selasar-loader

Kenapa jika sesama perempuan saling sapa dengan kata "Sayang" itu biasa saja, sementara kalau laki-laki akan dicap gay?

LINE it!
Answered Dec 06, 2017

Fida A
Wakil Ketua BEM Fakultas Psikologi Unpad 2017; Fapsi Unpad 2014

pmXxXvmyy3Mx0Lw7oM6NjwmK60C_nAe-.jpg

Pertanyaan yang cerdas.

Saya tertarik untuk memberikan opini saya untuk pertanyaan ini. Saya akan mencoba untuk menjelaskan prosesnya melalui pendekatan salah satu teori psikologi sosial, yaitu Teori Stigma. 

Kebanyakan narasi sejarah sudah membuktikan bahwa pria lebih dari wanita hampir dalam semua aspek. Salah satunya kemudian diejawantahkan melalui definisi peran bahwa pria bekerja di luar rumah dan wanita merawat anak dan mengurus rumah. Paham itu kemudian terus berkembang hingga mengakar budaya di setiap teritori dunia.

Bukti konkret yang berkaitan dengan perbedaan peran pria dan wanita adalah adanya istilah maskulin dan feminin yang kemudian membagi, dunia pria adalah seperti "itu" dan dunia wanita adalah seperti "ini". Bukti konkret lainya adalah ketika seseorang bayi laki-laki yang dipakaikan baju berwarna pink, maka akan muncul pernyataan bernada ketidaksetujuan atau pertanyaan yang mencoba memahami fenomena "aneh" tersebut. Poin pentingnya adalah dianggap aneh ketika seorang bayi laki-laki mengenakan pakaian bayi perempuan. Pun pada awalnya dianggap aneh ketika ada seorang wanita dewasa yang memilih untuk berkarier ketimbang merawat rumah dan anaknya.

Nah, proses dianggap aneh ini kemudian disebut sebagai fase stereotyping oleh Teori Stigma. Stereotyping yang sudah terlanjur ada di dunia akibat perbedaan peran wanita dan pria yang begitu dikotomus adalah sebagai berikut; pria identik dengan sifat kuat, perkasa, dan tidak mudah menangis, sementara wanita diidentikan dengan sifat penyayang, pengasih, dan manusia yang penuh cinta (walaupun nyatanya, ada saja pria dan wanita yang tidak sesuai dengan stereotype).

Implikasi dari stereotype yang telah terbangun tersebut adalah ketika seorang pria menggunakan atribut-atribut wanita (termasuk seorang pria yang menggunakan kata "sayang" untuk memanggil pria lainya) akan membuat pria tersebut kehilangan atribut maskulinitasnya. Alasannya, kata sayang yang digunakan untuk memanggil sesama jenis adalah atribut wanita (ingat, stereotype wanita adalah makhluk yang penyayang dan penuh cinta). Nah, "kesalahan" dalam penggunaan atribut (pria menggunakan atribut wanita dan juga sebaliknya) akan memicu pandangan negatif, bahkan emosi negatif terhadap pelaku. Proses kemunculan pandangan negatif atau bahkan emosi negatif tersebut kemudian disebut oleh teori sebagai fase stigmatization.

Kemunculan emosi negatif dan pandangan negatif tersebut lalu berdampak pada ketersediaan alasan untuk memperlakukan pelanggar dengan perilaku yang tidak baik, seperti hak-haknya tidak dipenuhi secara sengaja. Salah satu bentuk dari perilaku tidak baik adalah dengan dicela, dicemooh, dan dihina.

Kembali ke kasus pria yang kemudian memanggil pria lain dengan panggilan "sayang" (yang notabene adalah atribut wanita). Tindakan itu kemudian akan memicu perlakuan tidak baik melalui penghinaan berupa kata-kata "Gay, lu!" dan sebagainya. Berkebalikan dengan itu, ketika wanita terlalu banyak menggunakan atribut pria, maka hinaan atau cemoohan yang muncul adalah "Tomboi, lu!" dan sebagainya. Nah, proses itulah yang kemudian oleh teori gambarkan sebagai fase "discimination".

Semoga menjawab! :)

 

Ilustrasi via snwebcastcenter.com

1197 Views
Write your answer View all answers to this question