selasar-loader

Bagaimana Islam memandang uang dan harta dunia?

LINE it!
Answered Nov 21, 2017

Ma Isa Lombu
Kadang Skeptis, Seringnya Rasional

XzSzquGSdUfEUMoiB91j-L5Ps3AW_atb.jpeg

Saya ingin mengawali jawaban ini dengan sebuah cerita ketika saya masih duduk di bangku kuliah beberapa tahun silam.

Saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi (dan Bisnis) UI. Seperti layaknya institusi lain, FEUI pun tidak lepas dari segala keunikannya, baik tuduhan miring ataupun pujian yang melekat padanya. Fakultas tua ini sering disebut sebagai tempat belajarnya para menteri dan para arsitek ekonomi Indonesia, sarangnya mafia Berkeley, sampai gembong pemuja kapital. 

Menarik, saya pikir.

Tuduhan miring itu ternyata datang dari fakultas sebelah. Tidak jauh. Masih tetangga rumpun intelektual.

Dikarenakan banyak sekali lulusan FEUI yang bekerja di perusahaan besar ataupun mendirikan bisnisnya sendiri, maka pujian "antek kapitalis" menjadi makanan kami sehari-hari. Apalagi waktu itu adalah masa-masanya perjuangan dan demonstrasi mahasiswa yang antikemapanan. Berbeda sikap tentang kebijakan ekonomi ataupun menolak ikut melakukan aksi turun ke jalan karena berbeda sikap politik, menjadi hal yang biasa kami lakukan. Khas mahasiswa FEUI yang (katanya) antek kapitalis itu.

Saya pikir, cukup banyak juga scholars yang secara serampangan menuduh bahwa kapital adalah biang kerok terjadinya permasalahan sosial yang ada. Apakah benar demikian?

Untuk itu, izinkan saya membuat pledoi-nya di sini.

Perlu diketahui bahwa perusahaan besar yang berusia lebih dari 50 tahun (seperti GE dan Unilever) adalah bukti bahwa kapital bersifat netral. Melalui kapital (modal) yang besar, baik GE ataupun Unilever dapat melakukan proses value creation (baca: memberi manfaat) dengan menciptakan produk-produk yang inovatif untuk menyelesaikan permasalahan ras manusia.

Melalui inovasi teknologi, GE sanggup membawa manusia dari kegelapan menuju terang, sedangkan Unilever sanggup membuat makhluk bumi ini hidup lebih bersih dan wangi.

Coba bayangkan apabila kedua perusahaan besar tersebut tidak melakukan proses value creation, niscaya kedua perusahan itu akan mati di masa-masa awal kemunculannya. Value creation jelas membutuhkan kapital. Di sanalah kapital berperan dalam proses pembangunan peradaban manusia.

Dari cerita ini, dapat kita simpulkan bahwa kedudukan kapital/modal/uang adalah netral, sebagaimana pisau dan morfin. Jika digunakan untuk tujuan yang baik dan dengan cara yang baik, pisau akan menjadi perangkat yang efektif untuk membuat masakan yang lezat. Ketika digunakan secara tepat guna, morfin juga akan menjadi obat penahan sakit yang efektif di masa perang.

Saya pikir, begitu juga cara Islam memandang uang/harta.

Sebagai bagian dari produk kebudayaan, uang dan harta hanyalah tools untuk mencapai tujuan memakmurkan bumi dan memberi manfaat untuk sesama. Ini seperti amanah khalifah yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

Menariknya adalah, kadang di satu waktu dan tempat, kedudukan uang menjadi tidak begitu penting dan signifikan. Tapi di waktu dan tempat yang lain, kepemilikan atas uang menjadi begitu strategis.

Dalam sebuah observasi singkat yang pernah saya lakukan, ternyata saya melihat bahwa terdapat korelasi positif antara atribut dan daya tawar (bargaining position) yang dimiliki seseorang.

Contoh, ketika saya SMA dahulu, siswa yang pandai berolahraga lah yang paling dianggap di sekolah. Kondisi itu berubah ketika saya masuk kuliah. Di kampus, mahasiswa yang aktif dalam kegiatan organisasi dan sering melakukan demonstrasi lah yang memiliki daya tawar tinggi, dibandingkan mahasiswa lainnya. "Atribut" tersebut belakangan berganti dengan keikutsertaan mahasiswa pada international conference ataupun ketika mereka memiliki project teknologi tertentu.

