selasar-loader

Bagaimana peran ayah dalam mendidik anak?

LINE it!
Answered Jan 10, 2018

Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

nI3kOiZWRpXrSy-XCXdc7Fgz_FLEMs7H.jpeg

 

Saat ini di Indonesia, sejak beberapa tahun lalu, belum lama, muncul ada kesadaran untuk adanya gerakan pelibatan laki-laki. Hal ini terkait dengan lesson-learned teman-teman aktivis terutama di jaringan penanganan perempuan korban kekerasan dan perlindungan anak yang menemukan kalau dalam banyak kasus, katakanlah KDRT, cukup banyak istri/pasangan yang kemudian memilih untuk rujuk kembali dengan suami (yang NB pelaku kekerasan), kemudian lesson-learned kalau selama ini upaya penanganan kasus - kasus seperti diatas lebih banyak fokus kepada pendampingan korban (yang NB kebanyakan perempuan).

DI UU PKDRT pun diamanatkan adanya konseling pelaku. selama ini pelaku dan laki - laki sangat sedikit digarap. Padahal dari riset psikologis yang dilakukan (internasional) dan pengalaman praktik saya berhadapan dengan klien laki - laki, pelaku ditemukan kalau laki - laki pun memiliki masalah psikologis yang perlu untuk diperhatikan dan ditangani. Jadi saat ini ada program Men Care yang disponsori oleh UNFPA yang pilotnya ada di 4 negara, termasuk Indonesia. Mitra di INdonesia adalah Yayasan Pulih (www.yayasanpulih.or.id) di Jakarta, Riefka Annisa di Yogyakarta, WCC Bengkulu dan satu lagi saya lupa.

Kembali ke topik tentang peran ayah, di slide ke-2 saya, saya cuplik gambar cover majalah TIME (basis di Amerika). Terbitan Juni, 1993, judulnya sangat relevan dengan topik diskusi ini: FATHERHOOD (the guilt, the joy, the fear, the fun that come with a changing role), kalau diterjemahkan dalam bahasa kira - kira: PERAN AYAH (perasaan bersalah, kegembiraan, ketakutan, keseruan (fun) yang muncul akibat adanya peran). Jadi kira - kira di dunia 'barat'dalam hal ini AMerika baru dibahas dan disadari secara terbuka, sekitar 24 tahun yang lalu, konteks saat itu adalah: mulai banyak ibu masuk ke dunia kerja. Yang menarik adalah: subjudulnya, tentang beragam perasaan yang muncul dan diakui dan dikaji di artikel tersebut mengenai menjadi ayah yang terlibat mengasuh anak (ada istilah: 'stay at home'dad), yaitu: perasaan bersalah, gembira, takut, seru dll).

Mengapa beragam perasaan ini muncul? Tentunya kembali lagi kepada bagaimana masyarakat (terutama masyarakat patriarkhat - yang lebih menempatkan laki - laki diatas perempuan) mendefinisikan seorang laki - laki menjadi ayah. Ketika ayah terlibat dalam pengasuhan, DULU dianggap atau umumnya dianggap sebagai ayah yang 'kurang OK', ayah yang tidak keren, dll. Urusan anak adalah urusan ibu. Itu anggapan yang ada dulu, termasuk di Indonesia bahkan di dunia barat sekalipun. Sehingga tahun 1993, TIMES mengangkat isu ini. Namun, apakah demikian? Singkatnya, Tentunya TIDAK. Urusan anak adalah urusan ibu saja, itu konsep usang. konsep yang tidak lagi relevan dalam konteks saat ini.

Nah, ketika kita sudah sepakat, maka PR berikutnya adalah bagaimana membantu para laki - laki untuk menjadi ayah yang terlibat, membantu para laki - laki untuk mengatasi rasa bersalahnya, menghadapi ketakutannya dan bisa lebih fun, santai menghadapi keterlibatannya yang lebih mendalam dengan anak.

Riset menunjukkan hal positif dari keterlibatan ayah dalam pengasuhan: figur ayah yang aktif (active father figure) meminimalkan resiko (peluang/kemungkinan) terjadinya masalah perilaku dan psikologis pada anak. Catatannya adalah: dalam hal ini jika figur ayah menunjukkan minat terhadap anak (peduli ttg sekolah anak, hobi anak, kegemaran anak), membuat anak merasa spesial (jemput anak ke sekolah, hadir saat anak pertunjukan di sekolah), menampilkan cinta tanpa syarat (tidak mengatakan dan mempraktikkan, misalnya kalau dapat nilai bagus baru boleh main sama ayah), memberi rasa aman dan nyaman (hindari misalnya ayah pulang dari kantor, anak langsung lari/menghindar). Temuan tersebut didukung oleh tidak hanya 1 riset tapi banyak riset di berbagai negara.

