selasar-loader

Apa yang harus dilakukan orang tua ketika anak menghadapi bullying?

LINE it!
Answered Jan 10, 2018

Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

Qr5hvbcb9DGT25o4Gslc1Mwykalu48FM.png

 

 

1. Tumbuhkan rasa percaya diri pada anak
Adanya perasaan kompeten (“aku bisa”) dan rasa berharga (“aku layak untuk bahagia”) dapat menghindarkan anak dari perasaan lemah dan tidak berdaya, yang membuat anak cenderung menjadi penakut. Ajarkan anak untuk bisa melakukan sejumlah hal secara mandiri, sehingga kepercayaan dirinya pun meningkat. Ia juga perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya, dan merasa didengarkan dengan baik.

2. Latih kemampuan sosial anak
Kemampuan sosial yang dimaksud di sini adalah kemampuan anak untuk dapat menyesuaikan diri di lingkungan, dan melakukan interaksi positif dengan orang-orang yang ditemuinya. Kemampuan ini tidak hanya dibutuhkan untuk mencegah bullying, tetapi juga baik untuk perkembangan psikososialnya. Semakin banyak anak mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak lain, misalnya bermain dengan saudara (kakak, adik, sepupu), tetangga, atau teman-teman di daycare/playgroup/TK, ia akan semakin banyak belajar tentang cara berkomunikasi, berbagi, menyampaikan pendapat, dan banyak keterampilan sosial lainnya.

3. Latih anak untuk menyelesaikan masalah sendiri
Kemampuan anak untuk dapat menyelesaikan masalah (problem solving skills) dapat mengembangkan kemandirian dan kepercayaan dirinya. Ia lebih mungkin untuk terhindar dari pikiran bahwa ia lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, selalu membantu anak juga kurang baik. Apalagi kalau masalah yang dihadapi anak sudah terjadi berkali-kali dan anak selalu minta bantuan. Dorong anak untuk mencoba mencari jalan keluarnya sendiri, sambil tetap diawasi oleh orangtua. Misalnya, mainan anak sering direbut oleh kakaknya dan ia selalu hanya bisa menangis dan mengadu kepada orangtua. Orangtua perlu menegur si kakak, tetapi perlu juga mendorong si adik untuk bisa bicara kepada kakaknya, “Ini mainan aku, jangan rebut” atau “gantian mainnya”.

4. Kembangkan sikap asertif pada anak
Ajarkan anak untuk berani berkata “tidak” dan “jangan” bila ada orang yang melakukan hal tidak menyenangkan kepadanya, misalnya memukul, mengejek, mengambil barangnya dengan paksa. Caranya bisa dengan roleplay tadi, misalnya orangtua pura-pura jadi anak yang membully dan anak didorong untuk berani menolak. Anak juga perlu diajarkan untuk dapat mencari bantuan bila mengalami atau menyaksikan bullying. Ia perlu diberitahu siapa saja yang dapat didatangi untuk mendapatkan bantuan, dan sikap seperti apa yang perlu ia tunjukkan kepada orang yang mem-bully. 
Contohnya, ada salah seorang murid yang sangat peduli pada teman-temannya. Ketika ada anak yang merebut mainan anak lain, ia langsung menegur anak tersebut, “Jangan rebut! Mainnya gantian.” (sikap asertif dan berani terlihat). Ketika anak tersebut mengulanginya, anak yang menegurnya tadi kembali melarang, lalu melaporkannya kepada guru agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Adapun anak yang merebut mainan tadi, memang anak yang biasa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Oleh karena itu, justru ia sangat butuh untuk diingatkan oleh orang lain bahwa cara yang ia gunakan (merebut) itu tidak baik dan membuat orang lain tidak nyaman.

Sebagai penutup, untuk topik bullying ini saya mau merekomendasikan film “Pasukan Kapiten” (2012) dan The Mighty (1998). Kedua film ini bercerita tentang anak-anak yang di-bully karena kekurangan mereka. Tetapi ada anak-anak lain yang mau berteman dengan mereka dan melawan tindakan bullying tersebut. Semoga kita pun berani untuk berkata tidak kepada bullying.

152 Views
Write your answer View all answers to this question