Lain SMA, lain kuliah, lain pula kondisinya pada lingkungan masyarakat. 

Masih berdasarkan pengamatan sederhana saya, ditemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan bahwa (ternyata) orang yang kaya memiliki daya tawar yang lebih baik di masyarakat dibandingkan golongan masyarakat lainnya, seperti orang yang memiliki gelar akademis yang berjubel, bahkan dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki kapasitas spiritual yang mumpuni sekalipun.

Mudahnya, dari pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa suara orang kaya lebih diakomodasi secara sosial dibandingkan dengan profil orang-orang lain di masyarakat.

Berkaitan dengan Islam dan dakwah, jika hipotesis ini terbukti benar, maka hanya muslim yang mengenal medan dakwahnya dengan baik yang dapat melakukan proses dakwah secara lebih efektif. Mengapa? Karena ia berdakwah berdasarkan karakteristik khusus masyarakatnya. Karena ia berdakwah sesuai dengan cara bagaimana dunia ini bekerja.

Konsisten dengan hasil pengamatan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hanya anak ROHIS SMA yang jago futsal/basket lah yang lebih didengar suara dakwahnya dibandingkan dengan anak ROHIS SMA yang bergabung dalam klub sains. Di lingkup kampus, pesan dakwah yang keluar dari pemenang Harvard MUN (Model United Nations) akan jauh lebih efektif tersampaikan dibandingkan dengan pesan dakwah dari anak musala saleh yang tiap hari nongkrong di masjid kampus. 

Senada dengan hal tersebut, maka dapat juga disimpulkan bahwa seorang juru dakwah yang memiliki banyak uang akan lebih efektif mengajak masyarakat lainnya untuk bersama-sama membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan profil muslim yang miskin, meski pribadinya saleh.

Bargaining position yang merefleksikan "kekuatan" itulah yang disebutkan dalam hadist Nabi berikut ini.

Dari Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Seorang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan masing-masing keadaan tersebut terdapat kebaikan. (Oleh karena itu maka) bersungguh-sungguhlah kamu dalam perkara yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam meraihnya) dan jangan kamu lemah...(HSR. Muslim rahimahullahu dalam shahihnya no. 6945, Maktabah Syamilah)."

Secara ilmiah, korelasi positif antara "atribut material" dengan daya tawar ini dapat dijelaskan melalui framing theory, salah satu komponen penyusun konsep behavioral economics yang sedang naik daun belakangan ini.

Dalam teori itu, disebutkan bahwa manusia seringkali mengalami bias penilaian. Manusia kerap menilai substansi suatu masalah secara tidak objektif. Mereka hanya menilai berdasarkan pada bagaimana hal tersebut dipresentasikan (terlihat). Untuk itulah, wajar jika "atribut" menjadi suatu variabel yang menentukan "wajah presentasi" seseorang.

Begitu pula peran atribut uang dalam kancah dakwah politik yang ada di Indonesia.

Mungkin ada kawan-kawan yang belum tahu bahwa sebenarnya gerakan Islam di Indonesia tidak pernah lepas dari onak dan duri (bahasa grup nasyid era 90-an).

Pembubaran Partai Masyumi oleh rezim Orde Lama menjadi anak bawangnya partai politik Islam di era Orde Baru, pengejaran aktivis dakwah pada tahun 80an, sampai tuduhan teroris dan fundamentalis adalah makanan sehari-hari gerakan Islam di Indonesia. 

Untuk itulah, sangat wajar ketika para dai yang berkiprah di ranah politik melakukan improvisasi untuk dapat me-leverage daya tawar politiknya dengan dengan tidak hanya mengaji di surau dan musala, tetapi juga mendirikan partai politik, bahkan sampai harus menonjolkan kepemilikan atribut tertentu agar terlihat lebih baik sehingga dapat dianggap sebagai bagian utuh dalam ekosistem politik yang ada.

Perlu diketahui bahwa survive dan berkembang dalam kehidupan politik di dunia ini (begitu juga di Indonesia) bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan strategi yang jitu, kekinian, dan memiliki pemahaman medan yang baik untuk dapat memenangkan "kompetisi" ini dan akhirnya dapat menegakkan kalimat Allah di setiap kebijakan dan program yang ada. 

