selasar-loader

Apa yang harus dilakukan ketika anak mengalami masalah dalam perkembangannya?

LINE it!
Answered Dec 08, 2017

Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

Kami ingin mengklarifikasi beberapa hal terkait diagnosa psikologis. Kami turut prihatin atas kejadian yang berupa ketidakjelasan diagnosa, sehingga intervensi dilakukan sendiri oleh individu/orangtua. 

Harus diakui memang, pada kenyataan di lapangan, kasus-kasus seperti ini tidak sedikit terjadi, sehingga akibatnya orangtua berpikir, tidak perlu diagnosanya apa, yg penting terapinya. 

Sejatinya, diagnosa yang tepat melalui proses asesmen yang komprehensif sangat diperlukan untuk membuat intervensi tepat sasaran. Hal ini pada akhirnya akan sangat berpengaruh pada waktu dan biaya yg akan dikeluarkan oleh orangtua. Diagnosa harus melalui pemeriksaan yang lengkap, dimulai dari wawancara mengenai perkembangan anak dari sejak kecil, riwayat keluhan, observasi masalah anak (kemampuan dan limitasinya) dan juga membutuhkan alat tes yang valid dan terkadang tidak cukup satu. 

Jika dilihat dari pemaparan sesi sharing dari ibu Nisa tempo hari yang lalu, saya sempat menanyakan di awal, bagaimana riwayat perkembangan anak, dan ketika ternyata tidak ada riwayat keterlambatan dalam aspek motorik, seharusnya diagnosa intellectual disability atau retardasi (kita kenalnya demikian), tidak bisa ditegakkan. Perlu dicek lagi masalah lain seperti tidak adanya kontak mata, sangat aktif, dan aspek lainnya. Jika berdasarkan hal tersebut, alternatif diagnosanya dapat mengarah ke ADHD dan autisme. 

Masalah perkembangan seringkali jika dilihat dari tampilannya saja, akan sangat tumpang tindih, misalnya terlambat bicara, aktif, anak tidak responsif, dapat memunculkan dugaan ADHD, Autisme, dan bahkan gangguan sensori integrasi.

Melalui pemeriksaan, satu persatu kemungkinan diagnosa akan digugurkan, sehingga ditemukan benar-benar akar masalahnya. 
Mengapa hal tersebut diperlukan? 
Karena anak ADHD akan sangat berbeda penanganannya dengan mental retardasi, autisme, gangguan sensori integrasi, dll. 
Anak dengan autisme butuh intervensi modifikasi perilaku, barangkali perlu diet ketat, butuh terapi sensori, dan lain lain. Sementara itu, anak dengan masalah sensori hanya butuh terapi sensori terlebih dahulu, dan anak dengan ADHD membutuhkan psikofarmakologi.

Masalahnya kemudian, bagaimana menemukan ahli yang tepat? 
Layaknya dokter, psikolog pun ada spesialisasinya. 
Yang pertama harus dicari adalah mereka benar-benar mengambil spesialisasi klinis anak. Kenapa perlu? Karena gangguan pada orang dewasa dan anak berbeda, terkait dengan perkembangan anak yang masih berubah sejalan dengan usia. 
Psikolog dewasa, pendidikan, dan industri organisasi tidak belajar psikopatologi anak, alat tes untuk anak, dan perkembangan anak normal. Sama seperti dokter anak tidak belajar tentang THT secara mendalam. 

Selain itu, lihat juga apakah ahli ini melakukan observasi yang cukup, atau hanya sekilas, melakukan interview tentang perkembangan dan riwayat masalah anak, sejak kapan muncul, ada apa sebelumnya saat keluhan muncul, dll.

Second opinion untuk some cases, jika tidak yakin juga diperlukan, sama seperti ketika kita tidak yakin dengan hasil diagnosa dokter, kita cari dokter lain untuk second opinion. Untuk itu orangtua perlu terhubung dengan komunitas pendukung, agar banyak informasi yang bisa didapat.

Satu hal yang penting, penerimaan adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol siapapun. Sebagai praktisi dan orangtua, saya hanya bisa mengingatkan kekuatan komunikasi. Karena dari komunikasi yang intensif antara orangtua dan profesional (baik dokter/psikolog/siapapun) biasanya gambaran perkembangan ananda bisa lebih jelas terlihat. 

Diagnosa yg didirikan pun bisa lebih pas karena semumpuni apapun praktisi, mereka hanyalah manhsia. Data yang lengkap dan keterbukaan sejarah dan kondisi yang jelas, sangatlah diperlukan. 

Terdapat 2 macam diagnosa: Diagnosa utama dan diagnosa comorbid. Diagnosa utama cenderung stabil. Sejauh pengalaman dan pemahaman dari buku, benang merahnya akan selalu ada.

Yang bisa berubah adalah diagnosa comorbid. Mungkin karena istilah tersebut terlalu rumit sehingga kerapkali disebut diagnosa berjalan.

Contoh
Diagnosa utama: autism. Comorbid: intellectual disability. 

Maka mungkin suatu saat bisa menjadi diagnosa utama: autism comorbid ID. 

Diagnosa comorbid pun harus benar-benar yakin, baru diberikan, karena dapat dijelaskan dengan satu diagnosa saja, kondisi anak saat ini, cukup satu diagnosa saja yang diberikan. Meskipun demikian, para ahli pun ada keterbatasannya. Jika memang ragu, silakan cari second opinion. 

Kombinasi pemeriksaan ahli yang tepat, intervensi yang tepat dan orangtua yang mendukung, sangat penting untuk kemajuan anak. Selain itu, di atas segalanya, berserah pada Yang Punya Hidup, bergantung sepenuhnya, memohon pertolongan sebelum mencari dukungan di luar diri, sumber daya yang luar biasa besar untuk kekuatan orangtua. 

Selamat menjalani hari Ayah dan Bunda. 
Apa yang dihadirkan hari ini pada kita, adalah pesan cinta Tuhan untuk kita semua 

289 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored