selasar-loader

Apa pendapat Anda jika Jokowi berpasangan dengan Prabowo Subianto di 2019?

LINE it!
Answered Nov 03, 2017

Shendy Adam
Belajar Politik dan Pemerintahan di UGM (2004-2008)

1SizJ8_G4cmH5tLlQLZSfAILMp2m5bbI.jpg

Tak ada yang mustahil dalam politik. Pun demikian dengan kemungkinan Jokowi berpasangan dengan Prabowo. Meski kelihatan ada polarisasi yang demikian nyata, pada akhirnya hanya kepentingan yang abadi. Apalagi koalisi antara partai politik di Indonesia demikian cair, nyaris tanpa melihat kesamaan ideologi atau platform. Lalu bagaimana kalkulasinya?

Bagi Jokowi :

Jusuf Kalla sudah menyatakan tidak lagi ambil bagian di pilpres 2019, artinya Jokowi pasti akan mencari calon wakil yang lain. Kalaupun JK tidak mengumumkan hal tersebut, saya juga tidak yakin Jokowi tetap menggandeng politisi sepuh Golkar itu. Ada banyak tokoh yang bisa dipasangkan dengan Jokowi. 

Dari dalam kabinet kerja, nama-nama seperti Puan Maharani, Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti sempat mencuat. Puan meski merupakan 'puteri mahkota' dari PDIP, sepertinya kurang dilirik oleh Jokowi. Profil Puan memang tidak akan banyak membantu keterpilihan. SMI dan Susi justru lebih memiliki nilai jual. 

Selain para 'Srikandi' itu, ada juga nama Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Harus diakui, Gatot sejauh ini bisa mengambil hati kelompok pemilih muslim. Ia mengasosiasikan diri sebagai jenderal 'hijau' yang dekat dengan umat. Akan tetapi, tak ada jaminan kalau Gatot merapat ke Jokowi ia akan tetap mendapat dukungan. Daripada menggandeng Gatot, sekalian saja dengan Prabowo yang jelas memiliki dukungan luas dari haters Jokowi selama ini.

Bagi Prabowo :

Jika maju di Pilpres 2019, Prabowo akan menyamai catatan Jusuf Kalla sebagai orang yang tiga kali ikut kontestasi elektoral di Indonesia. Bedanya, torehan JK terbilang mentereng karena dua kali ia sukses menang sebagai wakil presiden (2004 dan 2014) dan satu kalah saat mencalonkan diri jadi presiden (2009). Sedangkan Prabowo dari dua kesempatan selalu kalah, baik saat jadi cawapres (2009) maupun capres (2014). Ia tentu tak sudi tercatat di MURI sebagai pemegang rekor tiga kali kalah di pilpres.

Dengan perhitungan seperti itu, nekat sekali kalau ia tetap maju sebagai capres di 2019. Pilpres 2019 juga sepertinya akan jadi kesempatan terakhir bagi Prabowo yang akan menginjak usia 68 tahun. Selalu mencitrakan diri sebagai seorang patriot sejati, akan mudah bagi dia menjelaskan mengapa rela menjadi cawapres Jokowi yaitu ingin berkontribusi lebih besar bagi negara dengan berada di lingkaran kekuasaan ketimbang terus di luar pemerintahan.

Kans Jokowi-Prabowo untuk menang terbilang besar mengingat sejauh ini belum ada nama lain yang tingkat keterpilihannya bisa menandingi mereka.

gambar via ramalanintelijen

 

511 Views
Write your answer View all answers to this question