selasar-loader

Seberapa penting mengajarkan empati pada anak?

LINE it!
Answered Dec 04, 2017

Komunitas Anak Pintar
Akun resmi Anak Pintar, tempat berkumpulnya anak-anak indonesia

 

mZYIP64tXdFouStpPT6liO2_OrPjZSyh.jpeg

 

Jika suatu ketika, ayah bunda melihat anak ayah bunda secara sukarela membantu menenangkan temannya yang sedang sedih. Hal tersebut tentu membuat ayah bunda berbahagia karena hal tersebut mencerminkan bahwa anak ayah bunda telah menunjukkan contoh perilaku empati. Lalu, apakah yang sebenarnya dimaksud dengan empati? Bagaimana cara membangun empati pada anak? Apa yang harus diperhatikan oleh orangtua? Mari kita kulik satu persatu.

Empati merupakan sikap yang ditunjukkan untuk memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain. Termasuk di dalamnya kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain dan kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain.
(Gambar Iluatrasi)
Jika melihat ilustrasi sebelumnya, seorang anak sedang membantu menenangkan temannya yang sedih. Dapat dengan cara memberikan minum, permen, atau sekedar menghibur dengan kata-kata penyemangat. Hal tersebut berarti menunjukkan bahwa anak sedang berusaha memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh temannya. Ketika tahu temannya sedang bersedih, anak merasa temannya perlu dihibur sehingga ia pun menghibur temannya..
Kita kerapkali mendengar istilah empati dan simpati. Barangkali ayah bunda ada yang belum terlalu mengerti perbedaan dari kedua kata tersebut. Bisa dilihat di slide mengenai penjelasannya..

Untuk lebih memahaminya, saya coba jelaskan dengan contoh. Misalnya ada teman yang sedang bersedih karena sedang mengalami musibah kematian orang terdekatnya. Jika respon yang diberikan adalah simpati maka anak hanya akan mengekspresikan emosinya dengan ikut menangis bahkan bisa lebih sedih dari temannya..ia dapat terlarut dalam emosi. Namun, jika respon yang diberikan adalah empati, maka anak mengekspresikan kesedihannya namun tidak terlalu berlarut-larut dan mampu melakukan sesuatu yang dapat mengurangi kesedihan temannya. Misalnya dengan menghibur atau menawarkan bantuan konkrit.

Empati merupakan soft skill yang sangat penting untuk diajarkan kepada anak karena memiliki banyak sekali manfaatnya. Empati merupakan landasan penting dalam membangun kepedulian anak-anak terhadap orang lain. Selain itu, menurut penelitian jangka panjang, anak-anak yang empatik cenderung untuk berbuat lebih baik di sekolah, dalam situasi sosial, dan dalam berkarier ketika mereka telah dewasa.
Sebenarnya anak telah mampu menunjukkan kemampuan empati dasar sejak masih berusia 18 bulan. Pada usia tersebut, anak telah mulai menguasai kemampuan memahami perasaan orang lain. Jadi di usia tersebut anak sudah tahu ya ayah bunda, kalau orangtuanya sedang bersemangat, gembira, lelah, sedih, marah, dll.. Nah, ketika memasuki usia 2 tahun atau usia dimana anak sudah mampu berkomunikasi sosial, disitulah kita sudah bisa untuk mengajarkan empati kepada anak. Berlanjut ke tahapan usia prasekolah hingga sekolah dasar, anak dapat terus diajarkan untuk membangun sikap empati pada dirinya.

Lalu bagaimana cara membangun sikap empati pada diri anak? Berikut tips-tips yang dapat dilakukan oleh ayah bunda. Pertama, bantu anak untuk mengenali dan memahami emosi dirinya sendiri terlebih dahulu. Caranya adalah dengan sering menanyakan mengenai apa yang dirasakan, misalnya: “abang lagi kesel ya karena teman-teman mainnya curang?”, “adik senang ya dapat kado dari kakek?”, dll.
Orangtua juga dapat membiasakan 3 kata ajaib kepada anak: 'Maaf,
Tolong, dan Terima Kasih'. Membiasakan anak sedari dini mengucapkannya
akan membuatnya tumbuh menjadi anak yang kemampuannya memahami orang
lain di atas rata-rata.
Orangtua tidak harus menyediakan waktu khusus untuk mengajarkan empati
pada anak, melainkan bisa juga disisipkan dalam kegiatan bermain,
mendongeng, menonton film, dan ketika belajar agama. Tentu semua agama
memiliki nilai ajaran yang baik, termasuk mengajarkan empati di dalamnya.
Agar empati lebih cepat tertanam pada diri anak, juga dapat dilakukan
kegiatan bersama seperti mengajak anak membantu mengerjakan pekerjaan
rumah tangga sederhana, menjenguk keluarga/teman yang sakit, dan
berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Disini adakah ayah bunda yang anaknya senang memelihara hewan?
Ternyata hobi tersebut juga dapat melatih kepekaan anak terhadap
kondisi orang lain.
Terakhir, cobalah untuk perspective-taking. Ketika anak terlihat melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada orang lain, misalnya mengejek temannya yang bertubuh gemuk..lakukan dialog dengan anak, “kalau kamu yang badannya gemuk..terus ada yang mengejek kamu, kira-kira kamu gimana perasaannya? Senang ga sama teman yang ngejek itu..dll” sehingga anak dapat mengambil sudut pandang dari sisi
yang lain.

Hal yang harus diperhatikan dalam membangun empati anak adalah KETAULADAN (orangtua tidak hanya menasehati, namun juga mencontohkan dalam kesehariannya), 
KONSISTEN (tentu membangun empati anak tidak hanya terjadi dalam satu malam, maka upaya orangtua pun juga harus terus menerus), 
HARGAI PROSES (terkadang usaha kita mengajarkan empati kepada anak dapat langsung tertangkap dengan baik oleh anak, namun terkadang juga sulit bagi anak, tetap hargai proses itu dan jangan membandingkan progress anak dengan orang lain), dan
APRESIASI (berikan hal yang menyenangkan ketika anak telah menunjukkan sikap empati. Hal yang diberikan bisa apa saja sesuai dengan kesenangan anak).

233 Views
Write your answer View all answers to this question