selasar-loader

Apa benar ada upaya memasangkan Jokowi dan Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019?

LINE it!
Answered Nov 03, 2017

Miftah Sabri
Pendiri dan CEO Selasar

6xNZUOmDExnhmiqA0fdogOiBM2okWUC-.jpg

Ada dan Tiada! 

Saya tidak mengenal Pak De Jokowi dan juga tidak mengenal (Mas) Gatot Nurmantyo. Tapi saya banyak mengenal teman-temannya Pak De dan juga teman temannya Mas Gatot. Jadi jawaban saya ini akan saya dasarkan dari keterangan keterangan temannya Pak De dan teman temannya Mas Gatot yang saya coba rangkai jadi satu model kesimpulan kemungkinan. Supaya sidang pembaca sekalian bisa memahami konteks nya, jawaban saya seputar ruang kemungkinan tersebut. 

Dari sisi Pak De, Gatot tentu adalah salah seorang ruang kemungkinan yang bisa dia buat lebih besar dan menguntungkan dirinya. Mas Gatot adalah Panglima yang dia angkat. Artinya, pulung bintang yang ada di pundaknya didapat dari restu Pak De. Pak De paham betul dengan bagaimana logika pulung bekerja. Dengan memberi jalan pulung dari kekuasannya ke pundak Mas Gatot, Pak De bisa memastikan Mas Gatot akan lebih loyal dibandingkan orang orang yang dikenal hanya karena persekutuan politik. 

Dalam perjalanannya, Pak De melihat, Mas Gatot mendapatkan "sambutan yang tak terduga duga" dari kalangan "Islam politik" dan "Islam populis" pasca atraksi keberpihakannya kepada mereka dalam serangkaian aksi bela Islam beberapa waktu yang lalu. Pada mulanya saya menduga Mas Gatot dan Pak De berkonspirasi, Mas Gatot memang diminta untuk ambil posisi "seolah" membela suara umat, jadi jika ada keadaan berbalik, Pak De tetap punya orang yang ia bisa tetap percaya untuk mengelola dukungan dari kalangan tersebut, sambil melihat-lihat situasi untuk mengambil hati di kesempatan lain.

Namun, setelah saya susuri lebih lanjut, ternyata bukan begitu kenyataannya. Posisi panglima yang seperti itu adalah respons alaminya saja, yang pada mulanya pun dia tidak menyangka akan mendapat respons dukungan semacam itu. Terbukti memang, dengan posisi yang ia ambil tersebut, kondisi ambigu tercipta, dan kalangan umat merasa ada bagian di dalam pemerintahan yang mendukung mereka. Dan sejarah mencatat pada akhirnya itu menguntungkan Pak De, toh. Beliau tetap punya anchor di kalangan Islam.

Selanjutnya, mari kita menjadi Pak De. Sebagai seorang politikus ulung, lihai, dan cepat belajar. Sekarang Pak De sudah sangat holding power. Teman-teman sekalian berasa tidak sih, irama, langgam, bahasa politik, manuver, dan juga gaya Pak De itu udah beda banget dari satu dua tahun pemerintahannya. Di tahun ketiga ini, Pak De benar-benar sudah "Presiden banget". Auranya sudah kuat, dan dalam memainkan politik presidensial sudah sangat ciamik. Paparan pidato pidatonya sudah menggambarkan sebagai seorang presiden negara besar. Sudah tidak kita lihat lagi Pak De berpose agak "tidak biasa" dengan foto-foto lucu, yang oleh bagian sebagian haters-nya dibilang norak. Pak De sudah pindah kuadran. Bukan lagi mantan walikota yang jadi gubernur. Pak De seorang presiden sejati. 

Beliau sudah mahir, matang, dan terampil dengan vlog berkonsep, menuturkan pekerjaan yang sudah ia lakukan, sedang dan akan terus dia kerjakan. Sembari tetap hangat dan tak kehilangan sentuhan kedekatan dengan rakyat lewat "new kelompencapir" berhadiah sepeda dan iringan kendaraan presiden yang berhenti mendadak dan bagi bagi buku. Presidential style dapat, spirit rock and roll nan egaliter dan merakyat tak ketinggalan. 

Pak De tidak lagi berpose bersarung di ujung Indonesia yang sempat salah caption, tapi bervlog ria membelah jalanan trans-Papua, sembari esoknya mengajak vlogger kenamaan meninjau proyek infrastrukturnya yang menggila seantero Indonesia. Beliau tak lagi berpose masuk gorong-gorong dengan baju seragam, tapi sudah dengan jas gentleman lengkap ngevlog bareng Erdogan, Trudeau, dan Vloger kenamaan Cassie Nestat

Ia menjadi juru bicara atas dirinya sendiri menjelaskan pekerjaan adiluhung yang ia kerjakan. Terus bekerja. Namun aktivitas mengambil hati rakyat tetap dikerjakan. Pak De paham, hanya dengan bekerja dan menjaga ketulusannya dia bisa mengambil hati rakyat kebanyakan. Menempatkan dirinya dalam hati masyarakat sebanyak-banyaknya.