Mungkin ada yang beranggapan itu khan di Barat, bukan di Indonesia. Saya pernah melakukan riset di tahun 2013, saya bekerja dengan anak remaja penghuni lapas di Tangerang, yang divonis bersalah sebagai pelaku kekerasan (pengeroyokan, pembunuhan, penganiayaan) dan pelaku kekerasan seksual (pemerkosaan, pencabulan).

Temuannya adalah .........
Sikapnya terhadap ibu positif. Umumnya mereka mencintai dan sayang kepada ibunya. Ibu dianggap tetap menerima dirinya. Namun ketika ditanya tentang ayah, bagaimana hubungannya dengan ayah mereka, ditemukan bahwa anak remaja di Lapas tersebut punya sikap yang negatif terhadap ayahnya: 'saya tidak suka ayah saya', 'ayah saya kurang ajar, punya wanita lain', 'ayah saya kayak bang Toyib' dst. Mayoritas anak remaja di Lapas mempersepsikan (menganggap) orangtuanya, terutama ayah tidak hangat, dan juga tidak bisa menegakkan kontrol (displin) terhadap dirinya.

Seperti yang diketahui, peran orangtua secara umum (baik ibu dan ayah) adalah dapat menegakkan kontrol dan menampilkan kehangatan (warmth). Kontrol: ada standar perilaku dari orangtua ke anak, ada pengawasan, ada disiplin. Tapi juga ada kehangatan. Keduanya harus ada, jika timpang salah satu, misalnya orangtua sangat hangat tapi tidak ada kontrol: baik hati, ramah ke anak, apapun yang anak mau langsung diberikan dst dst maka akan ada dampaknegatif, demikian juga jika hanya kontrol, anak akan 'lari'dari rumah, tidak nyaman. Jadi Poin 1, sejauh ini adalah: Peran ayah penting. Ayah perlu terlibat dan harus diberikan kesempatan untuk terlibat.

Ketika kita sudah sepakat tentang pelibatan ayah, saya masuk apa yang bisa dilakukan oleh ayah (laki - laki). Secara umum sebagai orangtua (termasuk ibu), penting bekerjasama, bahu - membahu menciptakan lingkungan pengasuhan yang suportif. Lingkungan pengasuhan yang suportif intinya ada 3 hal: ada cinta kasih, ada model positif (termasuk: bagaimana relasi orangtua dengan Yang Maha Kuasa, oranglain) dan dukungan terhadap kemandirian anak. Riset saya di tahun 2012, menunjukan anak remaja pelaku kriminal berasal dari lingkungan pengasuhan yang tidak suportif, ketiga aspek tersebut tidak/kurang dirasakan oleh anak.

Lalu secara khusus tentang peran ayah bagi pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dari anak (ayah efektif), terdapat 7 poin:
1. membangun dan memperkuat hubungan positif dengan ibu (ini sangat penting, bagaimana ayah memperlakukan ibu akan sangat membantu anak tumbuh kembang secara optimal, tentunya memperlakukan ibu dengan baik dan positif)
2. menyediakan waktu untuk anak (saya pikir ini sudah jelas maksudnya dari poin tersebut)
3. merawat anak (ayah juga harus bisa memandikan anak, memberi anak makan, dll)
4. menegakkan disiplin (dapat berkata tidak kepada anak, jangan sampai karena merasa bersalah sudah meninggalkan anak, tidak bisa menegakkan disiplin, kalau sama ibu tidak boleh, tapi kalau sama ayah boleh)
5. menjadi acuan dalam berhubungan dengan orang lain (dalam hal ini, bagaimana ayah ketika berinteraksi di luar rumah, ketika ayah sedang menyetir mobil bersama anak istri, lalu ayah memaki motor/mobil yang mendahului, tentunya ini sangat memberikan dampak bagi anak)
6. pelindung & pemelihara (jika ayah bekerja, ayah bekerja dengan baik, jika ayah tidka bekerja, ayah dapat tetap bertanggungjawab, mis: dengan hal praktis menjaga kebersihan rumah, menjemput ibu yang bekerja, mengantar/menjemput anak ke sekolah)
7. memberi contoh/keteladanan (poin ini menurut saya jelas)

Jadi poin inti kedua adalah: singkatnya, saya membuat akronim peran ayah,seperti susu yang diiklankan sebagai susu yang OK, yaitu susu yang mengandung DHA: ayah yang juga ber DHA: Disiplin, Hangat dan Aktivitas. AKtivitas maksudnya: dapat beraktivitas dengan anak: main terlibat penuh dengan anak, bukan anak dengan ayah pergi berdua katakanlah ke mall/restaurant, tapi ayahnya sibuk dengan gadget, anaknya juga diberikan gadget.

