selasar-loader

Pemerintah selama ini cenderung menjalankan kebijakan energi yang business as usual. Apa pandangan Bapak terhadap implementasi teknologi masa depan dalam pemerintahan ini?

LINE it!
Answered Nov 08, 2017

Arcandra Tahar
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia

Kebetulan minggu lalu, saya berkesempatan mewakili Bapak Presiden bersama kepala BKPM untuk hadir di forum Investment Initiative di Riyadh. Di situ, dibahas tentang visi ke depan negara yang sangat identik dengan minyak: Arab Saudi.

Kalau tidak salah, proven reserve mereka itu boleh dibilang nomor dua terbesar di dunia. Nah, kalau Arab Saudi yang punya cadangan sebesar ini saja concern terhadap teknologi masa depan, apa inisiatif yang muncul dari crown prince-nya?

Mereka berniat membangun tempat baru, smart city, yang fokus ke empat hal. Yang pertama adalah internet of things. Yang kedua, artificial intelligence. Yang ketiga, robotics. Yang keempat, bio energy. Empat hal. Mereka fokus. Dan itu membutuhkan investasi. Kota baru ini bernama Neom. Investasinya sekitar 500 billion dollars.

Bagaimana dengan kita?

StfxiZtSLCPppaT3wCu2cfSCzO4hCS8t.jpg

Selama ini, kita selalu mendengar arahan dari Bapak Presiden, namun fokusnya masih seputar stabilitas harga bawang merah, bawang putih, dan cabai. Padahal, dunia di luar kita sudah mulai bicara yang sangat ‘ke depan’; quantum leap. Mereka bicara tentang internet of things, pengolahan big data, serta bicara tentang artificial intelligence. Nah, coba kita bayangkan juga Silicon Valley dengan Tesla-nya, dengan Space-X-nya. Kapan kita di pemerintahan, khususnya di bidang energi, bisa bicara tentang hal-hal ini?

Menurut pandangan saya, kalau kita tidak mau ketinggalan dengan negara-negara lain di masa depan, mulailah kita bicara dari sekarang; teknologi apa yang cocok untuk negara kita? Adakah teknologi yang di negara lain tidak dibutuhkan tapi justru dibutuhkan di negara kita?

Ada! Saya temukan itu.

Ini adalah suatu contoh di bidang energi. Sebelum lebaran, saya berkunjung ke daerah-daerah untuk mengecek persiapan kebutuhan kita, kebutuhan BBM, pasokan listrik, dll di Riau. Di sana, kami ditanya. “Pak, Riau ini kan lumbungnya energi. Tapi kenapa ya, listrik kita sering mati? Apakah beban terpasang lebih besar daripada beban puncak?”

Ternyata, tidak. Beban puncaknya lebih kecil daripada beban terpasang. Ada margin-nya. Lantas, kita lihat lagi, apakah ini masalah distribusi atau gardu induk? Nah, di situ baru terungkap. Kita punya interkoneksi dari Lampung ke Aceh yang nanti insya Allah akan selesai semuanya, di mana tower kita yang 500 kv dan tinggi-tinggi itu harus dicek. Distribusinya juga kita cek. Kalau hari hujan, gangguan alam, mereka tumbang, dll. Ini menyebabkan listrik padam.

Nah, yang menariknya, apa kebutuhan teknologi kita di sini?

k5f3wEziDYp2eSASEDjPo7fJ3re_UwMu.jpg

Tower ini harus dicek oleh manusia. Manusia harus datang satu per satu. Bayangkan, ini dari Lampung sampai Aceh! Berapa banyak manusia yang harus mengecek itu? Apakah ini akan menambah lapangan pekerjaan? Iya. Tapi kenapa harus dicek?

Karena, ternyata, beberapa tower kita ini digergaji. Kalau digergaji, ya jelas jaringannya terputus. Bukan karena pasokan energinya tidak ada, melainkan karena jaringannya yang terputus.

Coba lihat, di zaman millenials, ada tidak teknologi "tower listrik antigergaji"?

Orang bicara Tesla, boleh. Orang bicara Space X, boleh. Orang bicara Hyperloop, boleh. Tapi kalau kita datang ke Amerika dan minta, “Sir, Indonesia butuh teknologi tower antigergaji.” Pasti tidak ada. Kenapa? Karena tidak terpikirkan oleh mereka bahwa infrastruktur yang mereka bangun itu dirusak oleh masyarakatnya sendiri. Nah, untuk itu, kita sebagai bangsa perlu mencari teknologi-teknologi yang hanya dibutuhkan oleh kita.

Coba kita ke Eropa, tanyakan lagi, “Saya butuh teknologi tower antigergaji.” Tidak ada. Yang butuh cuma kita. Nah, mulailah kita di bidang energi bicara tentang teknologi yang hanya kita yang butuh. Ke depan, kita lihat, apakah kita bersama-sama mau mencari/memulai/mengembangkan teknologi-teknologi yang kita butuhkan sekaligus memberikan nilai tambah bagi negara lain?

Nah, karena bidang saya di energi, mari kita juga mulai fokus, untuk bidang energi ini, apa IoT-nya? Apa ini AI-nya? Mungkinkah ada AI yang bisa dipakai untuk tower antigergaji? Saya tidak tahu. Mungkin.

Kita punya cadangan, katanya, kita punya resources di laut dalam untuk oil and gas. Remote. Daerah timur. Ada tidak teknlogi di luar sana yang bisa kita aplikasikan di sini?

Yang juga tidak kalah penting adalah kesiapan kita untuk menerima perubahan. Kadang-kadang, teknologi itu mengubah culture kita. Nah, kalau kita tidak siap dengan perubahan teknologi, ingat, sekarang kita lagi ribut dengan disruption. Macam-macam disruptive-nya. Nah, kita kaum muda dan terutama Selasares juga harus waspada. Ke depan, harus bisa adaptif terhadap perubahan yang terjadi.

Kebetulan saya berkesempatan kemarin ke UEA, Abu Dhabi, dan menemukan fenomena yang sama dengan di Indonesia. Ada disruption of sport juga tidak, di Indonesia? Kok saya melihat juga ada ya, disruption di sisi sport. Sebagai contoh, beberapa toko sport yang menjual peralatan tenis makin lama makin tidak ada di Jakarta. Kenapa? Karena yang suka tenis itu ternyata berusia 50 tahun ke atas. Yang muda-muda, saya tidak merasa tahu tuh, yang suka tenis. Apakah ini disebut disruption di sisi sport? Saya tidak tahu. Nah, ini juga harus kita waspadai.

Disruption itu terjadi di mana-mana. Untuk itu, Selasares harus adaptif dengan kemajuan teknologi.

Jawaban saya juga ada versi videonya. Klik video di awal jawaban saya. Terima kasih.

542 Views
Write your answer View all answers to this question