selasar-loader

Mengapa hujan identik dengan bau tanah?

LINE it!
Answered May 01, 2017

Naufan Nurrosyid P
Pernah menjadi tukang bebersih di Lab TheoComp ITB

l-Gy-CFU3lerR4tlxL1TUEqCHDLZxVCB.jpg

Ingatkah Anda ketika sedang berpiknik di taman ditemani kopi hangat, roti bakar, dan mendungnya awan, tiba-tiba tercium aroma magis pertanda akan turun hujan?

Atau ketika terbangun dari lelapnya tidur dan melihat ke luar cendela ada gerimis pagi hari dengan aromanya yang memikat?

Beberapa dari kita menganggapnya sebagai aroma alami hujan, tetapi sebagian lagi menciumnya sebagai wewangian tanah yang melegakan.

Dan kisah tentang aroma hujan itu dimulai dari kemampuan hidung kita yang dapat mencium jutaan bau yang berbeda. Dengan menyambungkan aroma-aroma tersebut melalui saraf olfaktori dalam otak, sistem limbik (juga dalam otak) dapat menyimpan berbagai jenis wewangian ke dalam sistem memori dan emosi kita. Seperti aroma rumah nenek di kampung, aroma Si Meong, kucing kesayangan di rumah, juga aroma tentang hujan.

Hujan, seperti yang kita ketahui adalah tetes-tetes air yang jatuh dari langit akibat siklus air. Dan air sendiri tidak memiliki bau yang khas. Tetapi mengapa terkadang hujan berbau seperti tanah?

Aroma hujan ini dikenal di dunia ilmiah dengan nama Petrichor.

Petrichor tidak serta merta muncul hanya karena hujan. Fenomena ini dimulai ketika material organik (contoh: daun) yang terdekomposisi di tanah kering terbawa angin dan jatuh ke bebatuan atau ke tempat lain yang mengandung mineral.

Ketika material organik tersebut terakumulasi dan bersenyawa dengan berbagai mineral baru, beragam molekul pembawa aroma tanah terbentuk, seperti palmitic acid dan stearic acid.

Ketika hujan turun, molekul-molekul pembawa aroma petrichor tersebut terangkat akibat gaya jatuh bebas dari hujan. Ya, mirip ketika kita memukul meja dengan bekas rautan pensil di atasnya.

8OfXeb-3YmJ91WIPUxdn9cv-Ybkx6CeH.jpg

Apabila tidak ada hujan, senyawa kimia tersebut tetap berada di dalam tanah. Senyawa-senyawa ini dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan sebagai sinyal untuk menahan pertumbuhan. Karena jika masih banyak petrichor dalam tanah, hujan belum turun. Yang berarti tidak ada air dalam tanah.

Dengan demikian mereka akan menahan akarnya agar tidak tumbuh atau menahan bijinya agar tidak berkembang. Menarik bukan?

Actinomycetes, bakteri dalam tanah liat juga ikut berkontribusi terhadap petrichor ini. Actinomycetes dapat mengeluarkan senyawa kimia yang menghasilkan aroma mirip tanah, geosmin. Gesomin terbentuk saat bakteri tipe ini memproduksi sporanya.

wFLKCOGPu-8i9PR5ZI2srF4wCL0kiRUx.jpg

Oh satu lagi. Selain aroma tanah yang terbentuk dari dua proses di atas, ada senyawa lain yang beraroma, yang dapat tercium ketika hujan akan turun, yaitu Ozon (O3).

Sebelum hujan deras turun, petir yang mengandung muatan negatif sangat tinggi dapat memecah gas oksigen (O2) menjadi dua buah atom Oksigen.

Satu atom oksigen yang bebas tersebut dapat berinterkasi dengan gas oksigen lainnya dan membentuk gas ozon (O3). Gas ozon ini bisa tercium ketika terbawa turun oleh angin dan masuk ke sistem penciuman kita.

CJBB1efePM9xbC3DeSxVuKbO6JACZ9Cm.jpg

Okay, kembali ke Petrichor. Aroma petrichor ternyata juga digunakan sebagai sinyal adanya oase bagi unta yang sedang menyusuri padang pasir. Petrichor juga digunakan sebagai sinyal dimulainya musim bertelur bagi beberapa jenis ikan danau. Maka ketika Anda merasakan emosi akibat aroma hujan, itu wajar. Sangat wajar.

Jadi ketika langit mendung dan mulai turun gerimis, pandangilah bebatuan dan cobalah berpikir. Sinyal apa yang dikirimkan mereka kepada Anda untuk sang kekasih?
:)

624 Views
Zulfian Prasetyo

Aih... aku padamu, Mas.  May 1, 2017

Naufan Nurrosyid P

Yok Mas
:v
  May 2, 2017

Erin Nuzulia Istiqomah

heeeeeh!  May 3, 2017

Write your answer View all answers to this question