Poin terakhir yang saya ingin tekankan adalah: ketika ayah mulai mau/sedia terlibat dalam pengasuhan, maka ayah/laki -laki harus dibantu sebagai merasa nyaman dengan keterlibatannya tersebut. Ayah merupakan laki - laki yang dibesarkan dalam konstruksi sosial: diajarkan, ditekankan berulang - ulang untuk lebih 'macho' yang dikonotasikan dengan tidak terlibat dalam pengasuhan anak.

Nah, bagaimana membantu ayah supaya nyaman? Beri kesempatan kepada ayah untuk terlibat, hindari anggapan bahwa ayah membantu tugas ibu karena ini adalah tugas bersama. Saya menutup 'pancingan' diskusi ini dengan menegakkan 3 poin:
1. Peran ayah penting dan punya dampak positif dan bermakna bagi tumbuh kembang anak
2. Ayah efektif: ayah yang mengandung DHA 
3. Ayah terlibat dalam pengasuhan harus didukung dan dibantu

------

*Sesi Tanya Jawab*

1. Bagaimana caranya memaksimalkan peran ayah jika kondisinya keluarga bercerai dan anak-anak ikut dengan ibu. Bisakah memaksimalkan kualitas jika kuantitasnya jauh berkurang?

Di paparan saya, saya menulis figur ayah, seringkali ditanyakan bagaimana ketika ayah tidak ada karena sudah meninggal, bercerai, ada dalam situasi khusus (misal: ayah dipenjara), maka perlu ada laki - laki dewasa lainnya di dalam keluarga besar yang perlu lebih terlibat, misal: kakek, paman, sepupu ibu/ayah dst. Nah kalau terkait dengan ayah yang bercerai, usia anak berpengaruh untuk memahami mengenai perceraian, intinya adalah hindari upaya untuk menarik dukungan anak sehingga seorang anak lebih ke salah satu orangtuanya. Salah satu pasangan sebaiknya menghindari upaya untuk menjelek - jelekkan pasangan yang lain. Kepentingan terbaik anak perlu diutamakan, pertimbangan kepentingan terbaik anak harus menjadi pusat pertimbangan berbagai hal yang diambil.
Kalau terkait kuantitas vs kualitas, ini memang menjadi debat klasik. intinya kembali lagi ke DHA, ayah yang bercerai, mungkin tidak tinggal bersama harus bisa menampilkan Disiplin, Hangat dan Aktivitas dengan Anak. Memaksimalkan kualitas seringkali dikonotasikan dengan jalan - jalan yang mahal, dst, tetapi intinya memaksimalkan kualitas adalah dengan kehadiran ayah secara penuh ketika berinteraksi dengan anak, jangan disambi mengerjakan PR kantor dll.

2. Saya ayah yang membesarkan anak sendirian sejak anak berusia 4 tahun, dan anak saya berkebutuhan khusus. Jadi saya berusaha keras "memperbaiki" anak saya sekaligus mengkondisikan 24 jam fungsi saya sebagai ayah Bunda. Mohon pendapatnya.

Mohon maaf kalau penjelasan saya menyinggung Anda. saya tidak bermaksud demikian. senang mendengar kalau bapak sangat terlibat dalam pengasuhan anak. Apa yang saya paparkan dibagian awal adalah: apa yang umumnya terjadi di masyarakat apalagi masyarakat patriarkhat. Saya sangat salut dengan apa yang Bapak perjuangkan dengan kondisi keluarga Bapak. mungkin Bapak juga bisa share apa yang dilakukan sebagai seorang ayah dan orangtua tunggal. "Memperbaiki" maksudnya? Mungkin maksudnya mendampingi yah Pak. Satu hal yang perlu saya tekankan ke Bapak adalah: Bapak sebagai orangtua tunggal mendampingi seorang anak berkebutuhan khusus tidak lah mudah, oleh karena itu Bapak pun harus senang, harus memperhatikan kebutuhan pribadi Bapak. Jangan gunakan istilah memperbaiki, seolah - olah ada yang rusak toh.