Coba bayangkan jika lingkungan politik yang dinamis, penuh intrik, dan sarat akan kemewahan dunia ini direspon secara tidak tepat. Alih-alih mau survive dan berkembang, jangan-jangan para dai yang menjadi anggota dewan itu justru tidak dianggap ketika mau berbicara.

Miris!

Tidak hanya itu, kesalahkaprahan memahami medan dakwah inilah bahkan menjadi challange bagi sejumlah dai politik di komunitas dakwahnya sendiri. Tidak jarang fitnah dan prasangka "sudah keluar jalur" datang dari kawan seperjuangan kepada dai-dai politik yang berstrategi dengan kepemilikan atribut duniawi ini. Bahkan beberapa tahun lalu, ketika seorang dai politik membeli Alphard untuk kendaraan operasionalnya, huru-hara dan gosip politik pun terjadi dengan cepat di kalangan sesama aktivis dakwah. 

Si dai dicap macam-macam, mulai dari lupa grass root sampai digolongkan dalam faksi "hamba dunia". Bahkan, ada juga yang membandingkan aksi si dai yang membeli mobil mewah tersebut dengan kezuhudan Umar yang dengan pakaian seadanya tidur di bawah pohon kurma setelah pasukannya mengalahkan imperium Persia dan Romawi yang adikuasa saat itu.

Jika mau berpikir lebih fair, tidaklah terlalu tepat membandingkan Umar bin Khattab dengan si dai pembeli Alphard. 

Buat saya, wajar saja Umar bersikap super zuhud seperti itu karena bargaining position yang dimiliki Umar dan umat Islam kala itu sudah besar. Bahkan sangat besar. Tentu tidak relevan dan mubazir jika Umar berlagak kuat dan berpengaruh di sebuah lingkungan yang secara nyata sudah menganggap bahwa Islam adalah kekuatan yang sangat besar.

Berbeda dengan keadaan yang terjadi di politik Tanah Air. Kala itu bargaining position parpol Islam dalam ekosistem politik Indonesia masih kecil. Parpol Islam adalah anak bawang yang masih minim daya tawar. 

Untuk itulah agar dapat meningkatkan daya tawar dan agar dapat berbicara "sesuai dengan bahasa kaumnya", wajar jika si dai memutuskan untuk "mengelabuhi" lawan bicara dengan memiliki atribut sosial (baca: mobil mewah) yang diharapkan dapat mempermudah dirinya untuk masuk dan menginfliltrasi komunitas politik Tanah Air, yang gemerlap dengan atribut dunia tersebut, dengan pesan dakwah.

Lihat lagi framing theory yang saya sebutkan di atas.

Lalu, apakah strategi dakwah di dai pembeli Alphard tersebut sudah benar dan tepat? Tidak ada yang punya jawaban pasti. Yang jelas dan yang saya ketahui, setelah strategi tersebut dilakukan, si dai langsung dapat diterima oleh komunitas politik Tanah Air dan oleh para politisi (yang berhamburan harta dunia), si dai dianggap sebagai bagian dari mereka. 

Saya pikir, hal tersebut merupakan langkah cerdas yang patut diapresiasi untuk dapat melakukan proses dakwah politik selanjutnya.

Sebagai penutup jawaban ini, saya ingin mengingatkan bahwa Islam merupakan agama yang syamil, kamil dan mutakamilSyamil di sini memiliki arti bahwa Islam merupakan ajaran yang bersifat menyeluruh tanpa dibatasi ruang dan waktu. Kamil berarti ajaran yang dibawa oleh Islam telah sempurna dan mencakup seluruh lini kehidupan. Mutakamil berarti Islam merupakan agama penyempurna dari agama-agama sebelumnya yang telah dibawa oleh para Nabi pendahulu. 

Membatasi Islam hanya dengan aspek-aspek ukhrawi dan afterlife semata tanpa melihat bahwa dunia adalah ladang amal yang harus digarap adalah sebuah bentuk sekularitas lain yang harus dihindari.

Dunia ini harus ditaklukkan (dengan cara duniawinya sendiri), bukan ditingggalkan.

Senada seperti yang nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan,

Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu (Shahih Muslim No.1366).

487 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia