantulah siapapun meskipun kita dalam kondisi sulit.

Alhamdulillah spirit tersebut yang terus saya coba bangun. 
Membantu sesama itu tidak harus punya materi dulu. Hanya waktu, pikiran yang mungkin bisa saya kontribusikan untuk yang membutuhkan.

Bagaimana peran keluarga seperti anak dan suami terhadap proses pengembangan rumah autis?
Support seperti apa yang diberikan dan bagaimana ibu menjelaskan kepada keluarga tentang apa yang dilakukan, terutama karena lembaga nirlaba tidak berfokus pada keuntungan.

Alhamdulillah. Saya menikah dengan suami saya setelah saya berada di rumah autis. Sehingga kondisi apapun suami sangat mendukung kegiatan saya. Sebelum menikah sudah ada komitmen bahwa suamj memperbolehkan aktifitas dengan rumah autis kapanpun, dimanapun, jam berapapun dibutuhkan. Yang terpenting saya tidak melupakan kodrat saya sebagai istri dan ibu yang tetap punya tanggungjawab di rumah serta komitmennya adalah bahwa anak saya pengasuhannya tidak dengan orang lain. Harus dengan saya.

Dengan demikian, keluarga inti maupun keluarga besar (orang tua-mertua) memberikan kepercayaan penuh serta banyak memberikan dukungan dengan aktifitas saya di rumah autis. Pintar-pintar membagi waktu saja.

Kembali ke Rumah Autis, adakah tips/hal yang harus dilakukan dan diperhatikan saat pertama kali membuat suatu gerakan atau lembaga nirlaba?

1. Penjabaran yang lebih jelas terhadap visi dan misi yang menjadi landasan keberadaan dan tujuan organisasi/lembaga
2. Adanya kesatuan dan kesamaan persepsi terhadap arah serta tujuan lembaga
3. Mengumpulkan data yang relevan mengumpulkan informasi dari intern - ekstern untuk perencanaan jangka pendek - panjang. Ambil hal-hal yang dapat menandakan adanya sebuah "trend tertentu".

Dalam pekerjaan secara kelembagaan tentunya kita punya perencanaan - proses - kontroling dan evaluasi. 
Untuk program anak-anak ABK saja kita punya IEP. Begitu juga secara kelembagaan pada masing-masing divisi yang ada. Kita menyusun target-target tertentu.

Misal dari sisi program anak:
jangka pendek: menyediakan sarana pembelajaran yang memadai.
Jangka panjangnya kita menyiapkan sarana dan tempat yang memadai untuk para ABK berkarya dan bekerja.

Dari sisi SDM, 
Jangka pendek: peningkatan kompetensi dengan memberikan pelatihan-pelatihan sesuai kebutuhan. Jangka panjang: memberikan kompensasi yang memadai, dll.

Dari sisi fundrising misalnya, Jangka pendek: mengumpulkan database donatur personal. 
Jangka panjang: Database perusahaan, CSR, dll.

Bahwa lembaga nonprofit juga sebaiknya tidak ketergantungan dengan donatur, kita harus menyiapkan lini usaha yang bisa digunakan untuk membantu operasional lembaga. Ini bisa menjadi perencanaan jangka panjang.
Misal: rumah autis mengembangkan usaha jual beli barang bekas, peternakan ayam, dll yang dari usaha tersebut selain menjadi sarana anak-anak untuk bekerja nantinya. 
4. Membuat proses komunikasi, koordinasi, pembinaan, pelatihan serta pengaturan SDM sebagai salah satu upaya membangun budaya lembaga serta komitmen bersama dalam lembaga. 
5. Membangun budaya silaturahmi, jejaring dengan instansi, perusahaan, komunitas maupun lembaga-lembaga sejenis.

Apa saran yang bisa diberikan untuk dapat berani memulai pergerakan/lembaga serupa namun belum adanya dukungan dari lingkungan sekitar?

Apapun latar belakang kita, kepedulian itu milik siapa saja. Carilah partner/komunitas/ lembaga yang seide dengan kita. Insya Alloh, jika satu frekuensi akan mendapatkan sinergi yang baik dengan siapapun.

161 Views
Write your answer View all answers to this question