3. Saya setuju peran Bapak/figur laki-laki itu penting untuk pertumbuhan anak. Tapi bagaimana mengubah mindset seorang Bapak yang masih jadul perspektifnya? Tanpa jadi berantem karena kesannya istri memaksakan kehendak.

Mengubah mindset memang sangat sulit, apalagi misal: selama ini, si ayah dibesarkan di lingkungan yang sangat menekankan kalau urusan anak adalah urusan ibu bukan ayah, lalu lingkungan pergaulan ayah saat ini juga yang terlalu menekankan tentang 'machoisme' :-), misal: ayah itu fokusnya kerja cari uang, kalau ada waktu luang ikut klub hobi yang sangat laki-laki. Tentunya perubahan tidak bisa terjadi dalam sekejap, perlahan-lahan libatkan ayah, kita ketahui apa yang ayah suka, misalnya: ayah suka aksesoris mobil, utak atik mobil, sarankan ayah untuk mengajak anaknya cuci mobil bersama. Ibu yang paling tahu tentang suami ibu tentunya, yang pasti adalah: awali dengan sesuatu yang juga ayah senang lakukan. Jangan langsung yang sulit, nanti mundur duluan.

(Tanggapan) Suami saya sih nggak 'parah' sih... dengan senang hati jaga anak. Tapi banyak hal masih thoughtless... main bareng agak kurang - harus diingatkan, plus kalau anak ditinggal sama suami, makan dan rutinitas berantakan. Kalo diomongin, istri jadi terkesan tukang bully ϑ Kadang saya mikir, bapak-bapak kenapa sih ga mikir panjang pas lagi ngurus anak? Jadi sebenarnya pertanyaan saya, komunikasi efektif ke laki-laki itu bagaimana- biar tidak terkesan paling pintar/menyinggung ego mereka?

(Narasumber) Saya pikir, siapapun baik ayah maupun ibu tidak senang disalahkan, dianggap tidak bisa dll. kalau soal komunikasi efektif ini memang isu klasik pasangan, mungkin bisa menjadi topik selanjutnya
Kalau saya pribadi dengan istri melibatkan komunikasi saya jadi efektif ke istri ketika saya awali di pikiran saya dengan istilah (I am OK - You (istri) are OK). Ketika saya awali dengan pemikiran kalau ada yang salah dengan istri saya, umumnya komunikasi menjadi tidak efektif. Terkait pengasuhan anak, saya pikir, mari kita masing - masing terlebih dahulu berefleksi bagaimana dulu saya dibesarkan oleh orangtua saya? Karena ini sangat berpengaruh ketika kita saat ini menjalankan peran sebagai orangtua. Pasangan yang dibesarkan dari orangtua terutama ayah yang kurang terlibat tentu akan butuh waktu dan upaya lebih (bukan berarti tidak bisa) untuk lebih terlibat dengan anak. Bukan berarti ayah yang bekerja tidak bisa terlibat. Ayah yang tidak bekerja pun juga belum tentu bisa full mengurus anak. Mengurus anak adalah urusan bersama, bukan full ibu atau full ayah (jika tidak bekerja). Ketika ayah bekerja katakanlah misal: rumah di bekasi, kerja di sudirman, karena kondisi harus pergi pagi - pagi sekali, pulang malam sekali karena macet, nah ketika ayah istirahat di kantor, sempatkan telpon anak atau kirim WA atau sms ke anak. Karena kedekatan anak pada ayah atau ibunya itu tergantung pada siapa mereka lebih bisa selalu bersama, begitu kecenderungannya. Ketika weekend, upayakan berkegiatan dengan anak. intinya adalah ada waktu bersama antara ayah dan anak. Menciptakan RUTINITAS ayah dan anak itu penting, contoh: rutinitas pergi ke taman (jogging) setiap 2 minggu sekali dengan anak, rutinitas cuci mobil bersama, rutinitas ayah membuat burger atau goreng kentang dengan anak, rutinitas makan es krim bersama, dll.
Hal yang pasti adalah ayah bekerja tidak jadi alasan pembenar untuk ayah tidak berinteraksi/berkegiatan dengan anak secara optimal. kalau kita jujur, apakah iya ayah yang bekerja di kantor tidak ada waktu? kalau soal sibuk, ibu rumah tangga pun sibuk.

211 Views
Write your answer View all answers to this question