selasar-loader

Apa itu Mafia Berkeley?

LINE it!
Answered Dec 06, 2017

Zulfian Prasetyo
Pernah belajar keuangan dan bekerja di sektor keuangan.

XJ56xDFUKNQ-iorhWTNJQSkwnq6BXY44.jpg

Pada pertengahan dekade 50, tensi antara pemerintah Indonesia dan Belanda sedang tinggi akibat memperebutkan Irian Barat. Republik Indonesia yang saat itu berapi-api menggelorakan semangat revolusi begitu aktif mengupayakan pembebasan Irian Barat. Tidak main-main, Presiden Soekarno menyerukan Trikora demi merebut Irian Barat dari genggaman Belanda.

Sumitro Djojohadikusumo, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia saat itu, adalah satu-satunya dosen yang memiliki gelar doktor ekonomi. Karenanya, ia meminta bantuan kawan-kawan dosen dari Belanda dan dari fakultas lainnya untuk membantu pendidikan mahasiswa FEUI. Sayangnya, ketegangan hubungan kedua negara berpengaruh langsung terhadap ketersediaan tenaga pengajar asal Belanda. Rekan-rekannya dari Belanda meninggalkan Indonesia. 

Sumitro lalu meminta bantuan kepada Ford Foundation yang kemudian memutuskan untuk mengadakan program beasiswa untuk beberapa mahasiswa FEUI terpilih. Mereka kemudian dikirim ke luar negeri dan belajar di University of California, Berkeley, pada tahun 1957.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1960-an, seluruh mahasiswa yang dikirim telah pulang ke Indonesia, menduduki sejumlah jabatan strategis bidang ekonomi dan keuangan, menentukan kebijakan ekonomi negara pada awal era Orde Baru, serta menghajar habis-habisan inflasi melalui serangkaian kebijakan ekonomi.

Kejeniusan mereka menaklukkan inflasi warisan Soekarno sekaligus menjinakkan ekonomi mendapatkan pujian dari berbagai pihak. Tangan-tangan mereka sukses mengerek ekonomi Indonesia menuju level yang lebih tinggi sekaligus memantapkan nama mereka pada jajaran ekonom top dunia. Kita tentu masih ingat ketika Indonesia mengalami swasembada beras pada awal dekade 80-an. Kita juga ingat bahwa harga seliter bensin jauh lebih murah daripada air minum dalam takaran yang sama.

Namun demikian, tidak semua orang Indonesia menyembah mereka. Sebagian justru mengkritisi pendekatan liberal yang mereka gunakan. Ali Murtopo, Ibnu Sutowo, dan Ali Sadikin adalah contoh jenderal-jenderal yang menentang mereka. Pihak-pihak lainnya juga mengecam mereka dan menilai langkah privatisasi yang mereka lakukan sebagai bentuk penjualan aset-aset bangsa. Oleh David Ransom, ‘anak-anak’ Sumitro ini kemudian dijuluki sebagai ‘Mafia Berkeley.’

Pada perjalanannya, Mafia Berkeley ‘dipakai semaunya.’ Lima tahun pertama Orde Baru, mereka digunakan untuk menyelamatkan perekonomian negara. Harga minyak dunia lepas landas, membuat situasi ekonomi menjadi relatif aman. Soeharto beralih kepada para ekonom berhaluan nasionalis, yang dengan sendirinya membuat jasa Mafia Berkeley tidak digunakan.

Namun, itu bukan akhir kerjasama Soeharto dengan mereka. Para ekonom liberal ini kemudian kembali dipakai saat perekonomian bangsa melambat pada pertengahan dekade 80-an. Saat itu, harga minyak dunia kembali turun. Pada masa kehancuran perekonomian Indonesia akibat krisis moneter yang melanda Asia Tenggara pada tahun 1997, Mafia Berkeley turut dipersalahkan.

 

Ilustrasi via pinterest.com

301 Views
Write your answer View all answers to this question