selasar-loader

Mengapa Setya Novanto melawan begitu keras?

LINE it!
Answered Nov 17, 2017

Rabu (15/11/2017) malam Komisi Pemberantasan Korupsi menerbitkan surat perintah penangkapan untuk Ketua DPR Setya Novanto. Upaya KPK menangkap Novanto terbukti dengan tibanya penyidik KPK di kediaman Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu sekitar pukul 21.40. Namun, kabar mengejutkan kemudian disampaikan Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin yang keluar dari kediaman Novanto. Wahyudin menyampaikan kepada wartawan bahwa Novanto tidak berada di dalam rumah. Novanto yang terjerat kasus korupsi saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar itu pun tak diketahui keberadaannya sampai saat ini. (Kompas.com)


Gregorius Reynaldo
komunikasi itu kewajiban, menulis politik itu panggilan dan passion

hcRyameUp6V4ZibJ1vpYdVTzsmk5jug4.jpg

"Melawan" dalam konteks pertanyaan ini saya baca sebagai bentuk perang yang sedang terjadi antara KPK dengan Setya Novanto. Di satu sisi, Novanto dianggap salah dan tidak etis dengan kelitan dan kegesitannya yang sering mangkal. Di sisi lain, muncul opini bahwa KPK seperti ngotot dan terburu-buru menetapkan Setya Novanto, orang nomor satu di DPR, sebagai tersangka.

Perang ini tentu saja merupakaan lanjutan dari polemik penguatan dan pelemahan KPK yang juga membuat DPR dan KPK berseteru. Setelah status tersangka Setya Novanto dianulir oleh Hakim Tunggal Cepi Iskandar dalam sidang praperadilan 29 September 2017, KPK kini mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru terhadap Ketua DPR tersebut dan kembali menetapkannya sebagai tersangka tidak lama setelah putusan praperadilan keluar.

Dalam Undang-undang, sah saja jika Setya Novanto melawan, mulai dari melakukan gugatan atau memanfaatkan pemanggilan dan penjemputan paksa (pada akhirnya). Semua hal tersebut merupakan sahih dan bisa diwajarkan. "Melawan" terhadap KPK juga bisa saja diartikan sebagai bentuk standing position Setya Novanto yang ingin membuktikan bahwa dia tidak bersalah, sebagaimana opini publik yang beredar (ketika ditetapkan tersangka, maka publik langsung menjustifikasi Setnov terlibat dalam proyek bancakan dana e-KTP yang bernilai 2,3 triliun tersebut).

Sejauh ini, perlawanan yang dilakukan Setnov adalah mangkir dari pemanggilan KPK dengan alasan sakit, disertai dengan bukti foto yang sudah beredar di masyarakat serta melalui pernyataan orang-orang terdekatnya. Di mata hukum, hal ini legal saja, apalagi sakit yang diderita Setnov cukup akut. Yang perlu kita lakukan adalah mendoakannya dulu agar sembuh.

Namun dari semua drama perang antara KPK dan Setnov yang semakin panas, sikap Setya Novanto merupakan sebuah sikap yang kurang etis untuk ukuran seorang pejabat setingkat Ketua DPR. Logikanya, jika Setya Novanto benar-benar menganggap dirinya tidak bersalah, dia harus hadir. Tidak perlu mangkal atau berkelit. Upaya tersebut dibaca oleh masyarakat sebagai sebuah bentuk ketakutan. Setya Novanto takut mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jika opini publik tersebut salah, yang saya takutkan justru mencemari nama partai politik dan citra DPR.

 

Ilustrasi via kompas.com

419 Views
Write your answer View all answers to this question