Namun demikian, ada satu yang mengganjal! Pak De merasa sebagian besar masyarakat yang berpretensi Islam politik, masih kurang menyukai beliau. Padahal dalam panggung-panggung internasionalnya, Pak De sangat membangga-banggakan kemoderatan Islam di Indonesia dan keselarasannya dengan demokrasi. Pak De terlihat sekali memutar kepala mendapatkan hati umat Islam ini.

Beberapa bulan terakhir saya perhatikan agenda presiden banyak menyisir pesantren pesantren dan bertemu simpul-simpul ulama. Presiden tak berhenti mendandani diri dengan sarungannya yang khas. Untuk mendapatkan "political traction" di kalangan ini. Jika ada di alam bawah sadar Pak De yang masih mengganjal adalah, persepsi yang muncul seolah-olah benar, beliau seolah-olah jauh dari kalangan Islam!. Padahal tidak demikian. Ibunya berhijab, beliau sudah berhaji dan seterusnya. Namun terus saja terpaan isu ini menimpa. Dan ini tidak mengenakkan.  

Dalam dua komposisi ini Pak De memerlukan jangkar di kalangan Islam politik yang sangat sulit ia taklukkan, dan seketika sejarah melempar Mas Gatot ada di posisi tersebut. 

Of-UYCGBep9e7ZZs4JA579Zxzxc_4_u4.jpg

Gatot yang Mengincar atau Jokowi yang Berminat?

Ada dua rumor yang beredar. Mas Gatot bermanuver, genit, mencari perhatian dengan terus membuat kontroversi menjelang pensiun Maret 2018, atas inisiatif sendiri, supaya dilirik oleh Pak De, atau sebaliknya, Pak De yang memerintahkan segala manuver Mas Gatot tersebut, untuk melakukan apa yang diistilahkan kalangan politik sebagai aksi "cek ombak"? Wong Mas Gatot Panglimanya kok, Pak De bisa suruh apa saja. 

Begini dari yang saya himpun. Ada dua lingkaran di seputar Pak De menyikapi Mas Gatot Nurmantyo. Lingkaran yang aktif dan lingkaran yang pasif. Lingkaran yang aktif memang memiliki pandangan yang cukup progresif, menganggap Mas Gatot bisa menjadi semacam kartu truf yang bisa dipakai dan diterima semua kalangan politik di 2019. Kelompok ini aktif memberi advis kepada Pak De untuk membiarkan saja semua manuver Mas Gatot di Publik. Sembari terus mengingatkan Mas Gatot, boleh manuver apa saja, asal lapor sama Bapak Presiden.

Dari mereka saya mendapat keterangan, katanya, semua langkah gatot itu dia melapor dulu pada presiden. Soal Film PKI, soal senjata, dan seterusnya. Dan itu semua tidak ada resistensi atau larangan dari Presiden. Kenapa kartu truf? Karena penerimaan kelompok Islam atas Gatot akan memudahkan Pak De memperlebar basis pemilihnya, bahkan bukan tidak mungkin membuat Pak De bisa mengulang sukses solonya dahulu yang mendapatkan 90 persen dukungan pemilih dalam periode kedua. Bukan tidak mungkin seluruh partai akan menerima kandidasi Gatot, termasuk Prabowo. Mas Gatot dikenal juga dekat dengan kosong delapan alias Prabowo Subianto, lingkaran ini menjadi Teman Mas Gatot di seputar Jokowi.

Lingkaran kedua, lingkaran yang pasif. Lingkaran ini simpati pada Mas Gatot, tapi bersifat pasif. Lebih kepada temannya Pak De yang akan memberi masukan ke Mas Gatot sesuai dengan mood Pak De seperti apa. Ini jaringan Solo. Bahkan dari informasi A1, Mas Gatot sudah melakukan silaturahim kepada Ibunda Pak De di Solo. Awalnya saya tidak percaya dengan informasi ini, ternyata benar. Ini di-arrange oleh "keluarga" Pak De. Namun ada dua versi pertemuan yang saya dapatkan. Dari sisi pendukung panglima, pertemuan ini katanya atas permintaan keluarga Pak De di Solo, Mas Gatot diminta untuk menjadi Wakilnya Pak De, dan disebut Ibunda Pak De kesengsem dengan Mas Gatot. Narasi pertama ini tampaknya menggambarkan Mas Gatot yang loyal. 

Namun, dari sisi yang tidak suka dengan aktivitas tersebut membuat versi yang berbeda, katanya pertemuan itu atas permitaan Mas Gatot, dan di sana Mas Gatot banyak bicara, Ibunda Pak De hanya banyak diam dan mendengar. Bahkan disebutkan Mas Gatot dengan polos menyatakan, siap bersedia mendampingi Pak De di 2019 jika diminta dan diperlukan. Narasi kedua ini lebih cenderung membuat cerita Mas Gatot yang ambisius. 

Dan situasi menyikapi mas Gatot pun terbelah di dalam keluarga Pak De, ada yang setuju dan simpatik, dan ada yang tidak suka dengan Mas Gatot. Maklumlah namanya juga fulitik

 

 

 

 

 

 

 

627 Views
Shendy Adam

Menarik. Tapi Jokowi tetap harus waspada. Ibaratnya Ia sedang memelihara anak macan, yang sewaktu-waktu bisa saja menerkam.  Nov 3, 2017

Write your answer View all answers to this question